Mengutip apa yang dikatakan oleh Kusuma (2007) bahwa Kaya setelah miskin adalah KEBERHASILAN dan Miskin setelah kaya adalah KEBODOHAN. Kebodohan didapat karena tidak ada kemauan atau enggan belajar, terutama belajar dari pengalaman kegagalan orang lain.

Jansen Sinamo (Kusuma, 2007) mengatakan bahwa kegagalan itu tidak terjadi dalam semalam dan keberhasilan itu tidak dicapai dalam sehari.

Apa hubungan antara kontrol psikis dengan kehidupan finansial seseorang? Kusuma (2007) menjelaskan hubungannya dalam sejumlah tingkatan, antara lain:

Pertama

Seseorang yang kondisi psikisnya masih menggambarkan ego tinggi, passive atau mementingkan diri sendiri, maka kemungkinan besar akan tergambar pula dalam cara mengelola keuangannya. Gagalnya dalam mengendalikan emosi negatif cenderung akan mengalami kegagalan dalam mengelola finansialnya.

Misalnya, ketika kita sedang berjalan-jalan di mal. Begitu melihat barang-barang yang dipajang di sebuah etalase, kita sudah tidak bisa mengendalikan diri. Yang bikin runyam lagi jika barang yang kita lihat tersebut telah didukung oleh iklan-iklan di televisi atau media lainnya. Semakin tidak mampu saja kita untuk meredam keinginan tersebut.

Semakin tua kita, semakin mahal “mainan” yang menggiurkan kita. Seperti mobil, bahkan ada seseorang yang nekat kredit mobil untuk mengejar gengsi, sementara kondisi keuangannya masih belum memadai.

Kemampuan kita untuk selalu dapat berpikir jernih memegang peranan yang sangat penting dalam memutuskan sesuatu. Terutama dalam memutuskan untuk membeli atau tidaknya barang yang memang tidak diperlukan, apalagi barang tersebut sejenis dengan barang yang ada di rumah kita.

Seseorang yang masuk dalam tipe contoh seperti di atas, juga cenderung suka berhutang. Namun, hutangnya tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan berdasarkan egonya. Dalam hidupnya suka berhutang, lalu membayar kemudian berhutang lagi dan begitu seterusnya alias gali lubang tutup lubang. Pengeluaran dalam hidup selalu di atas income atau besar pasak daripada tiang. Tidak bisa berpikir jernih apalagi bisa berpikir panjang. Hanya memikirkan jangka pendek dan hari itu juga. Tidak peduli bagaimana nanti.

Tentu saja tipe seperti ini sulit sekali menabung. Kalaupun berhasil menyisihkan sisa belanja, cenderung gampang ditarik kembali. Berapapun uang yang ada di tangannya akan cepat sekali lenyap. Jangankan bisa mengelola sebuah bisnis, menahan lebih lama uang di dompet saja sulit.

Kedua

Seseorang yang kondisi psikisnya mulai bergeser ke arah yang lebih baik dan semakin terkontrol. Jika yang pertama menggambarkan sikap egois, maka tipe kedua ini semakin mengarah kepada sikap lebih peduli. Sehingga, cenderung lebih bisa mengontrol keuangannya dengan lebih baik. Bisa membedakan mana kebutuhan yang harus dipenuhi dan mana yang tidak perlu dimiliki. Mempunyai rencana ke depan dalam finansial. Memikili kepedulian dan tanggung jawab terhadap keuangan keluarga.

Kepentingan keluarga lebih penting daripada kepentingan dirinya sendiri. Misalnya, bisa menajan diri untuk tidak tergiur mengganti handphone dengan yang baru, atau lebih keren. Sementara uang tersebut bisa digunakan untuk keperluan yang lebih penting atau lebih baik ditabung.

Ketiga

Seseorang yang mana kondisi psikisnya menggambarkan ego yang semakin rendah. Kondisi psikis yang kontemplatif. Suka merenung mencari jati diri. Mencari hakikat di balik kehidupan yang menyilaukan banyak manusia. Suatu kepribadian yang semakin intensif menuju kepada kemaslahatan orang banyak. Seorang yang “paham” akan makna “berserah diri” kepada Tuhan. Produktif dan orientasinya adalah untuk kemaslahatan orang banyak.

Tidak heran jika, seseorang tipe ini, cenderung dicari orang dan rezeki yang justru mendekatinya. Karena, karakter dan kepribadiannya yang sudah terbentuk. Maka degan sendirinya, dia telah menciptakan “brand” yang akan direspon oleh lingkungan. dan biasanya seseorang yang sudah mencapai tingkat ini adalah mereka yang berada pada level kepakaran.

Jika emosi saja sudah dikendalikan, tentu psikis sudah dapat ditaklukkan di bawah kendalinya. Bagaimana dengan kondisi keuangannya? Anda sendiri yang bisa menjawabnya. Apa pun yang menjadi–pekerjaannya, tugasnya, dan tanggung jawabnya–ditanggung beres dan terkendali.

Orang-orang tipe ini adalah orang-orang yang produktif dan berpikir jernih, sehingga mampu menjawab masalah dan tantangan dengan bijak, sabar dan peduli. Sifat-sifat baik ada pada mereka. Mereka adalah orang-orang yang menonjol, karena sifat dan kepribadiannya.

BAGAIMANA PENDAPAT ANDA???

SUMBER:

Kusuma, E. 2007. Anda Luar Biasa. Tangerang: Fivestar Publishing