Bila ada mentari yang menyapa pada pagi hari, aku selalu teringat padanya. sosok wanita yang begitu dekat dalam hidupku.

Dia yang mengajariku mengerti tentang hidup, pahit, dan manis. Ibuku bukanlah apa-apa, tak ada yang istimewa dari dirinya.

Dia bukanlah wanita modern yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia adalah potret penderitaan yang berkepanjangan.

Demi aku, apapun dia lakukan, mulai dari membanting tulang, memeras keringat, menguraikan air mata, baginya itu adalah hal biasa.

Hidup memang tak harus dimulai dengan tertawa, Nak. Saat kita pertama kali lahir ke duniapun, kita sudah menangis.” Katanya.

Hidup adalah harapan. Harapan yang selalu hadir. Seperti terbitnya mentari pagi.

(Dikutip dari Novel Surat dari Sang Maha Pencipta, Vanny Chrisma W)