Tags

, , , , , , ,

A. Subjek Penelitian

Nama/initial               : F

Usia                                : 21 tahun

Jenis kelamin             : Perempuan

Gol. Darah                   : O

Pendidikan                  : Mahasiswi

Status                            : Anak kandung – Anak   kedua dari tujuh bersaudara

Masalah                        : mengeluhkan perilaku agresi, pada:

Nama/initial              : MT (Adik laki-laki F)

Usia                               : 17 tahun

Jenis kelamin            : laki-laki

Gol. Darah                  : O

Pendidikan                : SMA

Status                          : Anak kandung – Anak keempat

B. Gambaran Kasus

F adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. F adalah anak perempuan pertama dari dua perempuan bersaudara. Dia mengaku mempunyai masalah keluarga khususnya adiknya, MT.

F sering menangis jika memikirkan MT, karena menurutnya perkembangan kepribadian MT tidak normal (F kuliah di Fak. Psikologi UNM dan sangat menyukai mata kuliah bidang perkembangan), MT yang sekarang sangat berbeda dengan MT kecil yang ada di dalam ingatannya.

MT adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. MT sekarang sudah duduk di kelas dua Sekolah Menengah Atas (SMA) di sebuah sekolah unggulan di kotanya. MT mengambil kelas bahasa sejak kelas dua SMA. Prestasinya tergolong lumayan bagus karena nilai-nilainya disetiap mata pelajaran di atas standar kelulusan. Meskidemikian, MT bukanlah siswa yang aktif dalam proses belajar-mengajar di sekolah.

Saat usia tiga sampai empat tahun, MT memperlihatkan perilaku yang sangat aktif, MT selalu ikut dengan F yang saat itu sudah duduk di kelas empat SD. MT merasa senang ikut ke sekolah bersama dengan F karena teman-teman F menyukainya. Mereka biasa menggoda MT untuk menyanyikan lagu mandarin karena kebetulan saat itu adalah masa-masa maraknya sinema kungfu mandarin ditayangkan distasiun televisi nasional dan MT sangat menyukainya maka tidak heran kalau MT suka menyanyikan soundtrack dari sinema kungfu mandarin yang ditayangkan distasiun televisi Indonesia meskipun secara lafal dan bahasa semua tidak tepat tapi MT menyanyikannya dengan hanya mengikuti nadanya. Teman-teman kakaknya pasti akan tertawa dan memujinya.

Satu lagi dampak dari nonton sinema kungfu mandarin adalah perilaku MT menjadi sangat agresif. MT sangat sering bertengkar dengan teman sebayanya. Sewaktu kecil, MT adalah anak yang tidak mau menerima perlakuan yang negatif, dia juga sangat polos. MT dikenal sebagai anak yang kuat dan ditakuti oleh teman-temannya yang lain meskipun MT tidak memilki tubuh yang besar. Teman-temannya tidak berani memukul secara jantan tetapi harus secara licik (memukul MT dari belakang, melempar dan langsung kabur).

Pernah saat MT berusia sekitar empat atau lima tahun ada seorang anak laki-laki yang dikenal nakal – sebut saja A – memukul MT dari belakang dan kabur. Si A tersebut ternyata bersembunyi di rumahnya yang tidak jauh dari rumah MT. MT-pun langsung mengejar si A sampai ke rumahnya. MT tidak peduli kalau di rumah itu ada orang tua dan saudara si A, baginya menuntut keadilan adalah yang terpenting.

“MT pulang terengah-engah dan langsung menceritakan bahwa dia baru saja pulang dari rumah si A dan memukul si A. katanya, MT dipukul oleh si A dan langsung kabur”.

MT adalah anak yang sangat aktif. Dia berani menunjukkan siapa dirinya dan melakukan apapun tanpa takut pada siapapun jika MT memang merasa bahwa dirinya melakukan hal yang benar.

Saat usia empat tahun MT sudah bergabung dalam TK-TP AL-Qur’an. Dia sangat rajin dan belajar mengaji dengan cepat sehingga guru ngajinya menyukainya. Bentuk kepala MT besar sehingga orang-orang menganggap bahwa MT adalah orang yang cerdas, MT lahir di hari jum’at tepat adzan dhuhur berkumandang sehingga orang-orang juga berpendapat bahwa MT adalah anak yang “nakal”, berkemauan kuat, dan pemberontak.

Semua berjalan seiring perputaran waktu. MT masuk di sekolah dasar 126 kemudian pindah sekolah di kota lain karena ikut orangtua. MT diterima di SD unggulan di kota baru tempat mereka tinggal.

Saat MT sudah menginjak kelas empat SD, dia dipindahkan ke Pondok Pesantren Al-Irsyad di Salatiga-Jawa Tengah. Awalnya, MT merasa kesulitan beradaptasi dengan sekolah barunya karena banyak mata pelajaran baru yang didapatkannya. Namun setelah caturwulan berikutnya nilainya sudah bagus kembali. MT cuma sampai kelas lima SD di sana karena MT tidak cocok dengan iklim Pondok Pesantren Al-Irsyad di Salatiga-Jawa Tengah yang sangat dingin. MT mengidap penyakit gangguan pernapasan Bronkhitis, sehingga orangtuanya tidak tega membiarkan MT tetap tinggal di sana meskipun sangat besar harapan orangtua MT agar MT bisa menyelesaikan pendidikannya di sana. Orang tua MT berharap MT mendapat lingkungan yang sehat baik dari segi sosial maupun dari segi agama untuk itu orang tua MT tidak pernah mempermasalahkan biaya sekolah di sana.

Setelah kembali dari Pondok Pesantren Al-Irsyad di Salatiga-Jawa Tengah, MT kembali ke sekolahnya semula dan kembali beraktivitas seperti biasanya. MT adalah anak yang sangat rajin. Dia punya sepeda jadi tidak pernah keberatan disuruh kesana-kemari untuk membeli keperluan ibunya atau kakak-kakaknya.

“Saya tidak tau kapan saat-saat terakhir MT menjadi anak seperti itu, tapi seingat saya, ketika MT sudah duduk di SMP saya sering bertengkar – fisik dan verbal – saya ingat saya pernah memukulnya dengan skof karena mengatai saya. Saya juga pernah memukul kepalanya dengan sapu karena mengunci kamar saya dari dalam sehingga saya tidak bisa masuk, bahkan waktu itu tangannya berdarah karena saya memecahkan kaca jendela kamar saya dan kacanya terlempar ke tangannya. Tapi saya tidak peduli waktu itu. Saya benar-benar marah. Saya ingat, dia menangis sambil memegangi tangannya yang berdarah.”

“Kami punya kakak laki-laki. Dia anak pertama, wataknya sangat keras, perkataannya adalah “titah” dan tidak boleh satupun dari kami – adik-adiknya – tidak mematuhinya. Biasanya kalau kami membangkang, kami pasti dihukum dengan tidak boleh nonton TV, atau dipukul, ditendang, dll. MT adalah yang paling sering mendapat hukuman dari kakak. Pernah, pahanya diinjak, ditendang, ditampeleng… dan saya tidak bisa melakukan apa-apa. Ibu juga kadang cuma melihat perlakuan kakak.”

Sekarang, semua berjalan dengan baik. Menurut keterangan dari F, kejadian-kejadian sewaktu kanak-kanak, pada saat itu seolah-olah bukanlah suatu masalah. Hal itu normal karena masih kanak-kanak. Sekarang MT dan saudaranya hidup rukun. Kakak laki-lakinya sudah dewasa dan sudah tidak pernah lagi memukul, seandainya pun MT dan saudaranya yang lain berbuat kesalahan paling cuma ditegur dan dinasehati.

Tetapi hal-hal yang terjadi sewaktu MT kanak-kanak tentunya membekas dengan baik di jiwanya. Sekarang sosok MT tidak seceria dan seaktif waktu kanak-kanak. Dia juga tidak terbuka dalam menyampaikan perasaan dan keinginannya. Jika dia menginginkan sesuatu, dia pasti bicara dengan ibunya atau kepada F secara diam-diam takut ayah atau kakak laki-lakinya – sebut saja H – mendengar.

MT sampai sekarang sering mengamuk dan merasa dirinya dianak tirikan. Sudah sering MT memecahkan kaca lemari dan barang-barang lainnya. MT juga tidak segan-segan memukul adik atau sepupu yang menurutnya berbuat salah padanya. Saat ditegur dia berdalih, “Kenapa saya tidak boleh. Dulu kalau kakak memukul saya tidak ada yang melarang.” F merasa sangat sedih dan merasa sangat bersalah karena dulu dia juga sering menyakiti MT.

F menambahkan bahwa MT selalu membanding-bandingkan dirinya dengan H. Sewaktu MT duduk di kelas 2 SMP, dia meminta kepada ayahnya untuk dibelikan motor tapi ayahnya tidak mengabulkan permintaannya dan mengatakan bahwa nanti setelah kelas 1 SMA baru dibelikan. Saat itu MT marah dan bilang kalau dulu kakak H waktu kelas 2 SMP sudah gonta-ganti motor dan kenapa dia tidak mau dibelikan motor. Ibu dan F kemudian memberikan pengertian dan meminta MT untuk bersabar.

Saat kelas 2 SMA, MT benar-benar marah karena belum dibelikan motor. Dia bermaksud untuk berhenti Sekolah. setahun yang lalu ayahnya sudah membelikannya motor seharga Rp. 15.000.000, tapi MT tidak menyukainya katanya motor yang dibelikan ayahnya motor murahan tidak sebanding dengan harga motor yang sudah dipake kakak H dari SMP sampai sekarang (bahkan sekarang ayahnya berencana membeli mobil untuk H). ayahnya pun marah dan menjual motor itu kembali.

MT juga minta dibelikan laptop. Ayahnya berpikir untuk membelikannya laptop yang sederhana dan murah karena menurut ayahnya MT cuma menggunakan laptop tersebut untuk mengetik atau main game. MT menolak, katanya laptopnya harus semahal laptop kakak-kakaknya. MT selalu membandingkan antara perlakuan yang dia dapatkan dari orang tuanya dengan perlakuan yang kakak-kakaknya terima.

F mengatakan bahwa posisi orangtuanya memang sulit. Ayahnya selalu berusaha berlaku adil kepada semua anaknya, makanya ketika anak pertama minta sesuatu maka ayah akan bertanya ke anak kedua. Karena diantara tujuh bersaudara hanya ada dua anak perempuan, yaitu anak kedua dan ketiga maka ayah selalu berusaha adil terhadap kedua anak perempuannya. Jika anak kedua dibelikan sesutu maka anak ketiga juga harus dapat sesuatu. Kalau ayah dan ibu liburan dan berbelanja sesuatu untuk adik-adiknya maka anak bungsu yang jadi prioritas. Ayah dan ibunya juga harus berlaku adil terhadap kakak si bungsu makanya si bungsu dan dua orang kakaknya pasti mendapatkan sesuatu yang sama. MT yang berada di tengah-tengah kadang terabaikan. Meskipun MT tidak pernah protes secara langsung pada saat itu juga, namun MT menyimpan itu semua sebagai senjata untuk memenuhi kebutuhannya.

C. Landasan Teori

a. Pengertian agresi

Dayakisnih dan Hudaniyah (2006) menjelaskan secara umum agresi diartikan sebagai suatu serangan yang dilakukan oleh suatu organisme terhadap organisme lain, objek lain atau bahkan pada dirinya sendiri. Definisi tersebut berlaku bagi semua makhluk vertebrata, sementara pada tingkat manusia masalah agresi sangat kompleks karena adanya perasaan dan proses-proses simbolik.

Robert Baron (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006) menyatakan bahwa agresi adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut. Definisi dari Baron mencakup empat faktor tingkah laku, yaitu tujuan untuk melukai atau mencelakakan, indiviudu menjadi pelaku, individu yang menjadi korban dan ketidakinginan si korban menerima tingkah laku si pelaku.

b. Bentuk-bentuk agresi

Delut (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006) memaparkan hasil penelitiannya mengenai bentuk-bentuk perilaku agresi yang umum, yang digambarkan dalam bentuk item-item dari factor analysis of behavioral checklist, yang terdiri dari:

  1. Menyerang secara fisik (memukul, merusak, medorong)
  2. Menyerang dengan kata-kata
  3. Mencela orang lain
  4. Menyerbu daerah orang lain
  5. Mengancam melukai orang lain
  6. Main perintah
  7. Melanggar milik orang lain
  8. Tidak mentaati perintah
  9. Membuat permintaan yang tidak pantas dan tidak perlu
  10. Bersorak-sorak, berteriak, atau berbicara keras pada saat yang tidak pantas
  11. Menyerang tingkah laku yang dibenci

Medinus dan Johnsn (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006) mengelompokkan agresi menjadi empat kategori, yaitu:

  1. Menyerang fisik, yang termasuk di dalamnya adalah memukul, mendorong, meludahi, menendang, menggigit, meninju, memarahi, dan merampas.
  2. Menyerang suatu objek, yang dimaksudkan disini adalah menyerang benda mati atau binatang.
  3. Secara verbal atau simbolis, yang termasuk didalamnya adalah mengancam secara verbal, menubruk-nubrukkan orang lain, sikap mengancam dan sikap merusak.
  4. Pelanggaran terhadap hak milik atau menyerang daerah orang lain.

c. Faktor pengarah dan pencetus agresi

  • Deindividuasi

Lorenz (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006) menyatakan bahwa deindividuasi dapat mengarahkan individu kepada keleluasaan dalam melakukan agresi sehingga agresi yang dilakukannya menjadi lebih intens. Khususnya Lorenz mengamati efek dari penggunaan teknik-teknik dan senjata modern yang membuat tindakan agresi sebagai tindakan non-emosional sehingga agresi yang dilakukan menjadi lebih intens.

Fenomena psikologis yang timbul sehingga deindividuasi memperbesar kemungkinan terjadinya agresi karena deindividuasi menyingkirkan atau mengurangi peranan beberasa aspek yang terdaoat pada individu yakni identitas diri atau personalitas individu pelaku maupun identitas diri korban agresi dan keterlibatan emosional individu pelaku agresi terhadap korbannya. Bagi setiap individu yang secara psikologis sehat, identitas dirinya maupun identitas individu lain merupakan hambatan personal yang bisa mencegah pengungkapan agresi atau setidaknya bisa membatasi intensitas agresi yang dilakukan (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006).

  • Kekuasan dan kepatuhan

Peranan kekuasaan sebagai pengarah munculnya agresi tidak dapat dipisahkan dari salah satu aspek penunjang kekuasaan itu, yakni kepatuhan, bahkan kepatuhan diduga memilki pengaruh yang kuat terhadap kecenderungan dan intensitas agresi individu karena dalam situasi kepatuhan individu kehilangan tanggung jawab (tidak merasa bertanggung jawab) atas tindakan-tindakannya serta meletakkan tanggung jawab tersebut pada penguasa (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006).

  • Provokasi

Wolfgang (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006) mengemukakan bahwa tiga per-empat dari 600 pembunuhan yang diselidikinya terjadi karena adanya provokasi dari korban. Sedangkan Back (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006) mencatat bahwa sebagian besar pembunuhan dilakukan oleh individu-individu yang mengenal korbannya, dan pembunuhan terjadi dengan didahului adanya adu argumen atau perselisihan antara pelaku dan korbannya.

  • Pengaruh obat-obatan terlarang

Banyak terjadi perilaku agresi dikaitkan dengan adanya obat-obatan atau alkohol yang dikonsumsi. Pihl dan Ross (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006) memaparkan bahwa mengkonsumsi alkohol dalam dosis yang tinggi meningkatkan kemungkinan respon agresi ketika seseorang diprovokasi, sementara Lang (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006) menjelaskan bahwa pengaruh alkohol terhadap perilaku agresi tidak semata-mata karena proses farmakologi karena orang tidak terprovokasi untuk mengingkatkan agresi bahkan dalam kondisi mengonsumsi alkohol dengan dosis tinggi.

Penjelasan lain menyatakan  bahwa mengonsumsi alkohol dalam dosis tinggi akan memperburuk proses kognitif terutama pada informasi yang kompleks sehingga mengurangi kemampuan individu untuk mengatasi atau bertahan dalam situasi-situasi yang sulit akibatnya individu memungkinkan melakukan interpretasi yang salah tentang perilaku orang lain sebagai agresif atau mengancam dirinya (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006).

d. Kontrol terhadap agresi

Beberapa alternatif pengontrolan terhadap agresi. Diantaranya adalah katarsis (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006). Katarsis mempunyai arti pelepasan ketegangan emosional yang mengikuti suatu pengalaman yang kuat (Dali dalam Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006). Katarsis mungkin dapat membantu mengurangi ketegangan yang ada dalam diri seseorang, karena dengan melakukan katarsis individu akan mengalami perasaan yang lebih baik dan mengurangi kecenderungan untuk melakukan tindakan agresif yang berbahaya.

Samuel (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006) menjelaskan dinamika terjadinya katarsis sebagaimana paparan berikut. Dimulai dari keadaan seimbang, individu mengalami berbagai macam peristiwa yang menyebabkan dia frustasi atau stress. Kondisi tersebut selanjutnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, misalnya struktur kepribadian, kebiasaan-kebiasaan yang telah terbenam dalam dirinya sebagai hasil dari pendidikan yang diterima dari orang tua atau pengaruh orang lain di luar keluarga.

Magargaee (Dayakisnih dan Hudaniyah, 2006). Menjelaskan empat faktor yang bisa menghambat agresi, antara lain:

  1. Kecemasan atau ketakutan pada hukuman yang dikondisikan.
  2. Nilai-nilai dan sikap-sikap yang dipelajari berkaitan dengan perilaku non agresi baik melalui pernyataan-pernyataan secara verbal maupun modeling. Jika non aggressive models yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari baik oleh orang tua, guru, teman sebaya dan media massa, maka perilaku agresi dapat dikurangi.
  3. Empati atau mengambil alih peran calon korban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pelatihan agar orang lebih empati akan mengurangi agresi. Hal tersebut terutama jika individu diberi pelatihan yang memfokuskan pada empati emosi daripada empati kognitif.
  4. Pemberian pengalaman emosi yang positif dapat mengurangi agresi sebab reaksi emosional yang positif dianggap tidak cocok dengan emosi negatif dari kemarahan.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpu­lan data yang digunakan dalam studi kasus ini adalah metode wawancara mendalam. Peneliti melakukan wawancara secara langsung dengan subjek F. Selain wawancara, peneliti juga menggunakan metode observasi. Observasi, adalah teknik yang paling lazim digunakan dalam penelitian kualitatif, dimana teknik ini memerlukan pengamatan secara cermat terhadap perilaku subjek baik dalam suasana formal maupun informal  (Danim, 2002). Observasi juga merupakan teknik pengumpulan data yang menekankan pada pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap fenomena yang diteliti (Hadi, 2004). Metode observasi digunakan oleh peneliti untuk melihat keakuratan tiap pernyataan yang dipaparkan oleh subjek F dengan membandingkan pernyataan dengan reaksi emosionalnya baik dari mimik wajah maupun gerakan-gerakan tubuh lainnya.

E. Hasil dan Pembahasan

a. Proses pengambilan data

Proses pengambilan data berjalan lancar disebabkan subjek F memang selama ini (sebelum penelitian) selalu menceritakan semua masalah keluarganya kepada peneliti, peneliti juga sering mendengarkan F berbicara dengan ibunya yang curhat masalah MT melalui handphone. Peneliti juga selama ini melakukan observasi kepada subjek F, subjek F selalu menangis jika berbicara mengenai adiknya MT dan F selalu membicarakan MT pada saat-saat tertentu seperti menonton film yang ceritanya hampir mirip dengan keadaan MT, makanan favorit, kebiasaan-kebiasaannya, dan lain-lain. Jadi sebelum penelitian kasus keluarga F pun peneliti sudah mempunyai banyak informasi awal mengenai kondisi keluarga F, khususnya kondisi adiknya MT.

Subjek F tidak pernah merasa risih atau takut bercerita tentang keluarganya, khususnya MT karena subjek F benar-benar ingin mengetahui apa yang harus dirinya lakukan untuk menghadapi permasalahaan MT. Subjek beberapa kali berpikir untuk bercerita langsung kepada konselor keluarga atau psikolog tapi F khawatir kalau keluarganya tidak bersedia di konseling.

b. Pembahasan

    1. Faktor penyebab masalah

Masalah yang dihadapi oleh keluarga F adalah kecemasan F dan keluarganya (Ibu) terhadap keadaan adiknya, MT. MT mengalami masalah emosional. MT termasuk anak yang tidak banyak berbicara dengan anggota keluarganya yang lain, terutama bercerita masalah pribadi. Meski demikian keadaan emosional MT kadang-kadang meledak diikuti dengan tindakan agresi apabila permintaan MT tidak dipenuhi. MT juga tidak segan-segan menyakiti adik-adiknya yang mengganggunya, MT akan bertambah marah jika ditegur karena menurutnya, memukul adik-adiknya tidak salah karena dulu dia juga diperlakukan seperti itu oleh kakak laki-lakinya, H. menurut F, MT tahu kalau perbuatannya salah tapi dia selalu mencari perlindungan dengan mengatakan hal tersebut karena jauh di lubuk hatinya sebenarnya MT ingin melampiaskan kemarahannya kepada kakaknya H tapi dia tidak mempunyai kemampuan untuk itu.

MT juga memiliki sifat agresi verbal, tapi itu cuma dia tunjukkan kepada adik-adiknya berupa perintah dan ejekan. Jika perintahnya tidak dipatuhi maka agresinya akan menjelma ke agresi fisik. MT selama ini cuma mau mendengar nasihat F, tapi saat ditegurpun dia cuma tertawa. Menurut F, MT tidak suka ditegur oleh kedua orangtuanya saat dia melakukan kesalahan, hal tersebut terlihat dari perkataan MT saat ditegur oleh orang tua bahwa kenapa dulu H membiarkan melakukan hal yang sama – dalam hal ini agresi fisik dan verbal – kepadanya dan tidak satupun yang membela.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka peneliti menemukan  adanya beberapa faktor yang menjadi penyebab perilaku agresi, baik itu agresi fisik maupun agresi verbal pada MT. Faktor penyebab agresi yang dimaksud antara lain:

a)    Pengasuhan

Pengasuhan atau parenting adalah suatu perilaku yang pada dasarnya mempunyai kata-kata kunci yaitu hangat, sensitif, penuh penerimaan, bersifat resiprokal, ada pengertian, dan respon yang tepat pada kebutuhan anak (Garbarino dan Benn dalam Andayani dan Koentjoro, 2004).

Pengasuhan adalah tugas yang disandang oleh pasangan suami-istri ketika mereka sudah mempunyai keturunan. Pengasuhan atau parenting, tidak sama dengan parenthood. Parenthood menurut Shanock (Andayani dan Koentjoro, 2004) adalah masa menjadi orang tua dengan kewajiban memenuhi kebutuhan anak yang selalu berubah dari waktu ke awaktu sesuai dengan perkembangannya. Parenthood dapat didefinisikan  sebagai suatu peran, atau bahkan karir, karena parenthood dapat mempengaruhi identitas diri orang dewasa. Pasangan suami-istri yang sudah menikah akan merasa kurang lengkap jika tidak mempunyai anak. Pada masyarakat Indonesia kelengkapan sebuah keluarga, yaitu ayah, ibu, dan anak, menjadi gambaran ideal dari apa yang disebut sebagai keluarga.

Kisah MT dengan orang tuanya memaparkan pentingnya identitas bagi seseorang. Kemampuan menjadi diri sendiri sangat penting untuk dapat mengembangkan konsep diri selanjutnya mencari dan menetapkan posisi diri.

Krisis identitas memang dapat dialami oleh MT yang mendapat perlakuan yang berbeda dengan suadaranya yang lain sehingga berakibat pada pengembangan identitas diri dialami oleh MT yang kemudian memunculkan kecenderungan menyembunyikan keutuhan identitasnya pada orang lain – teman-temanya bahkan ke keluarganya sendiri. Keputusan MT untuk selalu meluapkan amarahnya dalam bentuk agresi dan pernyataan bahwa – mengapa dirinya disalahkan saat menyakiti adik-adiknya dan membela adik-adiknya sedangkan dulu pada saat dirinya menjadi korban dari H tidak satupun yang membela dan menyalahkan H – merupakan  sinyal adanya ketidakpuasan terhadap identitas dirinya yang sekarang.

Subjek F mengatakan bahwa perubahan kepribadian yang sangat besar diperlihatkan MT saat duduk di bangku SMP. Sidi (2008) menanggapi bahwa biasanya kegelisahan yang berakibat dengan identitas diri pada anak laki-laki muncul diusia sekitar 13 tahun. Pada tahap ini kebutuhan memiliki kejelasan identitas memang makin dirasakan. Ditahapan perkembangan ini anak sedang merumuskan identitasnya dan mulai mengembangkan konsep diri. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Siapa saya?” dan “Di mana posisi saya?” mulai bermuculan. Inti dari perumusan identitas diri adalah adanya alasan yang mendukung untuk bisa menjadi diri sendiri, merasa aman dan nyaman dengan kondisi dan situasi yang dimiliki sehingga tidak merasa canggung memunculkan diri kepada lingkungan (Sidi, 2008).

MT lebih suka menghabiskan waktu di rumah dan tidak menyukai kegiatan di luar rumah. MT tidak punya alasan kuat yang mendukungnya untuk berani tampil di lingkungan sosial karena di lingkungan rumah sendiri MT mengalami krisis identitas, merasa dianak tirikan, merasa tidak disayangi, sehingga mungkin saja MT berpikir bahwa keluarga sendiri yang jelas-jelas punya hubungan darah tidak menerima dirinya secara utuh apalagi orang lain yang ada di lingkungan sosial.

b)   Kemarahan atau dendam

Sebenarnya MT sangat marah dengan H yang selalu menganiaya dirinya dan juga kepada keluaraga khususnya orang tua yang membiarkan pengianiayaan berupa penyiksaan fisik dan verbal yang dilakukan oleh H, ia juga sangat marah kepada dirinya yang tidak mampu untuk melawan. MT mengalami penderitaan tersebut sejak berusia kanak-kanak, dia tidak berdaya untuk melawan orang-orang yang menyakitinya sehingga dirinya melakukan pelampiasan dengan “melawan” penganiaayaan tersebut setelah dia mendapatkan kekuatan. Ketika MT merasa dirinya lebih kuat dari adik-adiknya maka balas dendam pun dilakukan dengan adik-adiknya sebagai objek pelampiasan. Hal ini dapat dijelaskan oleh teori psikodinamika bahwa kemarahan yang dialami MT, oleh Freud dan para pengikutnya diyakini bahwa agresi yang dilakukan MT kepada adik-adiknya atau ke benda-benda lain yang dianggap subtitub dari kemawahannya adalah wakil dari kemarahan yang diarahkan kedalam diri sekian lama (Nevid dkk, 2005).

c)    Proses internalisasi nilai-nilai serta konsep diri yang salah.

Sigmund Freud mengajukan tiga konsep utama yang mendasari perilaku manusia. Pertama, struktur kepribadian yang terdiri atas id, ego, dan superego. Ketiga struktur kepribadian tersebut akan mewarnai perilaku seseorang. Kedua, tingkat kesadaran yaitu bawah sadar, ambang sadar dan tingkat sadar. Tingkat kesadaran menunjuk pada letak di mana id, ego dan superego berada, dan selanjutnya menggambarkan kekuatan masing-masing struktur tersebut dalam mempengaruhi perilaku seseorang. Ketiga, perkembangan psikoseksual yang menyatakan bahwa bayi sejak dilahirkan melalui tahap-tahap perkembangan yang kemudian terpusat pada perkembangan moralitas (Andayani dan Koentjoro, 2004).

Superego terdiri atas dua hal yaitu ego-ideal yang berupa konsep tentang perilaku yang baik dan buruk; conscience yang berupa konsep tentang hal yang betul dan salah. Supergo terbentuk pada diri anak dalam berhubungan dengan orangtuanya, terutama dengan orang tua jenis kelamin sama dimulai pada saat anak berusia sekitar 4-6 tahun. Proses pembentukan terjadi melalui proses identifikasi dan internalisasi. Proses identifikasi dan internalisasi ini akan menghasilkan superego, dan hasil pembentukan ini dapat berupa superego yang kuat, lemah atau menjadi ekstrim, tergantung pada nilai-nilai yang dikenalkan oleh orang tua dalam proses ini (Andayani dan Koentjoro, 2004).

Berdasarkan pemaparan di atas maka peneliti memandang bahwa dalam diri MT telah terbentuk superego yang ekstrim dikarenakan nilai-nilai yang dia dapatkan saat usia 4-6 tahun. MT sejak kecil sudah diperlihatkan bentuk-bentuk agresi, baik itu dari kakaknya maupun dari orang tua (dengan dalih hukuman). Yang paling parah adalah nilai agresifitas dari kakaknya yang diperkuat dengan tidak adanya pembelaan dari orang tua kepada MT sehingga terbentuk nilai yang ekstrim dalam diri MT bahwa agresifitas adalah sesuatu yang lumrah yang dilakukan kepada orang yang lebih lemah.

Selain itu, MT merasakan penderitaan yang besar baik penderitaan fisik maupun psikis sejak kanak-kanak sampai remaja. Penderitaan tersebut tidak dapat MT lawan sehingga MT hanya menerimanya dengan pasrah, dengan kepasrahannya itu maka penderitaan yang dialaminya masuk di alam bawah sadarnya sehingga terkadang reaksi emosional MT meledak-ledak dan melampiaskan kepada adik-adiknya sebagai bentuk perlawanan dan pelampiasan atas penderitaan yang pernah dia alami.

MT juga mempunyai konsep diri yang salah dikarenakan perbandingan-perbandingan perlakuan yang dirinya terima dari orang tuanya. Erikson memandang perkembangan melalui pendekatan psikososial yang lebih menekankan pada ego yang sehat atau identitas diri dan Erikson menekankan pada tahap Identity vs Identity Diffusion yaitu tahap saat anak mengembangkan identitas diri dengan kuat dengan memilih dari berbagai potensial yang dimilikinya.. Pada tahap ini krisis yang muncul akan berkaitan dengan masalah diri dan difusi konsep diri. Individu akan memilih identitas diri dari berbagai diri yang telah menjadi gambaran diri sebelumnya. Hal tersebut dapat memunculkan konflik dalam diri individu (Andayani dan Koentjoro, 2004). Pada diri MT telah terbentuk konsep diri atau identitas diri yang keliru bahwa MT merasa dianak tirikan oleh kedua orang tuanya disebabkan karena tidak semua kebutuhannya dipenuhi seperti kedua orang tuanya memenuhi kebutuhan kakak-kakak dan adik-adik MT. selain itu, MT merasa perlakuannya selalu salah di depan orang tuanya sedangkan perbuatan H kepadanya sewaktu kanak-kanak sama sekali tidak pernah ditegur, H tidak pernah mendapat hukuman atas tindakan agresinya kepadanya.

Potret dalam keluarganya merupakan nilai-nilai sosial pertama yang MT pelajari sehingga nilai-nilai yang kuat yang muncul di dalam rumah akan menjadi pembentuk kepribadian MT. Hal tersebut dipertegas oleh Havighurst – seorang teoris perkembangan – (Andayani   dan Koentjoro, 2004) yang menyatakan bahwa tugas perkembangan bersumber pada tiga hal. Pertama, bersumber pada kematangan fisik seperti kemampuan untuk berjalan, berperilaku sesuai dengan jenis kelaminnya. Kedua, bersumber pada tekanan sosial dari masyarakat, misalnya belajar untuk membaca, berpartisipasi secara positif sebagai anggota masyarakat. Ketiga, bersumber dari nilai-nilai personal dan aspirasi individu yang merupakan bagian dari diri atau kepribadian. Havighurst menyatakan bahwa kepribadian atau diri terbentuk dari interaksi individu dengan kekuatan-kekuatan sosial. Kekuatan-kekuatan sosial yang paling berpengaruh adalah kekuatan sosial yang MT dapatkan di dalam keluarga sejak kanak-kanak. Kekuatan sosial tersebut berupa agresifitas.

  1. Model terapi

Salah satu langkah pemecahan masalah yang tepat untuk masalah keluarga F khususnya masalah MT adalah pemberian konseling keluarga karena dalam keluarga F terdapat salah seorang yang tidak dapat mengaktualisasikan dirinya disebabkan karena adanya masalah hubungan dengan anggota keluarga lainnya. Hal tersebut sesuai yang dipaparkan oleh Mahmud dan Sunarty (2006) bahwa secara umum konseling keluarga dibutuhkan apabila dalam suatu keluarga terdapat salah seorang anggota keluarganya yang gagal mengaktualkan kemampuannya untuk melaksanakan fungsinya di dalam keluarga atau timbul masalah keluarga yang sangat sulit untuk dipecahkan tanpa kerjasama dengan anggota keluarga lainnya.

Secara khusus konseling keluarga dianjurkan bilamana di dalam keluarga timbul konflik perkawinan, terjadi persaingan yang tidak sehat anta saudara kandung, muncul konflik antar generasi dalam keluarga, adanya problem suami-isteri, dan lain-lain (Mahmud dan Sunarty, 2006). Perez (Mahmud dan Sunarty, 2006) menyatakan terdapat empat tujuan umum konseling keluarga, antara lain:

a)    Membantu anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan anggota keluarga.

b)   Membantu anggota keluarga agar dapat menerima kenyataan bahwa apabila salah seorang anggota keluarga memiliki permasalahan, hal itu akan berpengaruh terhadap persepsi, harapan, dan interaksi anggota keluarga lainnya.

c)    Memperjuangkan (dalam konseling), sehingga anggota keluarga dapat tumbuh dan berkembang guna mencapai keseimbangan dan keselarasan.

d)   Mengembangkan rasa penghargaan dari seluruh anggota keluarga terhadap anggota keluarga yang lain.

Adapun model terapi dalam konseling keluarga yang dianggap tepat untuk mengatasi masalah MT adalah terapi pendekatan psikodinamika dan pendekatan komunikasi.

Pendekatan psikodinamika diharapkan mampu mengatasi permasalahan superego yang ekstrim pada diri MT yang disebabkan adanya internalisasi nilai-nilai yang salah pada usia 4-6 tahun juga untuk mengatasi masalah MT yang mempunyai konsep diri yang salah dikarenakan perbandingan-perbandingan perlakuan yang dirinya terima dari orang tuanya pada tahap Identity vs Identity Diffusion (tahap perkembangan psikososial Erikson).

Pendekatan Psikoanalisis menggunakan orientasi waktu ke masa lalu, yaitu menelusuri pengalaman klien pada usia dini perkembangannya yang diduga ada kaitannya dengan permasalahan yang dialaminya sekarang. Disamping itu, pendekatan ini sangat menekankan peranan proses alam ketidaksadaran (Mahmud dan Sunarty, 2006).

Penganut prikodinamika beranggapan bahwa konflik-konflik masa lalu lebih banyak berada di luar kesadaran individu dan keadaan itu selalu mempengaruhi sikap, pikiran, dan perilaku. Adapun tujuan dari pendekatan psikodinamika adalah meningkatkan kesadaran, meningkatkan kematangan psikoseksual, memperbaiki fungsi ego, mereduksi psikopatologis, dan memperbaiki reaksi klien terhadap dunia sekitarnya (Goldenberg dan Goldenberg dalam Mahmud dan Sunarty, 2006).

Pendekatan yang kedua adalah pendekatan komunikasi. Pendekatan komunikasi memiliki orientasi yang berbeda dengan pendekatan psikodinamika. Pendekatan komunikasi orientasi waktunya masa kini sedangkan orientasi waktu pendekatan psikodinamika adalah masa lalu. Meskipun demikian, peneliti tetap merasa bahwa untuk menyelesaikan permasalahan MT maka dibutuhkan komunikasi yang baik antara orang tua, saudara dengan MT. permasalahan tidak akan pernah terselesaikan jika tetap saja tidak ada komunikasi yang baik antara ayah, ibu, kakak, dan adik-adiknya. Mengapa orang tua selama ini memperlakukan MT berbeda dengan saudaranya yang lain, mengapa MT selalu disalahkan sewaktu menyakiti adiknya sedangkan kakanya tidak disalahkan sewaktu dirinya disakiti, mengapa kebutuhan-kebutuhannya tidak dipenuhi dengan mudah, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat kondisi emosional MT terganggu.

Pendekatan komunikasi dalam konseling keluarga dikembangkan oleh Jackson, Erickson, Haley, Mademes, dan Selvini Palazzoli. Pendekatan komunikasi menggunakan orientasi waktu saat ini dan menekankan upaya untuk memahami problem atau simptom yang dialami oleh keluarga yang sedang dikonseling dalam konteks jalanan komunikasi antar-anggota keluarga. Peran psoses ketidaksadaran dalam proses konseling tidak terlalu diperhatikan dalam pendangan pendekatan ini. Perilaku anggota keluarga, aturan-aturan keluarga, keseimbangan, dan pemberian atau penerimaan balikan terhadap anggota keluarga menjadi unit studinya sehingga kegiatan konseling lebih berorientasi pada tindakan daripada interpretasi, pengubahan prilaku dan upaya mereduksi simptom.

  1. Proses terapi

Beberapa langkah yang harus ditempuh oleh seorang konselor sebelum benar-benar memberikan terapi, antara lain:

a)    Seorang konselor harus melakukan metode interviu keluarga terstruktur dengan menanyakan kepada anggota keluarga secara terpisah, kemudian secara bersama-sama. Dari hasil interviu akan diperoleh kesenjangan-kesenjangan yang terjadi dalam interaksi keluarga. Kesenjangan ini didiskusikan oleh semua anggota keluarga guna memecahkan masalah, dan pada akhirnya konselor menugaskan secara bersama-sama kepada anggota keluarga untuk merencanakan secara bersama-sama apa yang dapat mereka lakukan bersama.

b)   Konselor mengevaluasi keluarga dengan metode sejarah keluarga untuk mendapatkan riwayat keluarga secara lengkap dan rinci.

c)    Konselor melakukan metode genogram untuk mengetahui riwayat permasalahan. Genogram adalah suatu struktur diagram sistem keluarga yang memuat hubungan multi generasi.

d)   Metode analisis fungsional digunakan untuk mencermati kasus-kasus sikap kepemimpinan dan problem komunikasi pada suami yang mungkin saja akan memberikan dampak negatif terhadap anak.

e)    Metode penilaian dimensi keluarga adalah dengan mengetahui respon anggota keluarga terhadap tiga tugas. Pertama, tugas dasar yaitu bagaimana anggota keluarga menangani masalahnya. Kedua, bagaimana mereka menangani krisis yang timbul akibat perubahan waktu, sepeti kelahiran pertama, kelahiran terakhir, saat anak dewasa. Ketiga, tugas bahaya yaitu bagaimana menangasi krisis yang timbul akibat penyakit, kecelakaan, kurang pemasukan keluarga

f)    Setelah konselor merasa informasi yang didapatkan sudah lengkap dan terperinci serta masalah-masalah yang ada dalam keluarga nampak jelas, dalam hal ini apa saja yang menyebabkan perilaku agresi pada MT, apakah masalah komunikasi dengan keluarga yang lain, agresifitas H, perbedaan sikap orang tua terhadap MT, dan lain-lain.

g)   Konselor harus memberikan intervensi individual terhadap MT berkaitan dengan masalah identitas diri dan konsep dirinya yang salah dengan menggunakan pendekatan psikodinamikan dalam konseling keluarga.beberapa strategi terapeutik dalam pendekatan psikodinamika yaitu penggunaan hubungan sistematik antara klian dan konselor, melakukan identifikasi dan analisi terhadap penolakan dan pertahanan, asosiasi bebas, analisis mimpi kemudian melakukan interpretasi (McLeod, 2006)..

h)   Di lain pihak konselor berusaha memberikan keterampilan komunikasi efektif bagi orang tua MT agar orang tua dapat membangun hubungan komunikasi dengan anak-anaknya terutama kepada MT dapat menjelaskan dengan baik perihal perasaan-perasaan MT yang merasa dianak tirikan. Meskipun intervensi individual berhasil dilakukan oleh konselor tapi jika komunikasi antara anggota keluarga tidak berjalan dengan baik maka kelak akan menimbulkan kesalah pahaman yang baru dan akan berakibat gangguan emosional yang baru bagi MT sendir maupun bagi saudara MT yang lain.

F. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka didapatkan beberapa kesimpulan, antara lain:

  1. Masalah yang terjadi pada keluarga F berpusat pada masalah agresifitas yang dialami oleh MT.
  2. Agresifitas MT merupakan bentuk dari kemarahan dan dendam atas perlakuan agresi yang didapatkannya dari H dan mulai muncul ketika MT duduk di bangku SMP hingga sekarang.
  3. Bentuk egresi MT adalah agresi fisik, verbal, dan penyerangan terhadap objek.
  4. Selain disebabkan karena kemarahan dan dendam yang tak tersalurkan, MT juga bermasalah dengan identitas diri dan konsep dirinya.
  5. Terjadi hubungan komunikasi antar anggota keluarga yang tidak efektif sehingga memberi peluang bagi semua anggota keluarga untuk melakukan interpretasi yang berbeda-beda (kesalah pahaman) terhadap satu perlakuan.
  6. Model terapi konseling keluarga yang cocok adalah pendekatan psikodinamikan dan pendekatan komunikasi dalam konseling keluarga untuk memperbaiki identitas diri dan konsep diri MT dan juga mengangkat segala bentuk kemarahan yang terpendam dalam alam bawah sadar MT, serta memberikan keterampilan kepada semua anggota keluarga untuk bisa menjalinn komunikasi yang sehat dan efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Andayani, B., & Koentjoro. 2004. Psikologi Keluarga; Peran Ayah menuju Coparenting. Wage Taman Sepanjang: CV. Citra Media.

Danim, S. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Dayakisnih, T., & dan Hudaniyah. 2006. Psikologi Sosial. Malang: UMM Press.

Hadi, S. 2004. Metodologi Research Jilid 2. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Mahmud, A., & Sunarty, K. 2006. Dasar-dasa Bimbingan dan Konseling Keluarga. Makassar: Samudra Alif-Mim.

McLeod, J. 2006. Pengantar Konseling; Teori dan Studi Kasus. Jakarta: Kencana.

Nevid, Jeffrey S, dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Edisi kelima. Jakarta: Erlangga.

Sidi, I.P.S. 2008. Ayah Vs Anak Lelakinya; Panduan bagi Orang Tua, Khususnya Ayah dalam Menjalin Hubungan yang Harmonis dengan Anak Lelakinya. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.