Tertatih dia melangkah. berputar ke sana-kemari tak tentu arah dan tak tahu tujuan. Setiap hari hanya penat yang dia rasakan, penat yang setiap hari selalu terakumulasi yang ujung-ujungnya melahirkan satu kalimat “Aku ingin Pulang”.

Setelah waktu membawanya ke bulan ketiga perjalanannya di SEkolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI) waktu itu seolah memudarkan bahkan menenggelamkan visi-misinya dan memakan habis motivasinya. Tak tersisa sedikitpun. Dia berjalan bukan dengan energi motivasi tapi berjalan dengan sisa-sisa energi pertanggung jawaban atas janji dan komitment yang pernah dia ikrarkan sebelum berpijak di tanah SGEI.

Jenuh, bosan, adalah muntahannya setiap hari. Dia ke sekolah hanya berbekal sisa-sisa energi yang masih bertahan karena senyuman siswa-siswanya, yang masih melekat di dadanya karena harapan-harapan dan keceriaan siswanya. Dia pun tersenyum meski tidak setulus senyumnya yang dulu…. Dia tertawa meski tidak serenyah tawanya beberapa waktu yang lalu. Dia bahkan kini lebih sering menangis, menangisi motivasinya yang telah mati. Menangisi komitmennya yang telah terkoyak dan tercabik-cabik oleh waktu.

Dia seolah-olah seperti dedaunan kering di musim gugur. Kapan saja bisa terlepas dari tangkainya kemudian dibawa jauh oleh lincahnya angin, daun kering itu  terbang kesana kemari tak tahu arah. Terus terhempas sampai angin mengikisnya habis dan ulat menyantapnya tak tersisa….

Aku ingin pulang…

Kalimat itu bagaikan pinta yang memilukan, selalu dan selalu dia muntahkan dari mulutnya yang terkatup rapat. Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar keinginannya untuk melepaskan pijakannya dari jalan yang kini dilaluinya. Setiap hari dia mencoba untuk mengais sisa-sisa komitment yang sudah basi, setiap hari dia mencoba untuk menggali lubang motivasi yang sudah tertimbun, setiap hari dia mencoba mengumpulkan alasan-alasan segar untuk bertahan tapi tetap saja dia muntah dengan pedih. Aku ingin pulang…

Setia hari seperti itu…

Hidup bagai daun kering di musim gugur…

Sampai hari ini tiba, mungkin ini petanda musim semi akan tiba. Musim semi itu dibawa oleh pria yang semasa kuliahnya dia memenggilnya Ayahanda (Rektor Universitas Negeri Makassar). Datangnya adalah kunjungan pertama baginya, meski sebenarnya kedatangan sang ayahanda bukan untuk dirinya tetapi untuk tujuan yang menurutnya tidak begitu penting dia ketahui.

Dengan semangat dia berlari di koridor, menuruni tangga seraya meloncat-loncat dan tertawa kecil. Hey, seberapa penting kedatangan pria itu? Dia juga tidak tau seberapa penting hanya saja ada sesuatu yang lain yang dia rasakan, dan perasaan itu tidak boleh dia abaikan. Ayah…. katanya ketika dia berdiri tepat di depan pria itu sambil menangkupkan kedua tangannya di dada. Dia terus berjalan mengekor pria itu sampai ke ruang kuliah SGEI. Dengan cepat dia mengambil posisi duduk tepat di belakang pria itu, dia begitu berhasrat…

Dengan khusyu dia menikmati prosesi penyambutan pria yang dia panggil ayah… Dia menyimak dengan baik setiap kata yang meluncur disetiap tanya dan pernyataannya.

Di penghujung perjumpaan dalam ruang kuliah itu, sang ayahpun berdiri dari duduknya. Mengucap salam keselamatan untuk kami semua dan menyampaikan apresiasinya kepada LPI-DD dan perasaan bangganya kepada mahasiswa SGEI.

“Nusantara kita terlalu besar untuk bisa diperbaiki, butuh banyak orang dan waktu yang lama untuk mengubahnya. Butuh usaha yang luar biasa… Saya bangga kepada pemuda yang mengikuti SGEI ini dengan segala konsekuensi yang harus dijalani. Ingatlah, sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang rela mengorbankan dirinya sendiri demi kebaikan orang lain”

Sang Ayah mengakhiri pembicaraan dan menyisakan tangis di hatinya. Sederhana memang apa yang terucap dari mulut sang ayah namun kata-kata itu bagaikan cangkul yang menggali motivasinya yang sudah tertimbun. Kata-kata sang ayah mampu membawanya kembali ke masa lalu, masa dimana dia mengucap ikrar sepenuh hati bahwa SGEI adalah jalan pengabdiannya kepada nusa dan bangsa juga kepada Ilahi. Sepotong kisah kemudian menjuntai di depan matanya tentang masa di mana komitmennya dipertanyakan, dia menjawab dengan pasti; “Aku tidak akan mundur karena aku membawa sebuah visi dan misi”.

Dia menangis, dengan air mata yang tak seorangpun bisa saksikan karena sesungguhnya yang menangis adalah hatinya. Hati yang sekian lama terpisah dengan motivasi, hati yang sekian lama tertutupi oleh kejenuhan yang menggila. Lirih dalam hati dia berucap; terima kasih Tuhan telah Engkau kirim seseorang untuk mengembalikan hatiku yang hilang. Leburkanlah semua jenuh dan penat di hati yang sedang sakit ini, sembuhkanlah…. kembalikanlah ruhnya. Ruh yang senantiasa merindukan kesejahteraan bagi nusa dan bangsaku. Aku tidak akan mundur…!!!”