di sepanjang koridor

kumenikmati pemandangannya yang buruk, sendiri…

seolah malam yang sepi ini menjadi panggung dramaku

aku sutradara, aku pemain, juga penonton

ku berdiri di satu titik

titik yang dikelilingi panggung drama banyak orang

drama mu, drama dia, drama kita, drama  mereka…

kulemparkan pandanganku

mengelilingi panggung-panggung drama itu

ada satu panggung yang sepi tanpa cahaya

ada seorang “pria tua” yang kusaksikan sedang berlakon

sendiri, dengan khusyu bersama air matanya

dia berlakon tentang sebuah pemaafan, tentang sebuah pengampunan

dia berlakon tentang penyesalan, tentang kekecewaan

sebatas potret saja, kusaksikan air jatuh satu-satu dari pelupuk matanya yang sudah tua dengan beban hidup

dulu dia masih bisa tertawa

masih bisa tersenyum menyepelekan atau mencibir skenarionya

tapi hari ini dia berkata Tuhan, kembalikan senyumanku….

Apakah senyuman itu benar-benar telah pergi? Ke mana perginya senyummu duhai engkau “Pria Tua” ?

entah skenario apa yang telah dia lakonkan…

Satu hal yang pasti duhai “Pria Tua”

Senyummu itu bukan Tuhan yang merebutnya

bukan Tuhan yang menyembunyikannya

Coba lihatlah ke dalam dirimu

intiplah ke sudut panggung hatimu

mungkin saja senyum itu terselip di sana, bersembunyi….

takut menghadapi realita…

Tegarlah maka dengan sendirinya senyumanmu akan kembali !!!