“Jika kamu bersyukur pasti akan aku tambah (nikmat-Ku) untukmu dan jika kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih”

Seperti itulah janji Allah dalam Kitab Suci Al-Qur’an.

Jika kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmatnya untuk kita, tetapi jika kita kufur maka balasannya adalah azab dari Allah.

Hari ini, Allah mengajarkanku tentang arti dari rasa syukur, dan itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagiku, Insyaallah selamanya akan aku ingat peristiwa ini ya Allah.

Tentang arti atau makna dari sebuah rasa syukur…

Setiap dari kita mungkin sudah mengerti konsep dari rasa syukur itu. Setiap dari kita mungkin sudah paham bahwa adalah suatu kewajiban bagi kita semua untuk senantiasa mensyukuri apapun yang ada pada diri kita, apapun yang terjadi pada diri kita, apapun yang kita dapatkan setiap harinya.

Sama dengan diriku. Aku paham semuanya, aku mengerti semuanya namun masih kurang dalam meyakini janji Allah yang terangkum dalam firmannya sehingga masih saja diri ini merasa tidak puas, merasa iri dengan nikmat yang didapatkan teman, merasa semua yang kumiliki belumlah cukup. Ya, sekali lagi aku katakan aku mengerti teori dari syukur itu namun seperti yang dikatakan oleh Ari Ginanjar Agustian (penggagas ESQ 165) mungkin pemahaman itu masih dalam tataran kecerdasan intelektual dan belum merasuk ke kecerdasan emosional atau bahkan ke kecerdasan spiritualku. Aku belum mampu memaknai nikmat-nikmat yang setiap hari Allah hadiahkan untukku, meskipun terkadang hadiah yang kudapatkan jauh lebih baik dari pada apa yang dihadiahkan Allah kepada orang lain.

Tapi berbeda dengan hari ini, sungguh perlahan Allah membuka mataku tentang betapa sederhananya konsep syukur dan aplikasinya dalam kehidupan kita. Allah dengan sempurna dan alami mengajariku cara bersyukur pada saat proses perkuliahanku hari ini.

Hari ini, tepatnya tanggal 3 Februari 2011 kami mahasiswa Sekolah Guru Ekselensia Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhu’afa (SGEI LPI-DD) disuguhkan materi Penelitian Tindakan Kelas yang dibawakan oleh bapak Wijaya Kusumah seorang guru dan juga seorang peneliti di bidang pendidikan. Pada proses perkuliahan tersebut temanku mendapat hadiah sebuah buku dari pak Wijaya sebagai bentuk aspirasi pak Wijaya kepada temanku karena temanku tersebut mampu membaca satu buku secara tuntas dalam seminggu. Pada saat itu terbersit rasa cemburu di dalam hatiku. Bukankah itu perasaan yang sangat manusiawi, ketika orang lain mendapat sesuatu yang bagus-bagus maka kita akan berpikir kalau sebenarnya kita juga pantas mendapatkan itu. Rasa cemburu bisa menjadi pemicu untuk menjadi lebih baik, tapi bisa juga menjadi racun yang melemahkan.

Dengan senyum yang merekah di wajah temanku, dia berjalan ke arahku lalu kemudian duduk di kursinya yang kebetulan tepat di samping kiriku. Dia mengusap-usap buku yang dihadiahkan kepadanya masih dengan senyum yang merekah. Saat itu masih ada sisa-sisa rasa cemburu di dadaku namun kemudian aku cepat-cepat meluruskan perasaan tersebut menjadi suatu kesyukuran. Alhamdulillah, meskipun bukan aku yang mendapatkan hadiah buku tersebut tapi setidaknya temanku lah yang mendapatkannya. Temanku yang sama-sama berasal dari daerah yang sama denganku, temanku yang sama-sama berasal dari pavilium yang sama denganku, dak akhirnya aku menjabat tanggannya dan memberikan ucapan selamat. Sungguh, dengan sendirinya perasaan cemburuku pun redam tergantikan bahagia dan senyum yang ikut merekah…

Kembali aku konsentrasi dengan proses perkuliahan, sampe akhirnya kami mendapat tugas yaitu mengurutkan kerangka penelitian tindakan kelas (PTK) tapi sebelumnya kami sudah dikelompok dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang. Alhamdulillah, kelompokkulah yang pertama kali berhasil mengurutkan kerangka PTK tersebut, dan alhamdulillah lagi kami mendapatkan hadiah buku yang sama seperti yang temanku tadi dapatkan. Aku sempat terdiam beberapa saat di depan kelas ketika pak Wijaya menyerahkan buku itu kepadaku. Sejenak berkelebat janji Allah:

“Jika kamu bersyukur pasti akan aku tambah (nikmat-Ku) untukmu dan jika kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih”

Aku terkejut, ya Allah, secepat itukah Engkau membalas rasa syukurku?

Tidak berhenti sampai di situ. Pak Wijaya kemudian memberikan tugas kedua kepada kami, yaitu menuliskan delapan hal yang menjadi kiat sukses PTK. Alhamdulillah lagi, aku merupakan salah satu dari tiga orang yang mendapatkan poin tertinggi dan lagi-lagi aku medapat hadiah dari bapak Wijaya. Kembali dalam hati aku tertegun…. Seperti inikah nikmat syukur ya Allah?

Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya)