Tags

, ,

Musyarrafah DM

MUNCULNYA ALIRAN SESAT DI INDONESIA

A. Pandangan Psikologi Agama terhadap Munculnya Aliran Sesat

Psikologi agama melihat munculnya aliran sesat sebagai sebab dari kurangnya kematangan beragama pada diri penganut aliran sesat. Allport mengungkapkan bahwa kematangan beragama merupakan watak keberagamaan yang terbentuk melalui pengalaman. Pengalaman-pengalaman tersebut akan membentuk respon terhadap objek-objek yang berupa konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang akan membentuk kebiasaan-kebiasaan tertentu serta penetapan prinsip-prinsip yang dianggap penting dan menetap dalam kehidupannya yaitu agama, dan dilakukan secara sadar.

Jalaluddin menjelaskan bahwa orang yang memiliki kematangan dalam beragama adalah orang yang mampu mengenali sekalius memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran agamanya. Pengenalan serta pemahaman tersebut tidak hanya berhenti sampai disitu saja, tetapi mereka menjadikan tuntunan dan ajaran agamanya sebagai sesuatu yang bersifat intrinsik dalam diri mereka, untuk selanjutnya dijadikan sebagai warna dalam setiap tindak tanduknya.

Allport mengemukakan spek-aspek kematangan beragama, antara lain :

1. Kemampuan diferensiasi

Kemampuan berdiferensiasi adalah kemampuan pemeluk agama untuk berpikir kritis mengenai agamanya dalam artian tidak menerima ajaran agama secara dogmatis dan menerima perbedaan-perbedaan. Kamampuan berdiferensiasi adalah kemampuan untuk memahami agama lebih dalam melalui berpikir kritis tujuannya agar perilaku keberagamaan bukanlah terbentuk karena memang sudah seperti itu melainkan terbukanya pemikiran akan pemahaman nilai-nilai yang terkandung dalam setiap perintah agama.

Jika setiap umat beragama memiliki kemampuan berdiferensiasi maka umat beragama tersebut mampu untuk menemukan kebenaran khususnya dalam ajaran Islam dan bukannya menciptakan kepercayaan yang sesat dalam beragama. Seandainya umat beragama paham akan nilai yang terkandung dalam shalat lima waktu dalam islam maka tidak akan muncul kepercayaan yang menyatakan shalat bisa dua sampai tiga kali dalam sehari.

2. Berkarakteristik dinamis

Karakter dinamis akan menjadi pembeda antara yang matang beragama dengan yang tidak. Pola keberagaman yang tidak matang cenderung akan dipengaruhi oleh hal-hal yang magis dan fanatis sehingga akan membuat seseorang menjadi mudah tersugesti kondisi eksternal yang bersinggungan dengan keyakinanya.

3. Konsistensi moral

Konsistensi moral adalah adanya keselarasan perilaku dengan ajaran beragama. Banyak kepercayaan baru yang muncul dengan asumsi bahwa ajaran Islam sudah tidak mujarab lagi dalam menjaga moral pemeluknya. Shalat tetap jalan tetapi korupsi juga tetap jalan, sehingga muncullah kekeliruan yang menyatakan bahwa ibadah-ibadah yang ditetapkan dalam Islam sudah tidak bisa lagi sehingga terinspirasi untuk menciptakan ritual baru.

4. Komprehensif dalam beragama

Beragama secara menyeluruh, memahami dan mengaplikasikan ajaran agama secara menyeluruh dalam Islam dikenal dengan istilah Ber-Islam secara KAFFAH.

Fenomena yang terjadi sekarang adalah umat beragama menjalankan perintah agama hanyalah sebatas sebagai ritual belaka tidak berusaha untuk memahami secara utuh nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ritual keagamaan dan bagaimana implementasinya dalam kehidupan sehingga kemungkinan pondasi kepercayaan dan keyakinan terhadap agama yang dipeluknya mudah diruntuhkan sehingga kemungkinan untuk konversi agama atau memeluk aliran sesat sangat besar terjadi.

5. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai dan ajaran agamanya

Beragama secara integral adalah kemampuan seseorang untuk menjadikan pola-pola yang kompleks menjadi pola-pola yang terintegrasi dengan baik mengkristal di dalam diri, tanpa adanya pertentangan satu dengan yang lain. Misalnya mempertentangkan agama dengan ilmu. Salah satu penyebab munculnya aliran sesat adalah karena terlalu mempercayai logika atau ilmu pengetahuan dan tidak mampu menyelaraskan antara logika/ilmu pengetahuan dengan agama, merasa bahwa ajaran agama tidak logis sehingga cenderung lebih mengikuti hal-hal yang logis menurut loginya, maka tidak mengherankan kalau pengikut aliran sesat terbanyak berasal dari kalangan mahasiswa yang cenderung mengkritisi ajaran agamanya.

6. Heuristik secara fundamental

Keberagamaan yang heuristik adalah pola keberagamaan dimana kepercayaan atau keyakinan yang sudah ada sebelumnya diyakini untuk sementara waktu sambil terus mencari ilmu untuk mengokohkan keyakinan.

Banyak pemeluk agama islam yang menjalankan ajaran agama apa adanya tanpa ada usaha untuk mengambil pelajaran dari setiap ajaran agama baik larangannya maupun perintahnya sehingga ketika ada kepercayaan baru maka sangat mudah untuk mengikuti kepercayaan baru tersebut.

B. Faktor-faktor yang Menyebabkan Munculnya Aliran Sesat

1. Kemiskinan

Sudah banyak kasus seseorang berpindah keyakinan ke agama lain atau beralih ke aliran sesat karena dampak dari kemiskinan. Bagaimana masyarakat yang miskin menukar keyakinannya hanya dengan sebungkus mie instan atauseliter beras karena merasa bahwa saudara seagamanya saja tidak perduli dengan kemiskinannya, malah yang perduli adalah umat beragama yang lain sehingga muncul inisiatif untuk memeluk agama orang yang sudah membantunya baik dalam keadaan terpaksa maupun rela.

2. Ada yang mendesain terbentuknya aliran sesat

Belakangan banyak diberitakan dalam media yang bernapas Islam bahwa dibalik munculnya aliran sesat ada pihak yang mendesain atau ada pihak yang mengatur, merencanakan aliran sesat tersebut muncul.

3. Keterbelakangan pendidikan agama

Keterbelakangan pendidikan agama merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keyakinan beragama. Ada pernyataan yang menyatakan bahwa hanya orang yang berilmu yang takut kepada Allah, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pendidikan agama seseorang maka semakin kuat keimanan dan keyakinannya.

4. Dakwah Kuat atau lemahnya dakwa yang dilakukan oleh umat Islam ikut mempengaruhji munculnya aliran sesat di masyarakat.

Dakwah juga berkaitan dengan pendidikan agama masyarakat. Dengan dakwah maka banyak informasi-informasi seputar ajaran agama yang dapat meneguhkan iman sebagai seorang muslim sehingga imannya tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan khususnya ajaran aliran sesat.

5. Kekuatan hukum Lemahnya kekuatan hukum di Indonesia menjadi salah satu penguat munculnya aliran sesat di Indonesia.Belum ada hukum yang tegas terhadap pelaku atau pelopor munculnya aliran sesat.

SUMBER:

Rakhmat, J. 2007. Psikologi Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Siraj, S.A. Kemiskinan Menyebabkan Aliran Sesat (Online). (http://medina-onine.com., diakses 20 November 2009).