Dia baru saja pulang dari sekolah. Hari itu adalah hari pertama dia mengajar di sekolah dasar negeri Jampang 04 yang terletak di Desa Parung. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari itu dia sudah mulai terbiasa dengan jarak yang harus dilalui dari asrama ke sekolah. Sebenarnya jarak antara asrama dan sekolah tidak lah terlampau jauh, dengan berjalan kaki bisa ditempuh sekitar sepuluh menit hanya saja medan yang harus dilalui yang membuatnya sedikit kesusahan.

Jalan antara asrama dan sekolah tidak rata, banyak batu-batu kecil dan besar berserakan di sepanjang jalan dan juga ada beberapa bagian jalan yang becek. Tentunya akan sulit dilalui bagi pejalan kaki yang menggunakan high heels, seperti dirinya.

Sebenarnya, semenjak hari pertama ke sekolah itu dan melihat penampakan jalan yang harus dilalui setiap hari dia sudah berniat untuk mengganti sepatunya dengan sepatu pantofel yang alasnya rata, tapi belum sempat untuk membeli yang baru. Di asrama dia cuma punya sepasang sepatu high heels dan sepasang sepatu kets serta sepasang sendal jepit yang biasa digunakan di lingkungan asrama.

Hari itu, sesampainya di asrama dia melepas high heelsnya pelan-pelan sambil bergumam “Saya harus beli sepatu, secepatnya….” sambil menghela napas panjang.

Peristiwa di sekolah hari itu  membuatnya betul-betul bertekad untuk membeli sepatu baru secepatnya.

“Gak boleh terulang…” Gumamnya lagi.

Sepanjang hari pikirannya selalu tertuju pada peristiwa yang terjadi di sekolah tadi pagi. Wajah seorang siswanya yang kemerahan dengan tubuh sedikit bergetar dan bibir tertarik ke bawah menahan rasa sakit yang mungkin amat luar biasa karena kakinya terinjak sepatu high heels-nya. Dia membayangkan kaki kecil itu harus menanggung sakit karena terinjak hak sepatunya yang runcing.

“Orang besar saja yang terinjak pasti menjerit. Pasti sakit sekali…” Katanya dalam hati dengan mata terpaku ke depan seolah-olah menyaksikan video rekaman ketika siswa kecil itu menangis keras dengan wajah yang memerah dan dia dengan perasaan campur aduk berusaha mendiamkan si kecil yang suara tangisannya semakin kencang.

“Oh, Tuhan… ini hari pertama saya mengajar, kok bisa begini?” Jeritnya dalam hati.

Peristiwa itu sungguh mengeliminasi saat-saat menyenangkan di awal pembelajaran. Saat-saat di mana siswa-siswanya sangat antusias belajar, sangat antusias bercerita banyak hal kepadanya, sangat antuasias menunjukkan tugas menulisnya.

“Siswa Hebat!!” Lantang suaranya untuk mengundang perhatian siswa-siswanya

“Siap!!!” Jawab siswa serempak sambil ketawa-ketawa kecil. Mulu-mulut kecil itu semakin lantang menyuarakan “Siap” setiap kali dirinya berseru “Siswa Hebat”

Sungguh, awal pembelajaran berjalan sangat menyenangkan. Dia sangat menikmatinya. Sampai akhirnya seorang siswa bertanya “Ibu guru… Ibu guru, Namanya siapa?” dan dia baru sadar kalau ternyata dia belum memperkenalkan diri, “Hehehe…..” Tawanya dalam hati.

“Oh, nama ibu guru.. Oke, Ibu tulis di papan ya…” Cepat dia menyambar spidol dan menulis di papan tulis.

“Huruf apa ini..?” Tanyanya setiap kali selesai menuliskan satu huruf dan siswa serempak  menyebutkannya.. “Ceeeeeeeeeeeeeeeee!!!”

“Yang ini?”

“Aaaaaaaaaaa…..!”

“yang ini?”

“Eeeeeeeeeeeeeeen…!”

“Ini?”

“Teeeeeeeeeeeeeee…!” Selalu seperti itu sampai dia selesai menuliskan huruf terakhir.

“Lo Cantiiiik. Namanya bu guru Cantik ya? Bu guru cantik” Kelas riuh oleh suara siswa-siswa. Mereka tertawa, merasa lucu dengan nama bu gurunya

“Hahaha… ini bukan namanya bu guru, nak”

“Lo, jadi namanya bu guru siapa? Kenapa ibu guru menulis cantik?”

“Bu guru memang cantik kan?” ucapnya sambil tertawa dan diikuti oleh tawa siswa-siswanya.

“Ini nih nama ibu…” Seraya menuliskan kembali di papan tulis

kompak siswa-siswanya berkerumun maju di depan papan tulis. Mereka betul-betul penasaran siapa nama ibu guru barunya yang cantik itu (hehehe :D)

“Ooo…. Makkitaa !!!” Teriak salah satu siswa setelah berusaha mengeja tulisan di papan tulis, “Oooo ibu guru Makkita….!!!” Siswa lainnya menimpali sambil tertawa bersama.

Tawa riuh itu tidak berlangsung lama, sampai akhirnya dia menyadari bahwa ada sesuatu yang terinjak olehnya dan ternyata itu adalah kaki mungil siswanya.

“Oh God..!!!” Serunya dalam hati

Setelah kejadian itu, setiap kali teringat peristiwa itu hanya kata itu yang bisa terucap meskipun terkadang disusul dengan tawa geli dan kemudian disusul lagi dengan istigfar…

Ahh, secepatnya saya harus beli sepatu baru…!!