Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa yang dimaksud bermain adalah berbuat sesuatu untuk menyenangkan hati (dengan menggunakan alat-alat tertentu atau tidak). Sementara yang dimaksud dengan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Nah, dalam konteks belajar pada anak, adakah yang membedakan antara bermain dan belajar? Secara sepintas, keduanya hampir sama dan sulit dipisahkan. Dunia anak adalah dunia bermain, belajarnya anak sebagian besar melalui permainan yang mereka lakukan. Sehingga, jika keduanya dipisahkan maka sama artinya dengan memisahkan anak-anak dari dunianya sendiri. Anak-anak akan menjadi terasing dalam lingkungan hidupnya.

Walaupun diantara keduanya tidak dapat dipisahkan, keduanya juga tidak bisa disatukan. Sekedar contoh, ketika anak sedang bermain, tanpa disadari, anak belajar keras untuk dapat memerankan dirinya dalam permainan tersebut. Sebaliknya, permainan bisa menjadi media untuk meningkatkan berbagai aspek kecerdasan anak. Bahkan, dengan permainan tingkat kesulitan tertentu, anak dituntut belajar (bermain) lebih serius untuk menyelesaikannya. Anak-anak sangat serius bermain, sebagaimana seriusnya orang dewasa belajar fisika, misalnya.

Demikian pula dengan yang terjadi dalam pola belajar anak usia dini. Dalam pelajaran pada tingkat kesulitan tertentu (berhitung, misanya), anak bisa dengan mudah menguasai pelajaran tersebut justru dengan bantuan alat permainan, jarimatika, misalnya. Dengan demikian, antara belajar dan bermain merupakan dua hal yang saling melengkapi satu sama lain. Bermain dapat membuat anak belajar dengan senang, dan dengan belajar melalui bermain anak dapat menguasai pelajaran yang lebih menantang.

Tetapi, yang terjadi di masyarakat tidak demikian. Masih banyak orang tua yang melarang anak-anaknya bermain dengan alasan mengerjakan tugas sekolah atau belajar. Bahkan, orang tua tidak segan-segan memarahi anaknya jika bermain terlalu lama. Sebaliknya, di kalangan masyarakat yang telah maju, bermain justru menjadi kebutuhan. Sayangnya, permainan yang telah menghabiskan waktu anak-anak banyak yang bersifat non-edukatif daripada permainan yang edukatif. Terjadi kontradiksi antara bermain dan belajar.

Karena merasa kesulitan untuk memadukan keduanya, maka sebagian besar psikolog mengusulkan adanya konsep belajar sambil bermain, ada pula yang menyebutnya bermain sambil belajar atau belajar bermain. Sebenarnarnya maksudnya sama, yaitu anak boleh bermain, tetapi tidak meninggalkan tugasnya untuk belajar. Demikian pula sebaliknya, anak bisa belajar tanpa mengorbankan kesempatan bermainnya.

Apapun alasannya, dan bagaimana pun cara bermain anak-anak, harus lebih mengedepankan belajar. Artinya, bermain untuk belajar, bukan bermain untuk mainan itu sendiri. Dengan kata lain, bermain untuk belajar, bukan belajar untuk bermain, dan juga bukan bermain hanya untuk main-main. Sehingga, kita bisa memilih dan memilah mana permainan yang dapat mencerdaskan anak, dan mana permainan yang justru merusak karakter anak-anak seperti permainan kartu Naruto misalnya, smack down, dan bentuk-bentuk permainan sejenis lainnya.

Belajar sambil bermain

Belajar sambil bermain. Inilah bentuk atau pola hubungan yang paling ideal antara belajar dan bermain. Walaupun demikian, sesungguhnya kata “sambil” sebagai tanda hubung dalam kalimat “belajar sambil bermain” kurang tepat, sebab kata ini mencerminkan tindakan atau aktivitas yang kurang sungguh-sungguh, padahal anak-anak bermain dengan sungguh-sungguh atau sungguh-sungguh bermain.

Ketika anak sedang bermain, sesungguhnya mereka sedang belajar. Menurut Montessori, ketika anak sedang bermain, anak akan menyerap segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Anak yang bermain sebenarnya telah menyerap berbagai hal baru yang ada di sekitarnya. Proses penyerapan inilah yang disebut Montessori sebagai belajar.

Di sinilah pentingnya orang tua dan guru memilih dan menentukan jenis permainan yang cocok dengan perkembangan anak. Pemilihan dan penentuan jenis permainan ini sama persis dengan pemilihan materi pelajaran oleh guru yang sesuai dengan perkembangan peserta didik. Pemilihan jenis permainan yang sesuai dengan perkembangan anak ini perlu dilakukan agar pesan edukatif dalam setiap permainan dapat ditangkap anak dengan mudah dan menyenangkan. Juka antara jenis permainan tidak sesuai dengan perkembangan anak, maka yang terjadi adalah bermain hanya untuk bermain itu sendiri, bahkan akan berdampak buruk bagi pembentukan karakter dan kecerdasannya. Sebaliknya, pemilihan permainan yang selaras dengan perkembangan anak akan mengembangkan aspek kecerdasan tertentu, sehingga kesannya bermain untuk belajar dan bukan bermain untuk mainan itu sendiri.

Tekanan pada belajar sambil bermain adalah lebih mengutamakan belajar daripada permainan. Bermain hanya sebatas sarana, bukan sebagai tujuan. Permainannya bisa dalam bentuk apa saja, boleh menggunakan alat maupun tidak. Hal yang terpenting adalah belajar bermain mainan baru. Ketika anak belajar Calistung, misalnya, maka guru dan orang tua boleh menggunakan metode permainan apa saja yang masih berkaitan.

Bermain sambil belajar

Bagaimana dengan bermain sambil belajar? Hal ini merupakan kebalikan dari belajar sambil bermain, sebagaimana dikemukakan di atas. Jika belajar sambil bermain lebih menekankan pada pelajarannya, maka bermain sambil belajar lebih menekankan pada jenis permainannya.

Ada jenis-jenis permainan tertentu yang lebih cocok bahkan didesain secara khusus untuk mempermudah anak dalam belajar pelajaran tertentu. Permainan memang dimaksud bukan sebagai permainan semata, melainkan permainan yang dapat menstimulasi minat belajar anak. Banyak sekali jenis permainan model ini, seperti permainan yang khusus mengembangkan keterampilan motorik kasar dan halus, permainan khusus mengembangkan bahasa anak, permainan khusus mengembangkan sosial emosional anak, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, kepiawaian seorang guru dan orang tua dalam memilihkan jenis permainan tidak boleh ditawar-tawar lagi.

Jika anak mampu memainkan jenis permainan tertentu secara sempurna, maka anak tersebut bisa dikatakan berhasil dalam bermain sambil belajar. Artinya, anak mampu menguasai mata pelajaran tertentu melalui permainan khusus tersebut. Sekadar contoh, permainan lompat untuk mengembangkan keterampilan motorik kasar anak. Jenis permainan ini memang sengaja dirancang secara khusus untuk menumbuhkembangkan motorik kasar anak. Untuk lebih jelasnya, berikut saya kemukakan secara detail bagaimana cara memaninkannya.

Pertama-tama, ajaklah anak-anak menuju lapangan atau tanah datar yang kosong. Buatlah garis lurus diatas lapangan tersebut, minimal sepanjang 10 meter. Selanjutnya, mintalah anak-anak untuk berjalan lurus di atas garis tersebut tanpa bantuan alat apapun dan siapapun. Jika anak-anak mampu berjalan lurus dengan nyaman di atas garis tersbeut, tingkatkan pada permainan yang lebih menantang, misalnya dengan mengubah garis lurus menjadi zigzag, lengkung atau berkelok-kelok. Pastikan anak-anak mampu melintasi medan atau garis lintas itu, apapun bentuknya. Setelah anak-anak mampu berjalan dengan nyaman di berbagai medan lintasan atau garis, maka latihlah dia untuk melakukan gerakan melompat, melonccat, menghindar, dan gerakan-gerakan cepat lainnya.

Sumber:

Suyadi. 2009. Permainan edukatif yang mencerdaskan. Jogjakarta: Power Books.