Tags

, , , ,

Disleksia terjadi pada 5 sampai 10 persen dari sejumlah anak di dunia. Gangguan belajar jenis ini pertama kali ditemukan pada akhir abad sembilan belas, ketika itu ia disebut dengan istilah “word blindness” atau buta huruf. Data yang cukup dipercaya sampai saat ini menunjukkan bahwa penyebab disleksia adalah faktor genetis, yaitu diturunkan oleh salah satu atau kedua orangtua anak yang menderitanya. Bukti ini didapatkan dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap anak kembar identik. Apabila salah satu dari anak kembar tersebut diketahui menderita disleksia maka kemungkinan saudara kembarnya mengidap jenis gangguan belajar ini bisa mencapai 85 sampai 100 persen. Penelitian-penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa disleksia memiliki keterkaitan dengan hubungan keluarga atau pertalian darah. Apabila seorang anak menderita disleksia, ada kemungkinan sekitar 40 persen saudaya kandungnya juga mengalami kondisi yang sama. Begitu juga ketika salah satu orangtua mengalami masalah disleksia, terdapat kemungkinan antara 25  sapai 50 persen bagi mereka untuk mewariskan gangguan belajar tersebut kepada anak-anaknya.

Beberapa peneliti berhasil menemukan bahwa disleksia cenderung dialami oleh anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan; sementara peneliti lainnya berkeyakinan bahwa antara disleksia pada anak laki-laki dan perempuan secara kasar sama.

Tanda-tanda disleksia tidaklah terlalu sulit dikenali apabila para orangtua dan guru memperhatikan mereka secara cermat. Misalnya, apabila Anda memberikan sebuah buku yang tidak akrab kepada seorang anak yang menderita disleksia, ia mungkin akan membuat cerita berdasarkan gambar-gambar yang ada di buku tersebut yang mana antara gambar dan ceritanya tidak memiliki kaitan. Disleksia akan diketahui setelah Anda meminta anak tersebut untuk memfokuskan perhatiannya pada kata-kata dan membacanya dengan suara keras lalu Anda memintanya untuk menceritakan ulang atas teks-teks yang telah ia baca. Apabila ia tidak bisa melakukannya dan malah bercerita berdasarkan interpretasinya atas gambar-gambar yang ada di buku tersebut, ia kemungkinan besar mengalami disleksia.

Ketika Anda meminta anak tersebut memperhatikan kata-kata dan mengucapkannya, kekurangan anak dalam membaca akan mulai terlihat. Anak dengan disleksia akan menunjukkan tanda-tanda berikut ini:

  1. Membaca dengan amat lamban dan terkesan tidak yakin atas apa yang ia ucapkan;
  2. Menggunakan jarinya untuk mengikuti pandangan matanya yang beranjak dari satu teks ke teks berikutnya;
  3. melewatkan beberapa suku kata, kata, frasa, atau bahkan baris-baris dalam teks;
  4. Menambahkan kata-kata atau frasa-frasa yang tidak ada dalam teks yang dibaca;
  5. Membolak-balikkan susunan huruf atau suku kata dengan memasukkan huruf-huruf lain;
  6. Salah melafalkan kata-kata yang sedang ia baca, walaupun kata-kata tersebut sudah akrab;
  7. Mengganti satu kata dengan kata lainnya, sekalipun kata yang diganti tidak memiliki arti yang penting dalam teks yang dibaca;
  8. Membuat kata-kata sendiri yang tidak memiliki arti;
  9. Mengabaikan tanda-tanda baca.

Ketika belajar menulis, anak-anak disleksia ini kemungkinan akan melakukan hal-hal berikut:

  1. Menuliskan huruf-huruf dengan urutan yang salah dalam sebuah kata;
  2. Tidak menuliskan sejumlah huruf-huruf dalam kata yang ingin dia tulis;
  3. menambahkan satu huruf dengan huruf lainnya, sekalipun bunyi huruf-huruf tersebut tidak sama;
  4. Menuliskan sederetan huruf yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan bunyi kata-kata yang ingin ia tuliskan;
  5. Mengabaikan tanda-tanda baca yang terdapat dalam teks-teks yang sedang ia baca.

Semua anak pernah membuat kesalahan-kesalahan seperti di atas ketika mereka baru mulai belajar membaca atau menulis. Namun, hal ini hanya sampai ia duduk di bangku kelas tertentu di sekolah dasar. Akan tetapi pada anak-anak yang menderita disleksia kesulitan-kesulitan tersebut terus berlanjut dan menjadi masalah tersendiri bagi prestasi akademik mereka. Tanpa adanya penanganan yang tepat, mereka akan terus-menerus membuat kesalahan serupa dengan frekuensi yang sering. Hanya memberitahukan kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan kepada anak-anak disleksia bukanlah merupakan cara yang tepat untuk membantunya keluar dari permasalahan yang sedang mereka hadapi dan bisa membaca dan menulis dengan benar