Menepi di bibir pantai

Menikmati sapaan gelombang lautan, ramah

Tak pernah bosan bercengkrama dengannya

Karena ada dirimu di sana.”, katamu…

Kau seperti lautan

Itu selalu kau ucapkan

Biru, tenang, damai, namun tak jarang berombak.

Menggambarkan ketenanganmu,  sikap damaimu, ceriamu, juga amarahmu

Kau begitu indah juga menakutkan.Berkali-kali aku mati ditelan ombak-mu

Namun kuhidup kembali demi  sebuah kedamaian yang kurasa tiap kali menatapmu.

Laut itu adalah kamu”, bisikmu lagi…

Tapi kau lebih suka langit, bukan?” tanyaku

Kaupun menjawabnya dengan diam

Ada senyum yang tergambar diwajah teduhmu seraya menangkap makna birunya langit

Aku lebih suka langit, tapi aku tetap suka laut.

Kau tahu, langit dan lautan sedari dulu berkawan. Mereka sepakat bahwa mereka menyukai warna biru. Mereka sepakat bahwa mereka akan menjadi sesuatu yang paling indah di muka bumi.

Tapi tentunya langit lebih bersahaja dari lautan

Langit tetap bersahaja dengan birunya

Langit tetap bersahaja dengan mendungnya

Langit tetap bersahaja dengan cerahnya

Langit tetap bersahaja dengan tiap rasa yang ada di dalam hatinya

Meski sekali-kali dia harus menitikkan air mata dalam amarahnya, hujan…

Bukankah setiap amarahnya membawa rahmat??

Dan dia akan menjadi suci kembali

Kau bagaikan laut. Andai kau bisa bagai langit…

Aku tidak akan pernah menjadi langit. Karena kau sudah menjadi langit, biarlah aku tetap menjadi laut, bukankah langit dan laut telah bersepakat untuk selamanya berkawan?

Kaupun tersenyum menatap laut yang tak berujung, dan

Akupun tersenyum menatap langit yang tak berujung.

 Aku cinta langit, batinku…