azan isya akhirnya berkumang. Setitik bahagia mencerahkan wajahnya karena kau sebentar lagi akan pulang. Bukankah beberapa hari terakhir kau selalu muncul dibalik pintu beberapa saat setelah azan isya terdengar.
Segera dia beranjak menyiapkan makan malam untukmu. Sebisa mungkin dia gunakan bahan sayur mayur yang masih tersisa di dalam kulkas untuk menyiapkan makan malam spesial untukmu. Sang bayipun tak begitu dihiraukan rengekannya karena dia terlalu sibuk di dapur….

Nasi goreng spesial sudah jadi. Dia tutup rapat-rapat dalam wadah agar saat kau siap menyantapnya nasi gorengnya masih dalam keadaan panas.

Sejam berlalu, sebait tanya dalam sms terkirim ke dua nomor ponselmu. ”Pulang jam brapa?”
Tak ada jawaban… Cemas dia mengamati nasi gorengnya, apakah masih panas atau sudah dingin?

Dua jam berlalu dan tak ada tanda-tanda kedatanganmu. Puluhan motor yang lewat di depan rumah dan puluhan kali juga dia berharap yang datang itu adalah kau. Tapi bukan!!! Dan kaupun tak memberi kabar…

”Ya Allah, semoga suamiku baik-baik saja. Mudahkah urusannya…” Bahkan dibalik kekecewaannya pun dia masih sempat mengirimkan do’a untukmu…

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih berharap kau akan membalas smsnya dengan ”Sebentar lagi aku pulang” atau ”Aku sudah di jalan”. Tapi tak ada… Lagi-lagi tak ada. Sama ketika dia mengharapkan balasan sms beberapa hari yang lalu dan banyak hari-hari sebelumnya. Kau tak punya pulsa. Selalu itu yang menjadi alasanmu padahal tak masalah bukan meminta satu kali sms dari HP teman untuk menjawab sms yang sangat dinantikan balasannya.

Gemuruh itu hadir lagi dihatinya. Gemuruh yang sama saat kau tak merespon sms atau chatnya.

”Kau benar-benar tak peduli…” Batinnya…

Gerah menunggu balasan yang tak datang-datang. Dia memutuskan untuk menelponmu. Nomormu nyatanya tak bisa dihubungi…

”Sudahlah… Terserah mau pulang atau tidak!”

Diapun bergegas tidur bersama bayinya yang sudah lama terkantuk-kantuk. Sudah dari tadi dia ingin menidurkan bayinya namun dia masih berharap engkau pulang lebih cepat sehingga kau masih sempat bermain bersama si kecil sebelum dia tertidur. Walau hanya sebentar…

Si bayi sudah tertidur pulas. Sedang dia masih berusaha untuk tidur. Tidak mudah sebab terlalu banyak motor yang lalu lalang di depan rumahnya. Harapan itu selalu ada, bahwa kau yang datang….

Sejam kemudian kau benar-benar datang. Kau mengetuk dijendela kamar. Tapi dia memaksa dirinya untuk tidak peduli. Baginya kau sudah tidak pulang malam ini.

Berkali-kali kau mengetuk jendela dan memanggil-manggil dia. Dia tetap tak bergeming. Samar-samar dia mendengar adiknya membukakan pintu untukmu. Sampai kau masuk dan mendekatinya dia masih tak bergeming. Kau menggoyangkan kakinya untuk membangunkannya.

”Kenapa?”
”Bu, aku nginap diluar ya?”
”Ya!!”

Dan sepertinya kau tak puas dengan jawabannya. Jawaban seperti apa yang kau harapkan dari seseorang yang berjam-jam menantikan kedatanganmu, yang dalam penantiannya kau tak memberi kabar sedikitpun, tak menjawab sms. Lalu kau datang, sebersit legah mencuat didasar hatinya bahwa kau baik-baik saja. Belum juga dia menikmati kehadiranmu kaulagi-lagi ingin pergi.

”Ya pergi saja…” itu adalah respon keputus asaan yang dia yakin kau tak mengerti itu…

”Sudah makan, Bu?” Tanyamu tanpa rasa berdosa. Dia tak menjawab. Hanya diam seraya menutup wajah dengan lengan. Dan kau marah karenanya.

Jawaban seperti apa yang kau harapkan? Bahwa dia belum makan dan tidak mau makan karena makan malam yang dia buat hanya cukup untukmu…

Lagi-lagi kau marah. Desahan panjang selalu terlontar darimu ekspresi kekesalanmu. Selalu seperti itu sampai akhirnya dia tertidur…

Kaupun tertidur, memendam kesal.