Tags

,

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Sejak manusia dilahirkan,  manusia membutuhkan pergaulan dengan manusia lainnya (Gerungan, 2004). Hal ini berarti bahwa manusia tidak bisa lepas dari interaksi dengan manusia lainnya. Terdapat kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi individu dalam berhubungan dengan individu lain, Salah satunya adalah adanya kecemasan sosial. Menurut Hudaniah (2006), kecemasan sosial adalah perasaan tak nyaman dalam kehadiran individu lain, yang selalu disertai oleh perasaan malu yang ditandai dengan kejanggalan/ kekakuan, hambatan dan kecenderungan untuk menghindari interaksi sosial. Salah satu bentuk interaksi sosial yang biasanya berusaha dihindari oleh individu adalah yang sering mendatangkan stress seperti berbicara di depan umum.

Berbicara di depan umum dapat menimbulkan kecemasan karena setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia memiliki kecenderungan terjadinya kecemasan. Kecemasan biasanya direfleksikan lewat kata-kata berupa keluhan dan menunjukkan sikap pesimis. Menurut Sigmund Freud dalam Urban (2007), apa yang sedang terjadi di dalam diri memiliki sebuah cara untuk tergelincir keluar secara verbal. Kata-kata ini terkadang tidak disadari akan memberi dampak negatif pada individu. Menurut Urban (2007), gambaran yang dihadirkan kata-kata itu ke dalam kepala manusia akan memiliki efek yang kuat terhadap cara berpikir dan berbicara. Kata-kata negatif tersebut akan menjadikan individu semakin tidak percaya diri dan secara tidak langsung membuat individu tidak berhasil melalui kegiatan tersebut. Ketakutan dan rasa pesimis akan mendominasi pikiran individu karena kekhawatiran akan penilaian individu lain. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan penerapan positive words yang bersifat mendorong untuk menenangkan hati dan pikiran.

Saat ini jumlah penduduk di dunia semakin bertambah, banyak program sosial yang dilakukan untuk mengurangi buta aksara dan arus komunikasi semakin canggih. Namun, besarnya perubahan pada beberapa hal ini tidak menjadikan manusia memahami arti dan dampak sebuah kata. Kata dianggap sudah sewajarnya ada dan tidak memiliki pengaruh pada manusia. Kata-kata hanya merupakan alat yang dapat diakses dan digunakan setiap hari sejak individu mulai berbicara. Akan tetapi, setiap manusia sebenarnya melakukan berbagai kegiatan di dalam hidup ini,  seperti  berbicara, bekerja, mendengar, menulis, membaca, dan juga berpikir. Seluruh kegiatan tersebut tidak terlepas dari kata-kata. Arus komunikasi sangatlah ditunjang oleh penguasaan bahasa karena tidak dapat dipungkiri bahwa tanpa bahasa, tentunya kita tidak mampu mengapresiasikan sesuatu dengan sempurna.

Kata-kata sesungguhnya memiliki kekuatan yang luar biasa. Setiap kata yang keluar dari mulut individu akan berdampak pada kehidupannya baik kata itu bersifat positif atau negatif. Kesadaran akan kekuatan kata-kata dalam kehidupan manusia telah dimulai dibeberapa negara dengan berbagai program yang diberikan pada masyarakat. Namun, hal ini tidak dibiasakan baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Kata-kata negatif yang berupa umpatan atau kata kasar hanya menjadi ungkapan dari emosi yang dirasakan saat itu tanpa memikirkan pengaruhnya terhadap individu lain. Kata-kata yang mengandung unsur negatif dapat diubah menjadi kata yang lebih positif. Hal ini akan berdampak luar biasa baik bagi individu yang mengeluarkan kata-kata itu maupun individu yang mendengarnya.

Kemampuan menerapkan positive words merupakan sebuah solusi mengurangi kecemasan berbicara di depan umum. Namun, kemampuan ini tidak begitu saja mampu dilakukan individu karena manusia terkadang tidak mampu mengendalikan perasaannya. Individu mungkin mampu mengeluarkan kata-kata positif sebelum berbicara di depan umum, tetapi perasaan takut tetap dirasakannya karena semangat dari kata-kata positif dan optimistik belum mendominasi pemikirannya.

Pembiasan untuk menggunakan kata-kata positif yang dimulai dari sejak dini merupakan kunci dari berkurangnya kecemasan. Positive words yang ditanamkan pada anak mampu meningkatkan kepercayaan diri. Proses pembiasaan yang dilakukan orang tua, pendidik maupun masyarakat akan memberi keselarasan antara pikiran dan hati individu sehingga kata-kata positif yang diucapkan dengan hati akan menghasilkan hal yang baik. Oleh karena itu, penulis merasa perlu untuk mengangkat penerapan positive wordss sejak dini sebagai upaya mengurangi kecemasan berbicara di depan umum.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana peranan positive words sejak dini sebagai upaya mengurangi kecemasan berbicara di depan umum.
  2. Bagaimana metode penerapan positive words sejak dini sebagai upaya mengurangi kecemasan berbicara di depan umum.

C. Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui peranan positive words sejak dini sebagai upaya mengurangi kecemasan berbicara di depan umum.
  2. Untuk mengetahui metode penerapan positive words sejak dini sebagai upaya mengurangi kecemasan berbicara di depan umum.

D. Manfaat Penulisan

Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik manfaat teoritis maupun manfaat praktis.

  1. Manfaat Teoritis

Hasil penulisan diharapkan dapat menjadi salah satu sumber rujukan teoritis  untuk penulisan-penulisan dengan tema yang relevan. Penulisan karya tulis ini juga diharapkan  dapat menjadi salah satu referensi teoritis dalam disiplin ilmu psikologi khususnya psikologi sosial, psikologi positif, dan bidang lain yang terkait dengan topik yang diangkat dalam penulisan ini.

  1. Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penulisan diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi banyak pihak:

  1. Bagi penulis, dapat menjadi sarana berlatih terutama untuk mengembangkan keterampilan ilmiah. Dalam hal ini melakukan penelitian, mencari referensi, dan menyusun laporan ilmiah.
  2. Bagi orang tua atau pendidik, dapat menjadi lebih sadar akan kekuatan kata-kata mereka baik yang menghancurkan maupun yang membangun dan membiasakan penerapan kata-kata positif  (positive words) sejak dini untuk meningkatkan rasa percaya diri pada anak, khususnya berbicara di depan umum.
  3. Bagi anak-anak, dapat belajar sejak dini akan pembiasaan positive words sehingga kelak dapat membentuk pribadi yang lebih percaya diri, optimis dan sukses terutama sukses berbicara di depan umum.
  4. Bagi masyarakat, dapat ikut membantu penerapan kata-kata positif dengan mengurangi pemberian contoh kata negatif dalam lingkungannya.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Positive Words

Menurut Urban (2007),

Asal kata font atau fonik adalah dari bangsa Funisia. Orang-orang ini berasal dari sebelah timur Mediterania, yang bersama dengan bangsa Yunani, memberi akar-akar abjad modern. Dari akar-akar itu muncul kata-kata dan perkembangan sebuah bahasa, yang dianggap banyak orang sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah manusia. Kata-kata yang berbicara menggantikan gambar-gambar lukisan sebagai cara utama untuk berkomunikasi dengan individu lain.

Lebih lanjut Urban (2007) mengungkapkan bahwa kata adalah sebuah bunyi ujaran yang melambangkan atau mengomunikasikan sebuah makna dan merupakan isyarat verbal.

Kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa (DEPDIKNAS, 2005)

Maya Angelou dalam Urban (2007), pada sebuah wawancara dengan majalah USA Weekend mengatakan,

Saya yakin bahwa kata-kata itu berarti, dan kita tidak memiliki alat untuk mengukur kata-kata itu. Saya percaya bahwa kata-kata adalah sesuatu yang nyata, bukan yang berlangsung sebentar saja….bahwa kata-kata, begitu diucapkan, tidak akan pernah mati.

Kata-kata mampu membuat individu merasa sehat, pengharapan, bahagia, semangat, dan riangan. Namun kata-kata juga mampu membuat individu menderita depresi. Kata-kata terdiri dari kata positif dan negatif. Kata positif adalah kata-kata berupa dukungan, kebahagiaan, semangat, optimis dan berdampak positif bagi manusia. Sedangkan, kata negatif adalah kata-kata berupa sifat pesimis, kasar dan merupakan bentuk ekspresi dari rasa kesal, marah dan emosi negatif.

Implikasi psikologis dari kata-kata negatif amat besar pengaruhnya pada perkembangan jiwa individu, baik oleh individu yang mengucapkan atau individu yang menjadi obyek dari ucapan tersebut. Apabila kata-kata itu ditujukan kepada individu lain maka individu akan berkesimpulan seperti apa watak individu tersebut. Sedangkan apabila kata-kata itu ditujukan kepada diri sendiri, maka individu akan merasa tidak percaya diri, emosional, tidak bersemangat, dan tidak memiliki keyakinan untuk melakukan sesuatu dan pada akhirnya tidak mampu mengarahkan pada kemajuan (Nasruni,2008).

Pengaruh dari kedua kata ini dibuktikan Urban dalam eksperimen kecilnya. Dalam Urban (2007) dikatakan bahwa dalam eksperimennya anak-anak yang semula riang di dalam kelas menjadi stres setelah membaca daftar kata-kata negatif yang terdapat kata stress namun setelah lembaran berisi kata-kata positif diberikan. Suasana kelas berubah, terdapat percakapan serta tawa yang hidup bahkan lebih besar dari sebelum eksperimen ini dilakukan.

Prof. Emoto Masaru seorang ahli teori gelombang telah mengadakan penelitian sehubungan dengan kata-kata negatif dan positif. Ia mengatakan bahwa dalam eksperimennya ia secara bergantian melontarkan kata-kata positif seperti hebat, kamu bisa, terima kasih, serta kata-kata negatif seperti, saya tidak bisa dan menyebalkan di atas perdepanan air. Kemudian dengan suatu alat khusus ia mengamati citra yang dibentuk air sebagai akibat dari lontaran kata-kata tadi. Ternyata kata-kata negatif membentuk suatu citra yang rusak, tidak beraturan dan tidak estetis. Sebaliknya, kata-kata positif membentuk suatu citra yang teratur dan rapi, beraturan dan bernilai estetika tinggi. Bahan dasar tubuh manusia adalah air, maka pengaruh kata-kata positif dan negatif akan membentuk citra yang kira-kira sama (Nasruni, 2008).

Kata-kata positif mengandung, (1) perhatian, terdapat kesempatan mengucapkan sesuatu yang baik dan menyemangati; (2) kasih sayang, kata-kata penuh kasih akan mengurangi kebiasaan mengeluh; (3) meneguhkan, membangun dan mendorong (Urban, 2007).

Beberapa hal yang mempengaruhi kata-kata positif, (1) nada suara, banyak psikolog sosial mengklaim bahwa 40% komunikasi verbal dibuat melalui nada suara. Tinggi rendahnya suara adalah inti dari semua yang diucapkan nada inilah yang memberikan perasaan ke dalam kata-kata individu; (2) bahasa tubuh, individu sering menggunakan tubuh untuk mengekspresikan lebih dari separuh kata yang ingin diucapkan; (3) sentuhan, sentuhan yang lembut atau pelukan yang penuh kasih, dilakukan dalam suasana yang tepat, dapat menjadi cara yang kuat untuk menguatkan kata-kata (Urban, 2007).

B. Kecemasan Berbicara di Depan Umum

  1. Pengertian Kecemasan Berbicara di Depan Umum

Anxiety atau kecemasan menurut Chaplin (2004) merupakan, (1) perasaan campuran berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa-masa mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut; (2) Rasa takut atau kekhawatiran kronis pada tingkat yang ringan; (3) Kekhawatiran atau ketakutan yang kuat akan meluap-luap; (4) satu dorongan sekunder mencakup suatu reaksi penghindaran yang dipelajari. Sundari (2005) menyamakan antara kecemasan dan ketakutan. Ketakutan menurutnya merupakan bagian dari kehidupan  manusia.  Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan.

Albin (Mahdaleni, 2004) menyatakan bahwa kecemasan merupakan tanda adanya bahaya psikologis yang akan menyerang individu, bahaya tersebut disebabkan oleh adanya bayangan dari pengalaman buruk yang terjadi di masa lampau. Perasaan cemas tersebut dapat menyebabkan perasaan yang tidak menyenangkan pada individu sehingga perasaan yang menyebabkan individu tidak dapat memusatkan pikirannya serta berfikir secara nyata.

Kecemasan menurut Prasetyono (2005) adalah penjelmaan dari berbagai proses emosi yang bercampur baur, yang terjadi manakala seseorang sedang mengalami berbagai tekanan atau ketegangan (stress) seperti perasaan frustrasi dan pertentangan batin (konflik batin).

Rakhmat (2002) menyebutkan bahwa kecemasan berbicara sebagai communication apprehension, yaitu suatu reaksi negatif dalam bentuk kecemasan yang terjadi pada individu pada situasi komunikasi, baik itu komunikasi antarpribadi maupun di depan umum.

Berhadapan dengan individu lain pada intinya membutuhkan kepercayaan diri yang cukup. Tanpa hal itu, manusia manapun tidak akan sanggup menaiki panggung untuk menyampaikan satu kalimat, meskipun pendek dan bagaimanapun teraturnya kalimat itu (Luxori, 2004). Satu hal yang pernah dikatakan oleh pakar psikoanalisis mengenai masalah “demam panggung”, khususnya bahwa sebagian individu yang memiliki kepercayaan diri cukup terserang oleh gejala ini  juga, bukan hanya individu yang tidak mempunyai kepercayaan diri, sebab faktor utama penyebab rasa takut di panggung (berhadapan dengan khalayak ramai) adalah perhatian yang berlebih terhadap perbuatan yang akan dilakukan, sehingga menyebabkan hilangnya rasa percaya diri (Luxori, 2004).

Devito (Aryuni, 2007) membedakan kecemasan komunikasi dalam dua kelompok, yaitu trait aprehension dan state apprehension. Trait apprehension merupakan perasaan cemas yang dialami individu pada saat berkomunikasi dalam berbagai situasi. Sedangkan state apprehension merupakan suatu kondisi kecemasan yang dialami individu dalam situasi tertentu, misalnya pada saat berbicara di depan umum.

Kecemasan terjadi karena individu tidak mampu mengadakan penyesuaian diri terhadap diri sendiri di dalam lingkungan pada umumnya. Kecemasan timbul karena manifestasi perpaduan bermacam-macam proses emosi, misalnya individu sedang mengalami frustrasi dan konflik. Kecemasan yang disadari misalnya rasa berdosa. Kecemasan di luar kesadaran dan tidak jelas misalnya takut yang sangat, tetapi tidak diketahui sebabnya lagi (Sundari, 2005).

Anxietas itu timbul akibat adanya respons terhadap kondisi stres atau konflik. Rangsangan berupa konflik, baik yang datang dari luar maupun dari dalam diri sendiri, akan menimbulkan respons dari sistem saraf yang mengatur pelepasan hormon tertentu. Akibat pelepasan hormon tersebut, maka muncul perangsangan pada organ-organ seperti lambung, jantung, pembuluh darah maupun alat-alat gerak. Karena bentuk respons yang demikian, penderita biasanya tidak menyadari hal itu sebagai hubungan sebab akibat (Mulyadi, 2003).

Kecemasan berbicara di depan umum juga termasuk dalam kategori kecemasan sosial. kecemasan sosial adalah perasaan tak nyaman dalam kehadiran individu-individu lain, yang selalu disertai oleh perasaan malu yang ditandai dengan kejanggalan/kekakuan, hambatan dan kecenderungan untuk menghindari interaksi sosial (Hudaniyah dkk, 2006). Ketika mengalami kecemasan individu-individu biasanya tidak mengalami ketegangan yang subyektif (subjective tension) tetapi berperilaku (overt behavior) dalam cara-cara yang mengganggu interaksi sosial. Ketika gugup (nervous), individu mungkin menunjukkan secara terbuka indikasi-indikasi dari inner arousal mereka (misalnya gemetar, gelisah), menghindari individu lain, dan gangguan pada perilaku-perilaku lain yang terus-menerus (misalnya tidak lancar berbicara, kesulitan konsentrasi). Sehingga berakibat, kecemasan adalah suatu kekurangan dalam hubungan sosial, karena individu yang gugup (nervous) dan terhambat mungkin menjadi kurang efektif secara sosial.

  1. Macam-macam Kecemasan Berbicara di Depan Umum

Sundari (2005) menjelaskan tiga macam kecemasan, yaitu:

  1. Kecemasan karena merasa berdosa atau bersalah. Misalnya individu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya atau keyakinanya. Seorang pelajar/mahasiswa menyontek, pada waktu pengawas ujian lewat di depannya berkeringat dingin, takut diketahui.
  2. Kecemasan karena akibat melihat dan mengetahui bahaya yang mengancam dirinya. Misalnya kendaraan yang dinaiki remnya macet, menjadi cemas kalau terjadi tabrakan beruntun dan ia sebagai penyebabkan.
  3. Kecemasan dalam bentuk yang kurang jelas, apa yang ditakuti tidak seimbang, bahkan yang ditakuti itu hal/benda yang tidak berbahaya. Rasa takut sebenarnya suatu perbuatan yang biasa/ wajar kalau ada sesuatu yang ditakuti dan seimbang. Bila takut yang sangat luar biasa dan tidak sesuai terhadap objek yang ditakuti, sebenarnya merupakan patologi yang disebut phobia.

Wilder (Aryuni, 2007), mengedepankan lima jenis kecemasan berbicara di di depan umum berdasarkan penyebabnya, antara lain adalah:

  1. Career Terror.

Perasaan yang tidak logis, di mana pekerjaan, karir serta masa depan sangat dipengaruhi oleh bagaimana individu berperilaku baik itu dalam kelompok, pada saat rapat, bahkan pada saat menerima telpon.

  1. Perfectionism.

Suatu keadaan di mana individu menginginkan setiap pembicaraan dan presentasi yang ia lakukan dapat berjalan dengan sempurna.

  1. Panic.

Merupakan suatu keadaan cemas pada individu yang timbul akibat dugaan-dugaan yang tidak beralasan yang disertai dengan adanya simtom-simtom fisik yang dapat diamati.

  1. Avoidance.

Merupakan suatu bentuk penolakan terhadap diri mengenai kemampuannya sehingga dapat menimbulkan perasaan cemas, takut, serta penurunan kemampuan berbicara saat tampil di depan umum.

 

  1. Trauma.

Merupakan ketakutan yang berakar dari masa lampau yang berkaitan dengan ketidakmampuan individu dalam berbicara. Sebagai contoh adalah, orang tua atau guru yang terlalu banyak mengkritik, sehingga menyebabkan individu menjadi sukar untuk mengedepankan pendapatnya kepada orang lain.

  1. Faktor-faktor yang Menyebabkan Kecemasan Berbicara di Depan Umum

Kecemasan pada situasi komunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, Croskey mengedepankan empat faktor yang menimbulkan kecemasan individu dalam situasi komunikasi (Devito dalam Aryuni, 2007), antara lain adalah:

  1. Kurangnya keahlian dan pengalaman dalam komunikasi. Ketika individu kurang atau bahkan tidak memilki kemampuan dan pengalaman dalam berkomunikasi maka individu akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, sehingga mengakibatkan timbulnya kecemasan.
  2. Evaluasi. Keadaan komunikasi dimana individu diberikan penilaian atau evaluasi dari proses komunikasinya tersebut akan cenderung menimbulkan perasaan cemas pada individu.
  3. Jumlah kelompok. Individu akan merasakan kecemasan yang lebih besar ketika ia berbicara pada kelompok yang lebih besar dibandingkan kelompok yang lebih kecil.
  4. Keberhasilan dan kegagalan sebelumnya. Kecemasan berkomunikasi timbul karena adanya pengaruh dari hal-hal yang terjadi di masa lalu berkaitan dengan situasi komunikasi. Keberhasilan individu dalan situasi komunikasi akan mengurangi kecemasan pada individu, sebaliknya kegagalan dalam situasi komunikasi akan meningkatkan kecemasan individu dalam berkomunikasi.

Prasetyono (2005) menjelaskan bahwa perasaan cemas dapat timbul karena tiga sebab. Pertama, rasa cemas yang akibat melihat dan mengetahui ada bahaya yang mengancam dirinya. Ketika kecemasan lepas dari perimbangan, yakni ketika cemas keluar bersama-sama emosi dan reaksi fisik. Ketika individu merasakan kegelisahan yang amat sangat dimana mengharapkan orang-orang mau untuk memahamii keadaannya. Perasaan cemas seperti ini biasa disebut dengan perasaan takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada dirinya, karena sumbernya  jelas dan ada dalam pikiran, misalnya seorang pelajar sering merasa cemas sebelum menghadapi ujian. Kedua, perasaan cemas yang berupa penyakit dan dapat dilihat dalam beberapa bentuk. Yang paling sedernaha adalah perasaan cemas oleh karena sesuatu sebab yang kurang jelas, dan tidak ada kaitannya dengan apa-apa, namun mempengaruhi keseluruhan diri pribadi. Ketiga, terkadang orang merasa cemas karena telah melakukan dosa atau rasa bersalah karena melakukan hal-hal yang bertentangan dengan batinnya. Perasaan cemas ini dapat dilihat secara fisik karena gejalanya amat kentara, misalnya jari jemari atau telapak tangan mengeluarkan keringat dingin, pencernaan tidak teratur, jantung berdetak keras, hilang nafsu makan, dan sebagainya.

Utami (Rahayu dkk, 2004) menyebutkan ada beberapa hal yang menyebabkan individu merasakan kecemasan pada saat berbicara di depan umum, yaitu:

  1. Reinforcement

Adanya penguatan pada masa kanak-kanak dimana anak umumnya akan diberikan penguat positif (reward) apabila ia diam, dan akan diberikan penguat negatif (punishment) apabila ia berbicara, sehingga pada akhirnya nanti si anak akan mengalami hambatan dalam berbicara karena si anak menghindari situasi komunikasi yang disebabkan oleh adanya proses belajar pada masa kanak-kanaknya.

  1. b. Skill Acquisition

Individu merasakan kecemasan pada situasi di mana ia dituntut untuk berbicara di depan umum, karena adanya kegagalan dalam mengembangkan keterampilan dalam berbicara dengan baik.

  1. Modelling

Kecemasan dalam berbicara di depan umum dapat timbul karena adanya proses modeling terhadap orang lain, sehingga kecemasan tersebut bisa saja timbul walaupun individu sebelumnya tidak pernah mengalami situasi berbicara di depan umum.

  1. Pikiran yang tidak rasional

Adanya pemikiran individu yang irrasional mengenai sesuatu peristiwa yang berhubungan dengan berbicara di depan umum.

 

BAB III

METODE PENULISAN

A. Jenis Tulisan

Jenis tulisan yang digunakan dalam penyusunan karya tulis ini bersifat Library Research (penelitian pustaka) yang disajikan secara deskriptif mengenai penerapan positive words sejak dini sebagai upaya mengurangi kecemasan berbicara di depan umum yang ditunjang oleh berbagai literatur yang relevan dengan permasalahan yang dikaji. Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif sehingga menunjukkan suatu kajian ilmiah yang dapat dikembangkan dan diterapkan lebih lanjut.

B. Objek Tulisan

Objek dalam penulisan karya ilmiah ini adalah positive words sebagai solusi untuk meredam kecemasan berbicara di depan umum.

C. Teknik Pengumpulan Data

Data dalam karya tulis ini diperoleh melalui:

  1. Berbagai literatur yang relevan dengan masalah yang diangkat, seperti: buku maupun artikel yang diperoleh melalui media internet.
  2. Penulis mengadakan observasi dan wawancara terhadap beberapa mahasiswa yang biasa menerapkan positive words sebagai upaya meredam kecemasan khususnya kecemasan berbicara di depan umum.

D. Prosedur Penulisan

Pengumpulan data dan informasi telah selesai, selanjutnya diseleksi dan direduksi kerelevanan dengan masalah yang dikaji. Proses penyajian masalah yang akan dibahas yaitu data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif, dengan cara mengkaji peranan positive words sejak dini sebagai strategi untuk mengatasi kecemasan berbicara di depan umum.

 

BAB IV

ANALISIS DAN SINTESIS

A. Analisis

Salah satu cara untuk berinteraksi dengan individu lain yaitu dengan berbicara secara langsung atau face to face. Berbicara secara langsung dapat dilakukan tidak hanya antara dua individu saja, namun hal ini dapat juga dilakukan di hadapan khalayak. Berbicara di hadapan khalayak atau di depan umum merupakan sebuah metode untuk mengaktualisasikan kemampuan individu, baik dalam hal performa, penguasaan bahan atau materi, serta teknik penyampaian yang menarik. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa berbicara di depan umum sering menimbulkan kecemasan.

Ketika individu berada di hadapan orang banyak, maka secara otomatis akan timbul perasaan cemas. Perasaan cemas tersebut biasanya diakibatkan karena timbulnya praduga di dalam pikiran seseorang akan penilaian individu lain terhadap penampilannya. Asumsi tersebutlah yang menyebabkan individu mengalami kecemasan ketika hendak tampil atau berbicara di depan umum sehingga menyebabkan nervous yang dapat mengakibatkan tidak terkontrolnya emosi individu tersebut. Emosi memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap penampilan individu. Ketika individu dapat mengontrol emosinya dengan baik, maka hal tersebut akan memberikan dampak yang positif bagi penampilannya. Namun ketika individu tidak mampu mengontrol emosinya baik yang diakibatkan oleh kecemasan, maka hal tersebut akan berakibat fatal pada penampilannya.

Baik buruknya penampilan individu sangat dipengaruhi oleh tingkat keyakinan yang dimiliki. Apabila individu yakin dengan apa yang akan mereka ucapkan, maka keyakinan tersebut akan menimbulkan semangat atau dorongan berupa keyakinan. Namun terkadang individu ragu akan apa yang hendak diucapkan, sehingga menyebabkan ucapan atau tindakan yang tidak terkontrol. Keraguan tersebutlah yang menyebabkan kecemasan dalam diri individu sehingga ia mengalami kendala untuk berbicara di depan umum.

Banyak alternatif untuk menghadapi kecemasan berbicara di depan umum. Namun cara tersebut perlu dibiasakan pada seseorang. Salah satunya dengan memberikan pengetahuan dan pembiasaan menghadapi kecemasan sejak dini.

B. Sintesis

  1. Peranan Positive Words Sejak Dini untuk Mengatasi Kecemasan Berbicara di Depan Umum.

Berbicara di depan umum merupakan salah satu masalah tersulit yang dihadapi oleh individu, terutama bagi individu yang memiliki rasa percaya diri yang kurang atau pas-pasan (Luxori, 2004).

Berbicara di depan umum memiliki risiko terjadinya kecemasan pada individu yang disebabkan oleh keraguan. Keraguan adalah indikasi bahwa ”fokus” individu sedang dalam keadaan terbagi atau tidak koheren. Di satu sisi individu memikirkan akan keberhasilan berbicara di depan umum, di sisi lain, individu tersebut merasa bahwa mungkin saja dirinya akan gagal atau dirinya sebenarnya tidak mampu tampil dengan sempurna. Di sinilah peran positive words untuk memfokuskan individu kepada tujuannya. Karena terkadang individu fokus terhadap sesuatu hal yang positif, namun tanpa di sadari, ia sebenarnya fokus terhadap hal yang negatif, misalnya ketika individu berfikir akan kekalahan sebelum bertanding, maka sesungguhnya individu tersebut telah fokus pada kekalahan. Namun di saat individu menyuarakan positive words dengan suara yang lantang dan penuh keyakinan, semangat serta ekspresif, maka individu secara tidak sadar telah memfokuskan tujuannya dan mengabaikan segala bentuk keraguan yang ada sebelumnya.

Keraguan atau ketakutan yang muncul sebelum berbicara di depan umum adalah sebuah bentuk pesimisme. Jadi dengan mengucapkan positive words maka individu yang semula terjebak dalam kondisi pesimisme akan dapat kembali ke kondisi optimisme dalam hal ini optimisme terkontrol. Luxori (2004) menjelaskan bahwa optimisme terkontrol adalah sikap yang membawa individu pada kesungguhan dan mampu menambah rasa percaya diri dan berpikir rasional. Optimisme terkontrol dapat menghilangkan keraguan-raguan dan akan mengumpulkan potensi diri agar dapat membuahkan hasil, kemudian dikerahkan dalam bentuk ketekunan terkontol.

Positive words merupakan salah satu penerapan yang harus dibiasakan pada individu sejak dini. Kata-kata merupakan pilihan individu, kata-kata negatif terkadang dipilih individu hanya sebagai pelampiasan emosi dan dampaknya tidak menjadi hal yang penting bagi individu. Kata-kata mengeluh sebagai refleksi dari kecemasan telah menjadi kebiasaan, alasannya adalah karena manusia kini hidup dalam budaya mengeluh. Manusia terlalu menganggap remeh apa yang dimiliki sehingga semakin sering mengeluh ditengah begitu banyak hal yang perlu disyukuri. Sentano (2008) mengungkapkan bahwa ketika individu mengeluh (mengucapkan negative words), sebenarnya individu tersebut melepaskan getaran negatif ke alam semesta yang akan menarik hal-hal negatif ke dalam hidup. Begitupula sebaliknya, ketika individu menyuarakan keyakinannya (positive words), maka individu tersebut sesungguhnya melepaskan getaran positif  ke alam semesta yang akan menarik hal-hal positif, dalam hal ini apa yang ia yakini.

Kebanyakan individu yang mengucapkan kata-kata inspiratif dan positif tersebut tidak mengetahui betapa kuat dan abadinya kata-kata itu. Positive words yang dibiasakan sejak dini akan mampu menciptakan sebuah mind set yang lebih positif pada seorang anak bahkan pada sebuah masyarakat. Vygotsky dalam Urban (2007) menegaskan bahwa proses internalisasi perintah verbal adalah langkah penting bagi anak dalam menciptakan kendali diri secara sadar terhadap perilakunya.

Williams (2007) berpendapat bahwa di antara berbagai kalimat positif adalah yang ketika diucapkan dengan otoritas, membantu meningkatkan motivasi dan menghasilkan keyakinan bahwa tujuan yang dibayangkan akan tercapai. Individu harus memberikan penegasan dengan kekuatan inner, bahwa ”saya bisa, saya akan, saya harus,” hingga individu bisa mengatakan ”Saya sukses sekarang ini-di saat ini juga!”. Afirmasi- afirmasi atau kalimat itu menggugah keyakinan dan kepercayaan terhadap diri seseorang yang akan memberikan perlindungan dari pikiran-pikiran negatif tentang kemungkinan untuk berhenti, dan sama pentingnya memberikan individu kemampuan untuk memvisualisasikan kesuksesan individu. Setiap kesuksesan akan datang secara terus menerus, secara teguh, dan dengan keinginan kuat berbicara secara otoritas. Metode ini dapat membangkitkan keyakinan dan visualisasi mutlak yang memungkinkan individu mampu melihat dirinya sendiri dengan mata pikiran sebagai sesseorang yang diharapkan karena apapun yang bisa dipahami dan diyakini pikiran manusia, maka hal tersebut berarti bisa dicapai.

Ketika individu mengutarakan positive words, maka ia tidak hanya meyakini apa yang sedang diucapkan tetapi juga mampu meyakinkan individu lain. Berbicara dengan keyakinan total mampu membuat individu lain merespon apa yang kita ucapkan. Keyakinan yang dinamis akan memberikan letupan cahaya yang diperlukan untuk memotivasi individu lain memberikan bantuan untuk mencapai tujuan kita. Individu bisa mencapai kondisi keyakinan itu dengan mengucapkan positive words.

Ketika pikiran Anda meyakini apa yang sedang Anda katakan dan menerimanya sebagai fakta, keyakinan itu selanjutnya akan menyerupai magnet magis yang menarik ide-ide, individu-individu dan sumber lain yang diperlukan untuk mengarahkan pandangan Anda pada realitas. Singkatnya, itulah formula kesuksesan yang telah saya tedepann yang tidak ada bandingannya. Williams (2007)

Mengucapkan positive words tidaklah semata-mata hanya dengan mengungkapkannya saja. Hal terpenting ialah individu harus mengajak perasaannya mengikuti alur kemauan atau tujuan yang akan diucapkan. Jika positive words hanya diungkapkan tanpa melibatkan perasaan, maka hal tersebut tidak akan memberikan efek yang maksimal. Dengan mengunakan pikiran sadar, positive words yang diucapkan secara otoritatif yang diperlukan untuk mengarahkan individu kepada arah yang ia butuhkan agar bisa berjalan dengan efektif. Apapun yang ditegaskan oleh individu, maka ia harus mengatakannya dengan perasaan dan emosi yang mendalam dan ketulusan total sehingga bagian pikiran yang lain tidak  bisa berbuat apa-apa kecuali menerima dan meyakini dengan teguh apa yang sedang ia katakan.

Pembiasaan diri mengucapkan positive words sebaiknya mulai diterapkan sejak dini pada anak-anak, dan peranan keluarga sangat penting untuk menciptakan pembiasaan tersebut. Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan seorang anak, perkembangan anak sangat bergantung dari pola pengasuhan keluarga karena keluargalah yang sebenarnya merupakan pembentuk kepribadian serta pengarah kehidupan. Jadi, seandainya individu menginginkan seorang anak yang penuh percaya diri dan memilki kepribadian baik lainnya, maka anak harus dibiasakan mendengar kata-kata yang baik atau positive words sejak dini.

  1. Metode Penerapan Positive Word Sejak Dini untuk Meredam Kecemasan Berbicara di Depan Umum.

Penanaman positive words tidak dapat terlepas dari peranan keluarga karena salah satu faktor utama yang mendukung keberhasilan individu adalah keluarga. Keluarga adalah landasan masyarakat di manapun dan tempat anak-anak  pertama kalinya belajar cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan individu lain. Keluarga juga merupakan tempat mereka belajar tentang apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengatakannya  (Urban, 2007). Keluarga memiliki peranan penting dalam hal perkembangan, baik dalam hal perkembangan mental maupun fisiknya. Terkadang individu  menggantungkan dirinya dari dorongan dan arahan anggota keluarga yang lain sebagai akibat dari kebiasaan pembentukan kepribadian yang dilakukan oleh keluarga terhadap dirinya sedari kecil. Urban (2007), mengungkapkan bahwa anak-anak, terutama yang masih sangat belia, merupakan peniru terbesar. Mereka melakukan apa yang mereka lihat dilakukan oleh para individu dewasa yang dominan dalam kehidupan mereka, mereka mengulang apa yang mereka dengar dari individu dewasa dan belajar untuk membentuk pola bicara mereka.

Penerapan positive words dapat dilakukan keluarga dan pendidik, pertama memulai dengan metode non-interaktif, yaitu anak cukup diberi instruksi agar menggunakan kata-kata positif saat menghadapi keadaan atau situasi yang menegangkan kemudian meminta anak untuk mencobanya secara berulang-ulang melalui aktivitas dan verbalisasi. Jika individu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak bisa melakukan suatu pekerjaan, maka bisa dipastikan individu memang tidak akan bisa melakukan pekerjaan tersebut. Kata-kata “tidak bisa”  yang diucapkan, yang didengar, ataupun yang dipikirkan akan menutup semua kemungkinan untuk melakukan pekerjaan yang sudah divonis tidak bisa kita laksanakan. Dengan kata-kata “tidak bisa” ini, semua kemungkinan tidak dicoba dan semua usaha dihentikan. Sebaliknya, jika individu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa suatu pekerjaan “bisa” dilaksanakan walaupun harus melalui berbagai tantangan. Kata-kata “bisa” akan memacu kreativitas untuk mendapatkan berbagai alternatif strategi, semangat untuk mencoba dan mendorong individu melakukan berbagai upaya untuk mengatasi rintangan yang dihadapi.

Kedua, orang tua atau pendidik harus melatih serta membiasakan anak-anak untuk mengucapkan positive words yang disertai dengan mimik yang selaras. Gamon dan Bragdon (2005) mengungkapkan bahwa manipulasi otot-otot wajah yang dikaitkan dengan kebahagiaan menghasilkan aktifitas otak kiri-depan yang sama yang diketahui berkolerasi dengan “kegembiraan spontan”. Gerakan otot wajah tertentu memiliki hubungan yang erat dengan aktifitas motor otonom (frekuensi detak jantung, sifat konduktan kulit, dan sebagainya) serta aktivitas otak. Hal ini berarti bahwa ketika seseorang mengucapkan kata-kata positif maka ia harus mampu mensinergikannya dengan ekspresi wajahnya (seperti tersenyum, atau tertawa sebagai ekspresi bahagia), sehingga akan mempengaruhi perasaan (kegembiraan spontan).

Ketiga, memberikan dukungan dan motivasi saat anak sedang mengalami kecemasan ketika harus berbicara di depan umum. Menurut penelitian, anak yang mendapat dukungan dan motivasi cenderung lebih bersemangat dalam berkompetisi dan memiliki kepercayaan diri lebih tinggi, dibandingkan dengan anak yang tidak mendapat dukungan dari orang tuanya (Papalia dan Olds, 1990 dalam Safaria, 2007). Anak yang tidak mendapat dukungan dan motivasi orang tuanya cenderung mudah putus asa dan pesimistis. Dukungan tersebut harus disampaikan dengan tulus dengan kata-kata positif. Melalui intonasi suara yang tepat dan bahasa tubuh yang sesuai, orang tua dan pendidik menunjukkan dukungannya.

Keempat, orang tua dan pendidik perlu mengajarkan anak untuk tidak memfokuskan diri pada kesalahan, tetapi menekankan pada apa yang mampu seorang anak lakukan. Hal ini akan memberikan kepercayaan diri baik dikatakan untuk diri sendiri maupun dikatakan untuk individu lain.

Kelima, dalam penerapan positive words, orang tua dan pendidik perlu mengajarkan sikap santai dalam kondisi yang menegangkan melalui metode relaksasi. Untuk mengajarkan metode ini, orang tua harus memberitahu anak dengan bahasa yang mudah dimengerti. Metode relaksasi dapat dilakukan dengan relaksasi pernafasan yang dikombinasikan dengan kata-kata positif. Sehingga kecemasan yang dialami anak akan berkurang dan berganti dengan sikap yang optimis. Ketika seorang anak hendak mengucapkan positive words, maka anak tersebut harus mengatur nafas karena hal tersebut dapat membuat kalimat yang diucapkan semakin memberikan energi yang mampu membuat seseorang semakin bersemangat. Nafas yang teratur akan membuat detak jantung terpacu secara teratur. Hal ini mampu memberikan dampak yang sangat besar ketika seseorang mengucapkan positive words. Kalimat yang dilontarkan dari setiap orang sangat dipengaruhi dengan keadaan vokal, di mana vokal juga dipengaruhi oleh detak jantung seseorang. Ketika detak jantung berpacu dengan sangat cepat (biasanya terjadi ketika seseorang mengalami nervous), maka kalimat atau positive words yang diucapkan tidak akan terkontrol dengan baik sehingga mampu mengakibatkan suara yang bergetar. Hal ini akan semakin menambah kecemasan pada diri seseoarang karena mengalami  stres akibat getaran pada suaranya yang diakibatkan nervous.

Prasetyono (2005) menambahkan bahwa apabila individu bahagia maka seluruh alam semesta ikut tertawa. Seolah-olah udara terasa menyegarkan, langit nampak lebih cerah, rumput nampak lebih hijau, dan sebagainya. Kemampuan untuk tertawa tidak saja diberikan kepada individu untuk menyenangkan diri sendiri tetapi juga untuk melatih organ-organ tubuh karena sewaktu seseorang tertawa maka tubuh membakar bahan makanan yang tersimpan dalam jaringan tubuh sehingga jantung berdetak lebih cepat, udara terhirup lebih banyak, dan kadang-kadang badan lebih berkeringat sehingga hal itu semua bermanfaat untuk jaringan-jaringan tubuh.

 

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

  1. Penerapan positive words sejak dini mampu mengurangi kecemasan berbicara di depan umum.
  2. Penerapan positive words dapat dilakukan keluarga dan pendidik sejak dini sebagai upaya mengurangi kecemasan berbicara di depan umum degan beberapa metode, pertama memulai dengan metode non-interaktif. Kedua, orang tua atau pendidik harus melatih serta membiasakan anak-anak untuk mengucapkan positive words yang disertai dengan mimik yang selaras. Ketiga, memberikan dukungan dan motivasi saat anak sedang mengalami kecemasan ketika harus berbicara di depan umum. Keempat, orang tua dan pendidik perlu mengajarkan anak untuk tidak memfokuskan diri pada kesalahan, tetapi menekankan pada apa yang mampu seorang anak lakukan. Kelima, dalam penerapan positive words, orang tua dan pendidik perlu mengajarkan sikap santai dalam kondisi yang menegangkan melalui metode relaksasi.

B. Saran

  1. Orang tua atau pendidik  membiasakan penerapan kata-kata positif  (positive words) sejak dini untuk meningkatkan rasa percaya diri saat berbicara di depan umum.
  2. Anak-anak membiasakan diri menggunakan positive word sejak dini sehingga lebih sadar akan kekuatan kata-kata baik yang menghancurkan maupun yang membangun dan meningkatkan penggunaan kata-kata positif.
  3. Masyarakat ikut membantu penerapan kata-kata positif dengan mengurangi pemberian contoh kata-kata negatif pada anak dalam lingkungannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aryuni, Ayu Utami. 2007. Efek Musik Mozart terhadap Penurunan Kecemasan Bebicara di Muka Umum. Skripsi (tidak diterbitkan). Makassar: Fakultas  Psikologi Universitas Negeri Makassar.

Chaplin, J.P. 2004. Kamus lengkap Psikologi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

DEPDIKNAS. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka

Gamon, David & Allen Bragdon. 2005. Cara Baru Mengasah Otak dengan Asyik. Bandung:Mizan Media Utama.

Gerungan, W.A. 2004. Psikologi Sosial. Bandung: PT Reflika Aditama.

Hudaniah & Dayakisni, Tri. 2006. Psikologi Sosial. Malang: UMM Press.

Luxori, Yusuf. 2004. Percaya Diri. Jakarta Timur: Khalifa.

Mahdaleni, E. 2004. Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Kecemasan dalam Menghadapi Ujian pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam  Indonesia (UII) Yogyakarta. Ringkasan Skripsi (tidak diterbitkan). Malang: Fakultas  Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Mulyadi, Redy. 2003. Kenali Rasa Cemas yang Tidak Rasional. http://www.sinarharapan.co.id. (27 Februari 2008).

Nasruni. 2008. Orang Besar di bentuk Kata-Kata Positif. http://nasruni.wordpress.com. (27 Februari 2008).

Prasetyono, Dwi Sunar. 2005. Kiat Mengatasi Cemas dan Depresi. Yogyakarta: TUGU Publisher

Rakhmat, J. 2002. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Safaria, Triantoro. 2007. Optimistiq Quotient. Yogyakarta: Pyramid Publisher.

Sentanu, Erbe. 2008. Quantum Ikhlas: Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati. Jakarta: PT Gramedia.

Sundari, Siti. 2005. Kesehatan Mental dalam Kehidupan. Jakarta: Rineka Cipta.

Urban, Hal. 2007. Positive Wordss; Powerful Results. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.

Williams, Side E. 2007. Positive Thinking: Sebuah Perjalanan Menuju Hidup Bahagia. Yogyakarta: Tugu Publisher.