Sabtu, 19 Februari 2011, saya ditugaskan untuk mengajar ekstrakurikuler di Sekolah Dasar Negeri Jampang 04. Hari itu saya mengajar praktik komputer untuk anak kelas VI .

Sebelum memulai praktik, saya mengajukan pertanyaan ke siswa siapa yang mempunyai fasilitas komputer di rumah. Hanya satu siswa dari kurang lebih 30 siswa yang mempunyai komputer di rumahnya. Namun, ketika saya menanyakan siapa yang sudah bisa mengoperasikan komputer atau yang pernah mengoperasikan komputer, hampir seluruh siswa mengacungkan tangan. Mereka mengaku bahwa mereka mengoperasikan komputer di warnet untuk main games online dan facebook.

Sekedar informasi, SDN Jampang 04 adalah sekolah yang terletak di desa Jampang. Hampir semua orang tua siswa memiliki kondisi perekonomian menengah ke bawah, wajar kalau pada akhirnya siswa-siswa tersebut tidak memiliki komputer di rumahnya, namun kebiasaan mereka mengakses internet hanya untuk bermain games online dan facebook mungkin saja bisa menjadi representasi keadaan siswa-siswa sekarang ini. Asumsinya adalah, mereka saja yang tinggal di desa dengan segala fasilitas yang serba terbatas ditambah lagi kondisi perekonomian keluarga yang menengah ke bawah toh masih bisa menghabiskan banyak waktu mereka untuk nongkrong di warnet. Bukan untuk mengerjakan tugas sekolah atau untuk belajar melainkan untuk bermain.

Lalu seperti apa potret siswa yang ada di luar sana? Yang fasilitasnya lebih memadai, yang keadaan geografis daerahnya lebih menguntungkan, dan kondisi perekonomian keluarganya yang menengah ke atas.

Fenomena siswa yang suka menghabiskan waktunya di warnet juga pernah saya jumpai di asal daerah saya yaitu Sinjai dan Makassar. Betapa seringnya saya menjumpai siswa SD dan SMP yang menghabiskan waktu di warnet. Bahkan setiap kali saya ke warnet (untuk mencari bahan tugas) hampir sekitar 80 % pengguna fasilitas warnet adalah siswa SD dan SMP.

Kehadiran televisi saja sudah cukup menghawatirkan karena perhatian anak banyak tersita oleh tontonan kartun dan film laga atau sinetron. Bukan hanya itu, beberapa anak mungkin menghabiskan waktu untuk bermain playstation, sekarang media bermain mereka bertambah lagi dengan adanya internet.

Orang tua harus cepat menyadari bahwa waktu yang anak-anak habiskan untuk media-media tersebut akan menghambat perkembangan otak anak, ujung-ujungnya akan mempengaruhi prestasi belajar anak di sekolah. Hal tersebut dipertegas oleh beberapa ahli dari Universitas Of New Mexico School Of Medicine bahwa semua akses media tersebut berefek pada sejumlah masalah kesehatan. Media bukan hanya penyebab utama masalah-masalah kesehatan anak-anak di Amerika, tapi juga ikut berkontribusi pada sejumlah banyak masalah kesehatan lainnya seperti kekerasan, seks, pemakaian obat terlarang, obesitas, dan penyakit makan (Olivia, 2010).

Orang tua, guru dan petugas kesehatan perlu diberi edukasi tentang kondisi ini dan anak-anak perlu mendapatkan pendidikan tentang media di sekolah. Orang tua juga harus mengubah cara anak-anak mereka mengakses media. Misalnya, jangan menghubungkan televisi dan internet di kamar tidur anak, batasi nonton acara hiburan di televisi sampai kurang dar dua jam perhari, dan nonton bersama anak-anak dan remaja.

Pembatasan ketat terhadap kegiatan menonton (televisi, video, games komputer, internet), bahkan meniadakannya salam sekali di hari-hari sekolah akan membebaskan pikiran anak. Tontonan elektronik akan memborbardir otak anak dengan rentetan gambar yang menginterupsi proses berpikir. Biarkan kehidupan sehari-hari anak terlewati tanpa media tersbeut karena irama yang teratur dan rutin dalam pola makan dan tidur serta kegiatan sehari-hari akan mendukung sistem saraf yang rileks dan ana pun lebih siap belajar.

Anak dengan televisi di kamar mempunyai

prestasi akademik yang lebih rendah

Studi-studi menunjukkan, nonton televisi sambil mengerjakan PR menimbulkan efek buruk untuk prestasi akademik. Riset juga menujukkan, makin banyak anak nonton TV, semakin besar kemungkinan menjadi obese dan perilaku agresif. Sebagian ahli berpendapat, yang penting adalah isi yang ditonton anak, bukan hanya waktu yang dihabiskan untuk menonton TV. Riset menunjukkan nonton acara pendidikan bermanfaat untuk prestasi akademik anak (Olivia, 2010).

Kendati banyak orang yang menganggap televisi mempunyai pengaruh buruk untuk prestasi anak, sampai saat ini hanya sedikit riset yang mengaitkan penggunaan televisi dan prestasi akademik anak. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Archive of Prediatric dan Adolescent Medicine menemukan, anak yang mempunyai pesawat televisi di kamar tidurnya mendapatkan angka tes prestasi akademik yang lebih rendah.

Studi melibatkan 350 siswa kelas tiga dari etnik yang berbeda dari enam sekolah dasar publik di California. Para siswa diwawancarai untuk mengetahui jumlah pesawat televisi di rumah dan jumlah waktu yang dihabiskan untuk berbagai aktivitas media seperti menonton, main komputer, nonton film atau video, membaca non-PR dan mengerjakan PR. Selain itu, 226 orang tua dari anak-anak tersebut diwawancarai lewat telepon tentang jumlah waktu yang digunakan anak-anak mereka untuk berbagai aktivitas media.

Anak-anak yang mempunyai televisi di kamar tidurnya mendapatkan angka yang secara bermakna lebih rendah pada semua tes dibanding yang tidak punya. Namun, hasil penelitian tersebut terbatas karena hanya mengandalkan siswa dan orang tua melaporkan penggunaan media yang bisa tidak akurat. Selain itu, juga ada kemungkinan hasil dipengaruhi faktor lain. Sebagai contoh, orang tua yang memberikan akses komputer rumah atau yang melarang nonton TV di kamar kemungkinan lebih terlibat dengan kehidupan akademik anak-anaknya yang memengaruhi hasil studi.

Masalah penglihatan pada anak

Satu lagi masalah yang muncul akibat terlalu banyak “berinteraksi” dengan media televisi dan komputer, yaitu masalah penglihatan. Hampir 50% anak dengan masalah penglihatan tidak mendapat perlakuan yang tepat, begitu menurut Vision Council of Amerika. Salah satu penyebabnya adalah: Lebih dari 60% anak tidak mendapatkan pemeriksaan mata di sekolah. Di antara yang mendapatkan perawatan, 1 dari 10 anak dogolongkan punya masalah penglihatan. Berikut, masalah penglihatan yang sering terabaikan dan strategi melindungi penglihatan anak (Olivia, 2010):

  • Jika anak sering menelusiri kata yang dicetak dengan jari tangan

Kemungkinan ini menyinyalkan astigmatism, kondisi dimana lensa atau kornea berbentuk oval, bukan bulat. Kondisi ini membuat mata sulit fokus. Pengobatannya, kendati pun astigmatism akan dibawa terus oleh anak, tapi kondisi ini tidak memburuk ketika usia bertambah.

  • Jika anak sering memicingkan mata

Kemungkinan anak punya amblyopia. Hal ini terjasi ketika mata anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Juga dapat menyebabkan mata yang lebih lemah bergerak. Itu sebabnya, amblyopia umum dikenal sebagai lazy eyes. Tapi istilah ini salah kaprah karena tanda-tanda sering tidak tampak. Studi-studi menunjukkan, obat tetes resep dokter: atropine, dapat mengatasi amblyopia dalam 6 bulan. Obat tetes ini membuat penglihatan buram untuk sementara. Pada mata yang lebih kuat, memaksa lazy eyes bekerja lebih keras sehingga memperbaiki kemampuan fokus.

  • Jika anak kadang memiringkan kepala

Kemungkinan menandakan intermittent strabismus. Sering dipicu oleh lelah atau stres. Kondisi ini adalah kegagalan otot mata untuk koordonasi yang bersifat sementara, menyebabkan penglihatan ganda dan persepsi kedalaman yang buruk. Jika istirahat dan relaksasi tidak mengatasi masalah, anak kemungkinan perlu kacamata, terutama karena intermittent strabismus dpat datang bersama masalah penglihatan lainnya.

Sumber:

Olivia, F. 2010. Mendampingi Anak Belajar: Bebaskan Anak dari Stress dan Depresi Belajar. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.