Tags

,

Teori Psikologi tentang manusia dan kaitannya dengan komunikasi

A. Pendekatan Psikoanalisis

Pendekatan psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku manusia merupakan interaksi antara komponen biologis (id) komponen psikologis (ego) dan komponen sosial (superego). Id berisi dorongan-dorongan biologis yang bermuara pada pencapaian kesenangan. Ego bergerak atas prinsip realitas yang membawa kita ke kenyataan, superego berisi hati nurani yang berlaku sebagai polisi kepribadian (Sofa, 2008).

Rakhmat (2005) menambahkan bahwa Freud menjelaskan id sebagai sumber kebutuhan, bukan hanya yang bersifat seksual tetapi juga meliputi segala hal yang mengandung kesenangan. Kebutuhan Id akan mempengaruhi tingkah laku manusia.

Berdasarkan penjelasan mengenai pendekatan psikoanalisa, saya melihat bahwa kedudukan komunikasi adalah membantu manusia untuk memenuhi kebutuhan Id-nya. Bagaimana manusia mampu mengkomunikasikannya dengan orang lain (yang bersangkutan/berhubungan dengan kebutuhan). Misalnya, seseorang menginginkan makanan maka orang tersebut akan mengkomunikasikan bahwa dirinya butuh makanan kepada penjual makanan.

B. Pendekatan Behavioral

Sementara itu behavorisme menyatakan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh peneguhan (reinforcement), tindakannya atas dasar ganjaran dan hukuman (reward and punishment). Sementara kemampuan potensialnya untuk berperilaku didapatkannya melalui peniruan (imitation) dalam proses belajar sosial (social learning) (Sofa, 2008).

Rakhmat (2005) memaparkan bahwa Psikologi Behavioral juga dikatakan sebagai teori belajar yang berasumsi bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan yang direpresentasikan dalam bentuk reward (penghargaan) dan punishment (hukuman).

Reward dan punishment bisa dalam bentuk verbal dan non verbal, dalam artian komunikasi juga bisa digunakan sebagai media untuk memberikan penghargaan atau hukuman. Misalnya, bila ada anak yang melakukan hal yang baik terus kita memberikan penghargaan berupa pujian maka anak tersebut kemungkinan akan mempertahankan perilaku baik tersebut.

C. Pendekatan Kognitif

Pendekatan kognitif melihat manusia sebagai makhluk yang selalu berpikir karena ia berusaha memahami lingkungannya (Sofa, 2008). Rakhmat (2005) menambahkan bahwa dalam pendekatan kognitif dijelaskan bahwa manusia membutuhkan informasi yang akurat, belum tentu yang dilihat dan yang didengar secara sepihak itu adalah sesuatu yang benar oleh karena itu dibutuhkan informasi tambahan dari orang lain melalui komunikasi.

D. Pendekatan Humanistik

Pendekatan humanistik mendasarkan pandangannya atas dasar asumsi keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna (Sofa, 2008). Rakhmat (2005) menambahkan bahwa pendekatan humanistik menekankan keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna serta kemampuan untuk mengembangkan dirinya, dan berhubungan secara baik dengan orang lain.

Kemampuan manusia untuk berkomunikasi dengan manusia yang lain adalah berbeda-beda dan perbedaan itu merupakan salah satu indikasi bahwa manusia mempunyai keunikannya sendiri-sendiri.

II. Faktor-faktor yang mempengaruhi manusia dalam berkomunikasi

A. Faktor Eksternal (situasionlal)
Faktor eksternal atau situasional yang mempengaruhi manusia dalam berkomunikasi adalah (http://sulur.students-blog.undip.ac.id, 2009):

1. Faktor teknis

Faktor bersifat teknis yaitu kurangnya penguasaan teknis komunikasi. Teknik komunikasi mencakup unsur-unsur yangada dalam
komunikator dikala mengungkapkan pesan menjadi lambang-lambang.
kejelian dalam memilih saluran, metode penyampaian pesan (http://sulur.students-blog.undip.ac.id, 2009).

2. Faktor keterbatasan waktu

Sering karena keterbatasan waktu orang tidak berkomunikasi, atau
berkomunikasi secara tergesa-gesa yang tentunya tidak akan bisa
memenuhi persyaratan-persyaratan komunikasi (http://sulur.students-blog.undip.ac.id, 2009).

3. Status sosial

Jarak psychologis biasanya terjadi akibat adanya perbedaan status, yaitu
status sosial maupun status dalam pekerjaan. Misalnya, seorang pesuruh
akan sulit berkomunikasi dengan seorang menteri karena ada jarak
psichologis yaitu pesuruh merasa statusnya terlalu jauh terhadap menteri.
Selanjutnya, ada orang yang hanya ingin mendengar informasi yang dia
senangi saja, sedangkan informasi lainnya tidak (http://sulur.students-blog.undip.ac.id, 2009).

4. Evaluasi terlalu dini

Seringkali orang sudah mempunyai prasangka, atau sudah menarik suatu
kesimpulan sebelum menerima keseluruhan informasi atau pesan. Hal ini
jelas menghambat komunikasi yang baik (http://sulur.students-blog.undip.ac.id, 2009).

5. Lingkungan yang tidak mendukung

Komunikasi interpersonal akan lebih efektif jika dilakukan dalam
lingkungan yang menunjang, berikut ini beberapa contoh suasana
lingkungan yang tidak menunjang atau mendukung yaitu (http://sulur.students-blog.undip.ac.id, 2009):
 Keadaan suhu (terlalu panas atau terlalu dingin).
 Keadaan ribut atau bising
 Lingkungan fisik yang tidak mendukung (ruang terlalu sempit/kurang
keleluasaan pribadi)

6. Rintangan fisik

Rintangan fisik adalah rintangan yang disebabkan karena kondisi
geografis misalnya jarak yang jauh sehingga sulit dicapai, tidak adanya
sarana kantor pos, kantor telepon, jalur transportasi dan semacamnya (http://sulur.students-blog.undip.ac.id, 2009).
Rintangan fisik dalam komunikasi antar manusia bisa juga diartikan
karena adanya gangguan organik, yakni tidak berfungsinya salah satu
panca indra penerima (http://sulur.students-blog.undip.ac.id, 2009).

B. Faktor Internal

Faktor internal yang mempengaruhi manusia dalam berkomunikasi adalah (http://sulur.students-blog.undip.ac.id, 2009):

1. Faktor perilaku

Bentuk dari perilaku yang dimaksud adalah perilaku komunikan yang
bersifat : pandangan yang bersifat apriori, prasangka yang didasarkan
atas emosi, suasana yang otoriter, ketidak mampuan untuk berubah
vvalaupun salah, sifat yang egosentris (http://sulur.students-blog.undip.ac.id, 2009).

2. Keadaan fisik

Komunikator sedang sakit, juga mempengaruhi komunikasi, atau kalau
komunikator mempunyai cacat seperti suara sengau. gagap dan
sebagainya akan mengakibatkan pesan yang disampaikan tidak jelas
tertangkap oleh sasaran.

3. Keadaan psikis/perasaan

Komunikator sedang mempunyai masalah pribadi hingga pikiran
kacau. Hal ini akan mengakibatkan pesan yang disampaikannya juga
kacau, tidak sistematis hingga membingungkan pendengar/sasaran

4. Gangguan bahasa
a. Komponen semantik : Blake (http://sulur.students-blog.undip.ac.id, 2009) menjelaskan bahwa Gangguan Semantik ialah gangguang komunikasi yang disebabkan karena kesalahan pada bahasa yang
digunakan. Gangguang semantik sering terjadi karena:
– Kata-kata yang digunakan terlalu banyak memakai jargon bahasa
asing sehingga sulit dimengerti oleh khalayak tertentu.
– Bahasa yang digunakan pembicara berbeda dengan bahasa yang
digunakan oleh penerima.
– Komponen semantik meliputi, pengetahuan objek. hubungan objek,
dan hubungan peristiwa.
b. Komponen Struktur menurut Lahey (http://sulur.students-blog.undip.ac.id, 2009)
– Struktur bahasa yang digunakan tidak sebagaimana mestinya
sehingga membingungkan penerima.
– Komponen Struktur meliputi, fonologi, morfologi, dan sintaksis.
c. Komponen Penggunaan / Pragmatik menurut Lahey (http://sulur.students-blog.undip.ac.id, 2009) yaitu meliputi fungsi dan konteks. Penguasaan akan komponen ini menjadikan mampu mengawali komunikasi, memelihara komunikasi dan mengakhiri komunukasi.

Sofa (2008) menambahkan bahwa faktor personal yang mempengaruhi manusia dalam berkomunikasi terdiri dari faktor biologis dan faktor sosiopsikologis, sedangkan faktor situasional terdiri dari tujuh faktor.

1. Faktor Personal

a. Faktor biologis

Menekankan pada pengaruh struktur biologis terhadap perilaku manusia. Pengaruh biologis ini dapat berupa instink atau motif biologis. Perilaku yang dipengaruhi instink disebut juga species characteristic behavior misalnya agresivitas, merawat anak dan lain-lain. Sedangkan yang bisa dikelompokkan dalam motif biologis adalah kebutuhan makan, minum dan lain-lainnya.

b. Faktor sosiopsikologist

Faktor sosiopsikologist menyatakan bahwa proses sosial seseorang akan membentuk beberapa karakter yang akhirnya memengaruhi perilakunya. Karakter ini terdiri dari tiga komponen yaitu komponen afektif, kognitf dan komponen konatif.
Komponen afektif merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologist. Dalam komponen ini tercakup motif sosiogenesis, sikap dan emosi. Komponen kognitif berkaitan dengan aspek intelektual yaitu apa yang diketahui manusia. Komponen kognitif terdiri dari faktor sosiopsikologis adalah kepercayaan, yaitu suatu keyakinan benar atau salah terhadap sesuatu atas dasar pengalaman intuisi atau sugesti otoritas. Komponen konatif berkaitan dengan aspek kebiasaan dan kemauan bertindak. Kebiasaan adalah aspek perilaku manusia yang relatif.

2. Faktor Situasional

Menurut pendekatan ini, perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi, yang dapat berupa:
a. Faktor ekologis, misal kondisi alam atau iklim
b. Faktor rancangan dan arsitektural, misal penataan ruang
c. Faktor temporal, misal keadaan emosi
d. suasana perilaku, misal cara berpakaian dan cara berbicara
e. teknologi
f. Faktor sosial, mencakup sistem peran, struktur sosial dan karakteristik sosial individu
g. lingkungan psikososial yaitu persepsi seseorang terhadap lingkungannya
h. stimuli yang mendorong dan memperteguh perilaku.

SUMBER:

Anonim. 2009. Prinsip Dasar dan Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi (Online) (http://sulur.students-blog.undip.ac.id/2009/06/22/prinsip-dasar-dan-faktor-yang-mempengaruhi-komunikasi/, diakses 3 Oktober 2009).
Rakhmat, J. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sofa. 2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku dalam Berkomunikasi (Online) (http: //massofa. wordpress. com/ 2008/0 3/ 26/ faktor-faktor – yang mempengaruhi-perilaku-dalam-berkomunikasi/, diakses 3 Oktober 2009).