kurangkai kata-demi kata

dalam catatan yang kunamai dengan kata MAAF,

dalam lembaran buku yang kugenggam saat itu

yang akan menjadi rekaman tentang jejak-jejak luka yang kutorehkan,

tentang jejak-jejak kekecewaan yang kutaburkan

tentang segalanya yang kau luapkan hari ini,

menjelaskan apa yang tertutupi

menumpahkan apa yang kau bendung

membuatku paham tentang kebingunganku selama ini

(ya… aku makin mengenal siapa dirimu !!!)

maaf maaf maaf

hanya kata itu yang selalu bisa kulontarkan dengan jelas kepadamu

berharap bisa menjadi penghapus coretan lukamu

berharap bisa menjadi cairan yang mendinginkan hatimu

aahh… mengapa engkau simpan luka itu begitu lamaa

mengapa tidak kemarin saja engkau tuturkan segalanya dengan jelas

sekian lama aku menjadi wanita keji

dan aku tetap tertawa dalam ketidaksadaranku

dan kau selalu berpaling dalam diam dan amarahmu, kemudian kembali dalam tawa

tawa yang ternyata menyimpan amarah yang besar

dan pada akhirnya yang kusaksikan hanyalah punggungmu yg kian menjauh

maaf maaf maaf…

semua adalah buah kekosongan empatiku, kedangkalan kepekaanku

ku berharap jangan berpaling duhai engkau yang terluka

biarkan aku mengisi bab baru dalam catatan barumu, bukan lagi kekecewaan

bukan lagi kesedihan dan bukan lagi luka

tapi catatan lain yang akan menggantikan daftar kekecewaanmu,

dan membangkitkan kepercayaanmu…