Angin berhembus sepoi-sepoi

membuat dedaunan pohon-pohon rindang yang berjejer mengitari istana kecilnya menari indah, meliuk dengan gemulai, Meski dia tak paham arti tarian dedaunan itu namun dia yakin ada bahasa-bahasa yang terlontar di setiap gerakannya.

mungkin bahasa kebahagiaan, bahasa keceriaan menyambut terpaan pesan yang dibawa angin.

Mata perpempuan itu sekali-sekali berkedip mengamati dedaunan yang masih belum lelah menari, yaa mungkin tidak akan pernah lelah selama ranting dan batangnya masi setia untuk menjadi penopang disetiap tariannya…

dia menyandarkan badan di dinding kokoh istana kecilnya, bersama dengan dedaunan menikmati terpaaan angin yang membawa sedikit kesejukan di bawah sengatan sang mentari. kemudian dia tatap lekat sang mentari meskipun dengan mata yang dipicingkan, cahaya… dengan cahaya itulah dia mampu menyaksikan alam semesta yang sempurna penciptaannya, dengan cahaya itulah dia mampu menatap wajah kedua orang tuanya, dengan cahaya itulah dia mampu menyaksikan gelak tawa orang-orang terkasihnya….

cahaya…

nur…

terpancar keluar dari sang mentari, sejak penciptaannya sampai kini tetap setia memanjatkan dzikir dan tasbih ke pada Sang Pemilik Hak Puji-pujian, yang Maha Bercahaya…

semua setia….

bumi masih setia untuk menopang manusia dan seluruh isinya. rembulan masih setia bersinar dengan lembutnya di malam hari, udara masih setia menjadi sahabat karib dari setiap desah napas jiwa-jiwa yang bernyawa. semua masih setia kepada sang pencipta, kepada

Yang Maha Penopang…

Yang Maha Lembut…

Yang Maha Hidup…

Semua masih setia, seperti setianya burung bertasbih di setiap kepak sayapnya, setianya air bertasbih seraya mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah, bahkan setianya burung gagak bertasbih disetiap bangkai-bangkai yang dilahapnya.

Sejatinya, semua tunduk dan patuh pada Sang Maha Raja, sayangnya tidak semua jiwa menyadari hal itu. masih ada jiwa yang sombong dan angkuh menyangka hidup karena jasa udara, menyangka cahaya datangnya dari sang mentari, berpendapat manusia masih tegak berdiri di bumi karena bumi secara alami masih setia pada porosnya, merasa kelembutan pancaran sang rembulan. hanya sedikit yang menyadari bahwa semua gerak-gerik alam semesta bermuara pada satu kehendak yaitu kehendak Raja Langit dan Bumi.

“Sungguh bukan matamu yang buta, melainkan hati yang ada di dalam dada”