Duniaku dalam asramaku diguyur hujan berkali-kali pagi ini…

menemani diamku di pembaringan. Berharap mata terpejam untuk membayar aktivitas begadang tadi malam. Tiba-tiba hp ku berbunyi, sebuah sms

“bu kita dari kelas 5b, ingin main ke rumah ibu. boleh tidak”

Aku membaca sekilas dan tidak begitu memperhatikan isi sms itu, mungkin aku kembali dalam kondisi ambang antara sadar dengan tertidur. Kemudian hp ku bunyi lagi, petanda ada sms baru..

“Bu, balas dong, kita dari kelas 5b. Tolong ya bu dibalas”

Kesadaranku menyatu kembali dan kubaca baik-baik sms itu. Ah.. siswa-siswaku. Cepat ku balas “Iya nak, boleh…” berselang beberapa menit kemudian sms berikutnya menyusul “Bu, ada d rumah kita udah nyampe di LPI kita tinggal menyeberang” Seperti itulah isi pesannya dengan penulisan yang tidak memperdulikan tanda baca.

Belum juga kuletakkan hp ku, aku mendengar namaku dipanggil “Bu Makkita, ada siswa ibu yang mencari ibu tuh…” Terang rekan kuliahku di SGEI.

Buru-buru aku bangkit dan menyambar jilbab untuk menemui mereka. Aku terkejut mereka datang bersebelas mulai dari kelas 4-kelas 6. Memamerkan gigi-gigi mereka yang kecil ketika melihatku…

Mereka berhamburan menyalamiku.

Kami menghabiskan waktu kebersamaan kami dengan bermain petak umpet, kejar-kejaran, main buaya-buaya, dan lomba lari. Sebelum bermain, aku mengajak mereka berkeliling gedung LPI, mulai dari ruang kuliah SGEI, asrama siswa SMART, tempat makan, kantor-kantor, perpustakaan, lab komputer, serta kelas-kelas SMART. Meraka juga mengamati hasil karya siswa SMART yang dipajang di hampir setiap sisi gedung LPI juga degan piala-piala yang berhasil disabet oleh mereka.

Sesekali berdecak kagum dan berandai-andai, berharap kelak sekolahnya bisa seindah SMART… ku hanya bisa mengaminkan dalam hati.

Setelah lelah berkeliling dan bermain, kami berkumpul di teras paviliun berdiri bersandar pada terali teras melihat ke bawah, melihat ke depan, melihat ke atas. Dalam diam kami menikmati pemandangan LPI dan menghirup udara yang segar karena sisa-siswa hawa hujan..

Kutanyakan tempat tinggal mereka, dengan apa mereka ke sekolah, sampai hari ulang tahun mereka.

Ajay (siswa kelas V) yang bernama lengkap Azhar kemudian membuatku terkejut dengan pernyataannya. “Bu, kami sayang ibu” Katanya dan disambut anggukan dari  Fahmi  (siswa kelas IV), Syahrul (Siswa kelas VI). “Iya buu…..” Sahut siswaku yang lain……………..

“Ibu juga sayang dengan kalian..” Balasku

Kami terdiam sejenak memandangi lahan yang kosong di depan lagi yang sebentar lagi akan dibangun perpustakaan berlantai tiga di sana… “Mungkin ibu gak dapat perpustakannya selsai” Kataku lirih..

“Loh kenapa bu”

“Ibu kan cuma sampai bulan lima di sini. Setelah itu ibu akan dikirim ke daerah lain untuk mengajar di sana”

“Haa, jadi ibu dah gak mengajar lagi di Jampang 4?

“Iya nak…..”

“Lo, kok gitu sih. Gak mau, belajar sama ibu asyik…”

“Heehe, setelah ibu pergi akan ada guru baru lagi nak…”

“Gak mau, gak mau, gak mau. Gak asyik, guru yang lain gak asyik…” Jawab salah seorang diantara mereka sambil menatap tajam ke depan

“Iya bu, gimana kalau nanti yang menggantikan ibu, nakal…”

“Hehehe, gak akan kok. Pasti guru pengganti ibu juga baik, atau mungkin lebih baik dari ibu…”

“Yaa ibu…… ulang tahunku tanggal 13 Mei. Semoga ibu masih ada”

“Iya bu, sebelum ibu pergi kita nginap bareng ya bu, ya..”

“Sambil tukar-tukar kado”

Haaa… siswaku. Kalian makin menyadarkan aku bahwa perpisahan dengan kalian akan menjadi peristiwa yang menyakitkan bagiku nanti.

“Belum pisah kita dah jad sedih begini, gimana klo dah pisah beneran bu…?” Gumam Sherli (Siswa kelas V)

“Duh jangan gitu dong. Doakan ibu aja, setelah setahun di tempat lain ibu bisa kembali ke Jampang 4 untuk ngajar kalian..”Hiburku. Mereka serentak meng-aminkan………………

Perbincangan dari hati ke hati terjalin cukup lama dengan pandangan tertuju ke udara di depan kami. Mungkin tak ada yang sanggup saling menatap, takut kesedihan yang tersurat di wajah-wajah mereka menjadi lebih jelas lagi. Sampai kemudian mereka harus pergi. Mereka menyalamiku satu-satu dan kusambut dengan perasaan sedih bercampur haru. Setiap jabatan tanganku dengan mereka ku selipkan do’a semoga sejahtera selalu, semoga dalam bimbingan Ilahi, semoga yang terbaik untuk kalian