Siang itu dia terdiam, tertegun lama… berdiri bersandar di pagar tembok rumah orang yang tidak dikenalinya. Dia masih menggenggam HP nya, dia baru saja berbicara dengan suara yang keluar dari HP itu. Seseorang baru saja menelponnya, menanyakan kabarnya dan sedikit “memaki” (bukan dalam arti yang sebenarnya).

Tidak ada yang salah dengan percakapannya siang itu dengan orang itu. Hanya saja ada beberapa kalimat yang terkesan mengiris-iris identitas dirinya. Dia lagi-lagi meragukan SIAPA DIRINYA !!??

Itulah pertanyaan paling berat untuk dia jawab. Siapa dirinya dan seperti apa dirinya. Bukan karena dia tidak mengenal dirinya. Dia sangat mengenal dirinya lebih dari siapapun (tidak ada orang lain yang mampu melihat dirinya secara utuh) oleh karena itu dia merasa bahwa dirinya semakin tidak berdiri pada satu identitas.

Misterius-Aneh !!!

Dua kata itulah yang orang-orang suka gunakan untuk menggambarkan dirinya. Pernah dalam satu forum, dia berbicara dengan sedikit terkesan bercanda, dia bertanya kepada hampir 30 puluh orang yang ada dalam forum tersebut yang menuliskan dalam lembaran penggambaran dirinya bahwa dirinya ANEH dan MISTERIUS. “Teman-teman, apakah aku memang seaneh dan semisterius itu? Kok sampai-sampai hampir semuanya menuliskan hal yang sama?”

Forum menjawab dengan TERTAWA. Diam, dia merespon tawa itu. “Menyebalkan” Batinnya…

Malam harinya, dia menanyakan ke beberapa temannya yang sempat bercengkrama dengannya melalui media Chat Box Facebook tentang peristiwa dimana hampir semua orang dalam satu forum menggambarkan dirinya dengan dua kata itu, juga dengan orang-orang lain yang secara i ndividu menyatakan hal yang sama. “Aku juga ingin mengatakan hal yang sama. Kamu Misterius juga aneh…” Yaa, akhirnya dia pasrah. Mungkin dia memang misterius dan juga aneh.

Tepuk tangan yang meriah membubarkan lamunannya. Dia tertarik dari autismenya dan kembali menjadi sosialis. Dia berjalan ke gedung tempat berlangsungnya pelatihan yang dia hadiri hari itu, dia kembali bergabung dengan teman-temannya. Tapi dengan kerutan-kerutan di keningnya seperti tumpukan lipatan baju. Lamunannya tadi sudah mengoyak moodnya. Diakhir acara pelatihan itu, para peserta saling bersalam-salaman dan bertukar no.Hp juga bercengkrama ria, kecuali dia. Dia membereskan barang-barangnya dan ingin segera beranjak dari kerumunan orang-orang….

Dia tiba-tiba merasa muak dengan keramahan yang dia saksikan.

Kepalanya mulai sakit, lehernya dan bahunya tegang. Dia ingin segera sampai di asrama kemudian tidur dan melupakan segalanya. Seperti itulah caranya melawan pergolakan jiwanya setiap kali mempertanyakan identitas dirinya. Dia tahu dengan jelas SIAPA DIA, DARI MANA DIA BERASAL, DAN AKAN KE MANA. Dia sangat tahu jawabannya… tapi ada pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana yang tidak bisa dia jawab? Apa yang kau sukai? Apa yang tidak kau sukai? Apakah kamu baik hati? Apakah kamu jahat? Apakah kamu suka berteman? Apakah kamu bisa menjadi teman yang baik? dan masih banyak lagi.

Yang dia tahu, dirinyalah orang yang paling berbelas kasih di dunia. Dirinyalah orang yang paling cinta damai di dunia. Dirinyalah teman yang paling setia. Dirinyalah orang yang paling rela berkorban. Tapi, di sisi lain, tidak jarang dia mendapati dirinya menjadi seorang yang paling keji, paling jahat, paling egois, paling keras kepala, paling suka memperburuk keadaan, dan khianat. Tidak jarang dia menganggap pertemanan tiada gunanya. Dia lebih menikmati dunianya dalam kesendirian. Meski sendiri itu baginya memilukan…

Dalam sekejap dia mampu menarik simpati semua orang. Dia mampu membuat orang-orang yang baru dikenalnya menjadi sayang kepadanya, menjadi peduli kepadanya, dan memanjakannya. Tapi dalam sekejap dia merasa muak dengan semua itu, kemudian secepat angin menjauh dan menolak semunya kecuali kebencian.

Lagi-lagi dia bertanya “Apa yang ku inginkan???”

Seorang pria yang mencintainya menjawab “Aku juga tidak mengerti apa yang kamu inginkan. Jujur, aku tidak pernah bisa memahamimu.” Dia tersenyum pahit kemudian menjawab “Hanua Tuhan yang mampu memahami seperti apa diriku dan apa yang kuinginkan. Janganlah terlalu memaksa untuk memahamiku karena dirikupun tidak mampu memahami diriku yang sebenarnya.”

Ahh… mengapa di saat seperti ini dia memikirkannya. Memikirkan pria yang menurutnya dia cintai dan tidak dia cintai. Mungkin pria itu seperti yang dia katakan, tidak pernah mampu memahami siapa dirinya, namun entah kenapa pria itu tetap mencintai dirinya, meski tak sedikit luka yang dia torehkan di hati pria itu. Pria itu selalu menanyakan mengapa dia bersedia menjadikan dirinya sebagai orang yang istimewa, dan sampai hari ini pun dia tidak pernah menjawab. Tidak ada alasan yang khusus, dia hanya merasa bahwa hanya pria itu yang bisa meredam arogansinya. Dia sejek kecil telah dihadiahi kebebasan hidup oleh orangtuanya. Dia bebas memutuskan apa saja, tidak ada yang mengatur dan tidak ada yang bisa mengatur. Ya, dunianya ada pada genggamannya. Dia bebas….

Namun b eranjak dewasa, dia mulai merasakan bahwa kebebasan yang dihadiahkan untuknya sejak dirinya masih kanak-kanak ternyata membuatnya SENGSARA. Dunia ini begitu rumit… dunia ini begitu berliku… dunia terlalu kompleks untuk bisa dia taklukkan seorang diri. Tidakkah orang-orang mengerti bahwa sejak dirinya kanak-kanak dirinya tertatih mengikuti perputaran dunia.

Berjuang sendiri…

Terjatuh sendiri…

Terhina sendiri…

Menangis sendiri…

Mungkin akan sendiri dalam menghadapi kematian !!!

Kebebasannya jugalah yang merenggut empatinya. Merenggut Kepekaannya. Kepada seorang yang datang kepadanya membawa keluhan hidup dia selalu berkata “Hei, masalahmu tidak seberapa. Harusnya kau bisa melewatinya. Selama ini aku sendiri menghadapi semua masalah yang tidak pernah terucap, ada juga masalah yang membuatku hampir mati karena tercekik penderitaan namun aku bisa melewatinya seorang diri. Jangan cengeng !!!” Itu semua dia ucapkan dalam hati… bagaimana pun dia masih punya nurani untuk tidak menambah derita orang-orang yang memuntahkan keluhan kepadanya. Muntahkanlah semua sampai engkau merasa lapang. Muntahkanlah semua selagi engkau punya kesempatan dan hak untuk memuntahkannya. Jangan seperti diriku. Dunia ada di bahuku, itu sangat berat dan aku tidak boleh dan tidak punya waktu mengeluh. Hanya kasur dan bantal-bantal serta barang-barang seisi kamarnya yang tahu bagaimana dia terkapar dalam bungkusan selimut, diam tapi berlinang air mata. Begitu saja sampai dia tertidur. Ketika terbangun dengan mata bengkak, tidak seorangpun yang berani menanyakan ada apa dengannya, kenapa matanya bengkak karena dia akan memasang ekspresi robot, kaku dan seolah tidak membutuhkan pertanyaan dan pernyataan sok peduli…!!!

Aku bebas !!! Bebas untuk MENDERITA…!!!

Kebebasan yang membuatnya lebih banyak DIAM. Kebebasan yang membuatnya lebih suka menyendiri, kebebasan yang membuatnya semena-mena, kebebasan yang membuatnya kuat dan rapuh. Kebebasan yang membuatnya diam-diam menangis tanpa air mata. Kebebasan yang membuatnya tertawa terbahak kemudian merasa muak. Kebebasan yang membuatnya tidak pernah merasa kehilangan, pun dengan kematian orang terdekatnya.

Kebebasan yang membuatnya memutuskan sesuatu yang bertentangan dengan nuraninya. Kebebasan yang membuatnya menempuh jalan untuk menantang jiwanya sejauh mana ia mampu bertahan. Kebebasan yang membuat orang-orang disekitarnya bingung…

Kebebasan yang membuatnya mengecilkan arti kasih sayang dan cinta. Kebebasan yang membuatnya menghina persahabatan dan kesetiaan. Baginya, itu semua hanyalah fantasi dan terlalu rumit untuk diwujudkan dalam dunia yang ada digenggamannya. Dunianya terlalu rumit dan melelahkan, sudah tidak ada ruang bagi KESETIAAN MENYAYANGI DAN MENCINTAI. Baginya, hubungan hanya sebatas takdir yang menyatukan dalam dimensi ruang dan waktu secara kebetulan. Akan ada saatnya ruang dan waktu juga yang akan memisahkan, dan saat itu tiba pergilah kalian semua seperti dia akan pergi tanpa berpaling…!!!