Ada anak yang sedang mengaduh pada AYAH-nya

tentang kegundahan yang kian lama kian mengakar

”apa sebenarnya yang terjadi padaku? Apakah jalanku ini salah”

 

Sang AYAH tetap terdiam,

bukan berarti Sang AYAH tidak punya jawaban.

Sang AYAH merasa tidak perlu menjawab apapun,

karena…

”Jawabannya ada di dalam hatimu” bisik hati sang AYAH

sang anak melemparkan pandangan ke semesta,

dia melihat ada senyuman AYAH di sana

senyum itu petanda jawaban bahwa memang jawaban itu ada di dalam hatinya.

 

Ahhhh AYAH…

 

Sang AYAH tetap terdiam

bukan berarti tidak ada untaian kata yang ingin terucap

Sang AYAH tak perlu berkata

karena sedari dulu memang tak ada kata diantara mereka

hanya nurani yang saling berbisik

tersampaikan lewat senyum semesta, juga lewat udara yang terhirup

meski tak jarang sang anak salah memaknai

tapi pada akhirnya kembali juga pada pengertian yang hakiki

 

Sang AYAH selalu mendidik dalam diamnya yang berbahasa

Sang AYAH selalu mendidik dalam bahasanya yang tak berarti tunggal

Sang AYAH selalu mendidik dalam keharusan memilih jalan

 

AYAH….Betapa sering ku salah memaknai bahasamu dalam diammu…

Betapa sering ku memilih jalan yang salah…

Dan kau tetap tersenyum.

Senyum yang menyadarkanku bahwa aku telah tersesat, dan

aku HARUS KEMBALI !!!