Hasil evaluasi microteaching sudah keluar. Sebenarnya hasilnya sudah lama keluar dan mahasiswa Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI)  sudah bisa mengetahui hasilnya dari beberapa pekan yang lalu hanya saja dosen Pembimbing Akademik (PA) ku baru pulang dari mengerjakan tugasnya di Padang sehingga baru hari ini kami dapat bertemu dan memperlihatkan hasil evaluasinya kepadaku dan kepada tiga orang temanku yang lain.

Ada perasaan bingung dan juga sedih melihat nilai microteaching ku. Sungguh tidak sesuai dengan yang aku duga. Aku masih ingat beberapa saat setelah microteaching teman-temanku  mengomentari kalau penampilanku sangat bagus. Penampilanku alami selayaknya seorang guru yang sedang mengajar di kelas. Aku sangat senang dengan penilaian teman-temanku karena memang aku juga merasa demikian. Aku merasa kalau penampilanku bagus…

Satu-satu kujejali tiap indikator penilaian microteaching tersebut. Kuamati bagian mana dari indikator tersebut aku memperoleh nilai yang rendah.

“Ini tidak mewakili kemampuan kalian sebenarnya. Ini tidak mewakili bahwa kalian sudah bisa atau belum. Jangan berkecil hati.”

Seperti itu kata PA ku padaku dan kepada beberapa temanku yang juga mendapatkan nilai yang dibawah yang kami harapkan. Aku pun mengangguk, tapi tidak setuju sepenuhnya dengan apa yang barusan dikatakan oleh PA ku.

Kembali kuraih lembar penilaian itu. Kembali kuamati satu-satu, lebih detil dari pengamatanku sebelumnya. Ada beberapa bagian dari indikator penilaian itu di mana nilaiku kosong. Aku tidak mengerti mengapa diberikan nilai kosong? Apakah penguji saat itu memang merasa indikator itu tidak perlu dibubuhi nilai atau kah memang sebegitu buruk penampilanku?

Oh Allah… aku bingung…!!!

Hikmah…hikmah…hikmah…

Ku arahkan daya kognitifku untuk mencari HIKMAH itu. Anggap saja itu adalah bentuk defence mecanism-ku untuk meruntuhkan kekecewaan dan kebingunganku.

Akhirnya… ku ingat semua. Saat-saat persiapan microteaching. Saat itu, aku betul-betul mengalami krisis rasa percaya diri. Bingung stengah mati tentang bagaimana aku harus mengajar dan bagaimana aku harus membuat RPP. Saat itu, ku mencari dukungan dan kedamaian hati dari beberapa orang yang kuanggap masukan-masukannya bisa membuatku lebih tenang. dan memang aku jadinya lebih tenang….

Saking tenangnya, aku malah kebablasan jadi begitu santai dalam mempersiapkan segala-galanya. Baik itu RPP maupun media pembelajaran yang akan ku gunakan dalam microteaching. Ku ingat, saat itu teman-temanku dengan semangatnya mempersiapkan semuanya sedangkan aku lebih sibuk bersantai-santai ria. Mungkin aku terlalu PERCAYA DIRI, sampai-sampai aku baru menyiapkan media pembelajaran pada saat aku melihat kesungguhan teman-teman mempersiapkan media pembelajaran dan aku tergugah karenanya.

Yup Lengkap Sudah. Aku Siap Microteaching !!!

“Sudah sudah… bangun dari flash back panjangmu Makkita !!! Kini kau sudah temukan di mana masalahnya bukan? Wajar saja kalau beberapa teman-teman yang lain mendapat nilai yang lebih bagus dari nilaimu karena dilihat dari usaha dan kesungguhan sesungguhnya mereka sudah mendapatkan nilai yang lebih tinggi dari dirimu.” Ronta batinku…

Aku kembali mengingat jejak-jejak langkahku menempuh pendidikanku. Sungguh tak pernah sekalipun aku mendapat nilai yang lebih bagus dari teman-temanku jika aku tidak belajar sungguh-sungguh. Pasti ada-ada saja yang menyebabkan nilaiku rendah. Berbeda pada saat aku belajar sungguh-sungguh maka aku selalu mendapatkan nilai sempurna atau paripurna.

Aku kembali tersadarkan, sungguh tak sekalipun Allah memberiku “hadiah” yang kuinginkan jika aku tidak pantas untuk mendapatkannya dalam artian aku jika menginginkan ITU maka aku harus melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan hal ITU. Tidak ada Kompromi dan tidak ada KEBETULAN !!!

Ya… Aku harus mensyukuri itu ya Allah. Aku tahu Engkau begitu mencintaiku sehingga Engkau tak pernah sekalipun melenakan aku dengan HADIAH KEBETULAN dari MU. Ya… Seperti ini Engkau MENDIDIKKU !!!