Tags

, , ,

Oleh:
Musyarrafah DM (Makkita), Novita Maulidya Djalal.

A. Definisi Gangguan Pendengaran
Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan, terutama melalui indera pendengarannya (Somantri, 2006).
Dwidjosumarto (Somantri, 2006) menambahkan bahwa ketunarunguan dibedakan dua kategori, yaitu tuli (deaf) dan kurang tuli (low of hearing), dimana
1. deaf adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengarannya tidak berfungsi.
2. Hard of hearing adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih berfungsi untuk mendengar, baik menggunakan maupun tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aids).
Salim (Somantri, 2006) juga menyimpulkan bahwa anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya.
Dari definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa tunarungu adalah mereka yang kehilangan pendengaran baik sebagian (hard of hearing) maupun seluruhnya (deaf) yang menyebabkan pendengarannya tidak memiliki nilai fungsional di dalam kehidupan sehari-hari.
B. Valensi Anak Tunarungu
Tafsiran tentang jumlah anak penderita gangguan pendengaran sangat banyak. Seperti halnya perbedaan dalam definisi, studi populasi, dan ketelitian pengujian konstribusi yang bermacam-macam figur. Departemen Pendidikan Amerika melaporkan bahwa 17 % apa dari individu-individu preschool sampai individu kelas 12. Walaupun Departemen pendidikan Amerika tidak melaporkan secara detil beberapa figur dalam kategori deaf dan Hard of hearing, beberapa ahli percaya bahwa banyak anak penderita sulit mendengar yang dapat kepentingan dari layanan pendidikan khusus ternyata tidak dilayani (Hallahan & Kauffman, 1980).
C. Klasifikasi Anak Tunarungu
Banyak klasifikasi dari anak tunarungu. Gangguan pendengaran ini biasanya dibagi ke dalam dua divisi yaitu deaf dan low of hearing. Selain itu, juga ditemukan perbedaan yang penting dari kedua kategori itu yakni perbedaan orientasi pendidikan dan perbedaan orientasi psikologisnya (Hallahan & Kauffman, 1980).
Klasifikasi anak tunarungu juga dikategorikan berdasarkan taraf kemampuan mendengarnya. Anak-anak yang tidak mampu mendengar suara dengan lefel frekuensi normal atau frekuensi di atasnya disebut deaf atau seseorang yang dianggap telah mengalami kehilangan total pendengarnya. Sensitifitas pendengaran diukur dalam satuan desibel dB. 0 dB menandakan kapasitas anak yang normal pendengarannya, dimana anak yang normal mampu mendengar suara yang sangat kecil. Orang-orang yang memiliki kemampuan pendengaran 90 dB ke atas dianggap sebagai anak yang mengalami gangguan pendengaran pada level tuli tetapi masih mampu mendengar sedikit (low of hearing) (Hallahan & Kauffman, 1980).
Anak tunarungu dapat digolongkan menjadi anak tunarungu saat kelahiran dan anak tunarungu setelah masa kelahirannya. Kedua hal tersebut memberi dampak pada perkembangan bahasa. Prelingual deafness adalah ketulian yang diperoleh pada saat kelahiran atau muncul cepat dalam kehidupan individu sebelum masa pemahaman akan bahasa dan komunikasi. Sedangkan postlingual deafness adalah ketulian yang diperoleh pada saat kelahiran atau muncul dalam kehidupan individu setelah masa pemahaman akan bahasa dan komunikasi (Hallahan & Kauffman, 1980).
D. Pendidikan Anak Tunarungu
Pendidikan anak-anak tunarungu juga memperhatikan tingkat atau batas kemampuannya dalam rangka mempengaruhi pengembangan komunikasi dan bahasanya. Hal ini disebabkan ada hubungan antara hilangnya kemampuan mendengar dengan terhambatnya perkembangan bahasa (Hallahan & Kauffman, 1980).
Pendidik memperhatikan waktu mulai (age of onset) dari gangguan pendengaran. Selanjutnya, terdapat hubungan antara hilangnya kemampuan mendengar dengan hambatan kemampuan berbahasa. Semakin cepat seseorang mengalami gangguan pendengaran akan berdampak pada kehidupan anak tersebut. Gangguan pendengaran pada diri seseorang menjadi syarat sulitnya seseorang mengembangkan bahasanya. Dengan kata lain adalah anak yang menderita tunarungu mempunyai masalah dalam berkomunikasi (Hallahan & Kauffman, 1980).
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diberikan pendidikan komunikasi untuk anak tunarungu, dimana dalam pendidikan tersebut terdapat tiga pendekatan umum, yaitu auditory training, speechreading, serta sign language (bahasa isyarat) dan finger spelling (isyarat gerak tangan) (Hallahan & Kauffman, 1980).

1. Oralisme versus Manualisme
Secara garis besar pendekatan dalam pendidikan bahasa dibedakan atas dua, yaitu pendekatan oral dan pendekatan manual. speech reading berhubungan dengan pendekatan tradisional; finger spelling disebut sebagai pendekatan manual (isyarat yang menggunakan gerak tangan) (Hallahan & Kauffman, 1980).
Beberapa tahun metode oral dan manual tampil sebagai pendekatan yang berbeda di sekolah. Beberapa sekolah yang menggunakan metode oral melarang anak-anak untuk menggunakan isyarat tangan (Hallahan & Kauffman, 1980).
Pelopor dari manualisme percaya, bagaimanapun, sangat sedikit orang-orang yang digolongkan menderita deaf dapat dilatih untuk bisa berkomunikasi dalam linngkungan sosial. Penekanan mereka terhadap bahasa isyarat juga akan memberikan sebuah tanda/isyarat komunikasi yang dapat digunakan seorang anak yang tuli dengan anak yang tuli lainnya dan juga terhadap gurunya (Hallahan & Kauffman, 1980).
Manualisme adalah metode yang disukai sampai pertengahan abad 19 ketika oralisme mulai popular kembali. Sejak oralisme membentuk sebuah kombinasi dari dua pendekatan yang kemudian disebut sebagai pendekatan komunikasi maka banyak yang menjadikan pendekatan komunikasi itu sebagai sebuah pilihan (Hallahan & Kauffman, 1980).
Ada dua faktor yang menjadi penyebab dikombinasikannya manualisme dengan oralisme, yaitu (Hallahan & Kauffman, 1980):
a. Dari penelitian ditemukan bahwa anak yang deaf dari orangtua yang deaf telah menggunakan metode manual kemudian dibandingkan dengan anak yang deaf namun orangtua tidak deaf dimana lebih baik dalam kemampuan akademik, membaca, menulis, interaksi sosial. Tidak ditemukan perbedaan dalam berbicara antara dua kelompok tersebut.
b. Di akhir tahun 1960 metode oral dianggap kurang efektif.

2. Oral Techniques – Auditory Training and Speechreading
Pelatihan mendengarkan adalah prosedur dari belajar anak-anak yang deaf dan hard-of hearing diamana anak-anak tersebut menggunakan apa yang mereka dengarkan. Para advocate mengklaim itu semua sangat sedikit dari keseluruhan anak-anak yang deaf dapat mendapatkan manfaat dari training auditori. Manfaat dari training auditori adalah menambah kamajuan teknologi dalam pengembangan alat bantu mendengarkan (Hallahan & Kauffman, 1980).
Speechreading, kadang-kadang disebut lipreading (memahami kata-kata orang dengan melihat gerak-gerik bibirnya menggunakan teknik visualisasi agar mereka mengerti apa yang dikatakan orang-orang padanya. Speechreading lebih akurat dari lipreading karena tulisan mengarahkan untuk hanya menggunakan tanda visual dari gerakan mulut dalam berbicara. Stimulus visual lainnya dalam lingkungan, bagaimanapun, dapat membantu hambatan mendengarkan seseorang untuk memahami pesan yang ucapkan (Hallahan & Kauffman, 1980).
Ada banyak pertentangan terhadap pendekatan oral tentang berapa banyak penekanannya terhadap auditory training dengan berapa banyak penekanan terhadap speechreading (Hallahan & Kauffman, 1980).
a. Auditory Training
Tujuan utama dari auditory training, yaitu (Hallahan & Kauffman, 1980):
1. Mengembangkan kesadaran akan suara
2. Mengembangkan kemampuan untuk membuat perbedaan yang mencolok diantara suara lingkungan.
3. Mengembangkan kemampuan membedakan diantara suara pembicaraan.

b. Speechreading
Speechreading merupakan bentuk pengajaran terhadap anak-anak tuna rungu dengan cara menggunakan informasi visual untuk dapat memahami apa yang dikatakan kepadanya. Metode ini kadang-kadang disebut sebagai lipreading yaitu memahami pembicaraan orang lain dengan cara memperhatikan dan membaca gerak bibir.
E. Pengaruh Pendengaran Pada Perkembangan Bicara dan Bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi yang dipergunakan manusia dalam mengadakan hubungan dengan sesamanya. Tanpa mengenal bahasa yang digunakan suatu masyarakat, kita sukar mengambil bagian dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, bila seorang anak memiliki kemampuan bahasa, mereka akan memiliki sarana untuk mengembangkan sosial, emosional, maupun intelektual mereka. Namun, tidak demikian halnya dengan anak-anak tunarungu. Dengan kemampuan pendengaran mereka, membuat minimnya peluang untuk mendengar dan meniru kosa kata untuk berbahasa, sehingga untuk berkomunikasi diperlukan cara-cara tertentu (Hallahan & Kauffman, 1980).
Perkembangan bahasa dan bicara berkaitan erat dengan ketajaman pendengaran. Akibat terbatasnya ketajaman pendengaran, anak tunarungu tidak mampu mendengar dengan baik. Dengan demikian pada anak tunarungu tidak terjadi proses peniruan suara, proses peniruannya hanya terbatas pada peniruan visual. Selanjutnya, dalam perkembangan bicara dan bahasa, anak tunarungu memerlukan pembinaan secara khusus dan intensif sesuai dengan kemampuan dan taraf ketunarunguannya (Hallahan & Kauffman, 1980).
Perkembangan kemampuan bahasa dan komunikasi anak tunarungu terutama yang tergolong tunarungu total tentu tidak mungkin untuk sampai pada penguasaan bahasa melalui pendengarannya, melainkan harus melalui penglihatannya dan memanfaatkan sisa pendengarannya. Oleh sebab itu, komunikasi bagi anak tunarungu mempergunakan segala aspek yang ada pada dirinya (Hallahan & Kauffman, 1980). Adapun berbagai media yang dapat dipergunakan anak tunarungu dalam berkomunikasi antara lain (Hallahan & Kauffman, 1980):
1. Bagi anak tunarungu yang masih mampu berbicara, tetap menggunakan bicara sebagai media dan membaca ujaran sebagai sarana penerimaan dari pihak anak tunarungu.
2. Menggunakan media tulisan dan membaca sebagai sarana penerimaannya.
3. Menggunakan isyarat sebagai media.

F. Perkembangan Kognitif Anak Tunarungu
Pada umumnya intelegensi anak tunarungu secara potensial sama dengan anak yang normal, tetapi secara fungsional perkembangannya dipengaruhi oleh tingkat kemampuan berbahasanya, keterbatasan informasi, dan kiranya daya abstraksi anak. Akibat ketunarunguannya menghambat proses pencapaian pengetahuan yang lebih luas. Dengan demikian perkembangan intelegensi secara fungsional terhambat. Perkembangan kognitif anak tunarungu sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa, sehingga hambatan pada bahasa akan menghambat perkembangan intelegensi anak tunarungu (Hallahan & Kauffman, 1980).
Kerendahan intelegensi anak tunarungu bukan berasal dari hambatan intelektualnya yang rendah, melainkan secara umum intelegensinya tidak memperoleh kesempatan untuk berkembang. Pemberian bimbingan yang teratur terutama dalam kecakapan berbahasa akan dapat membantu perkembangan intelegensi anak tunarungu. Tidak semua aspek intelegensi anak tunarungu terhambat. Aspek intelegensi yang terhambat perkembangannya ialah yang bersifat verbal, misalnya merumuskan pengertian, menghubungkan, menarik kesimpulan, dan meramalkan kejadian (Hallahan & Kauffman, 1980).
Aspek intelegensi yang bersumber dari penglihatan dan yang berupa motorik tidak banyak mengalami hambatan tetapi justru berkembang lebih cepat. Cruickshank (Somantri:2006) mengemukakan bahwa anak-anak tunarungu sering memperlihatkan keterlambatan dalam belajar dan terkadang tampak terbelakang. Keadaan ini tidak hanya disebabkan oleh derajat gangguan pendengaran yang dialami anak tetapi juga tergantung pada potensi kecerdasan yang dimiliki, rangsangan mental, serta dorongan dari lingkungan luar yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kecerdasan itu (Hallahan & Kauffman, 1980).
Furth Somantri:2006 mengungkapkan bahwa anak-anak tunarungu mengalami hambatan dalam hal konsep yang berlawanan, dimana konsep yang berlawanan juga bergantung pada kemampuan bahasa seseorang seperti panas-dingin (Hallahan & Kauffman, 1980).

G. Perkembangan Emosi Anak Tunarungu
Kekurangan akan pemahaman bahasa lisan dan tulisan seringkali menyebabkan anak tunarungu menafsirkan sesuatu secara negatif atau salah dan menjadi penyebab terjadinya tekanan terhadap emosinya. Tekanan yang terjadi pada emosi anak dapat menghambat perkembangan pribadi anak tunarungu, sehingga seringkali anak menutup diri, agresif, atau sebaliknya menampilkan kebimbangan dan keragu-raguan (Hallahan & Kauffman, 1980).
Emosi anak tunarungu selalu bergolak di satu pihak karena kemiskinan bahasanya dan di pihak lain karena pengaruh dari luar yang diterimanaya. Anak tunarungu bila ditegur oleh orang yang tidak dikenalinya akan tampat resah dan gelisah (Hallahan & Kauffman, 1980).
H. Perkembangan Sosial Anak Tunarungu
Manusia sebagai makhluk sosial selalu memerlukan kebersamaan dengan orang lain. Demikian pula anak tunarungu, ia tidak lepas dari kebutuhan tersebut. Akan tetapi, akrena mereka memiliki kelainan dari segi fisik, biasanya akan menyebabkan suatu kelainan dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan. Pada umumnya lingkungan melihat mereka sebagai seseorang yang kurang berkarya. Dengan penilaian lingkungan yang demikian, anak tunarungu merasa benar-benar kurang berharga. Dengan penilaian dari lingkungannya yang demikian juga memberikan pengaruh yang benar-benar besar terhadap perkembagan fungsi soasialnya. Dengan adanya hambatan dalam perkembangan sosial ini mengakibatkan pula pertambahan minimnya penguasaan bahasa dan kecenderungan menyendiri serta memiliki sifat egosentris (Hallahan & Kauffman, 1980).
Faktor sosial dan budaya meliputi pengertian yang sangat luas, yaitu meliputi lingkungan hidup dimana anak berinteraksi yaitu interaksi antar individu dengan individu, dengan kelompok, keluarga, dan masyarakat. Untuk kepentingan anak tunarungu, seluruh anggota keluarga, guru, serta masyarakat di sekitarnya hendaknya berusaha mempelajari dan memahami keadaan mereka karena hal tersebut dapat menghambat perkembangan kepribadian yang negatif pada diri anak tunarungu (Hallahan & Kauffman, 1980).
Anak tunarungu banyak dihinggapi kecemasan karena menghadapi lingkungan yang beraneka ragam komunikasinya, hal seperti ini akan membingungkan anak tunarungu. Anak tunarungu sering mengalami berbagai konflik, kebingungan, dan ketakutan karena ia sebenarnya hidup dalam lingkungan yang bermacam-macam (Hallahan & Kauffman, 1980).
I. Perkembangan Perilaku Anak Tunarungu
Kepribadian pada dasarnya adalah keseluruhan dari sifat dan sikap dari seseorang yang menentukan cara-cara yang unik dalam penyesuaiannya dengan lingkungan. Oleh karena itu, banyak ahli berpendapat perlu diperhatikannya masalah penyesuaian seseorang agar kita mengetahui bagaimana kepribadiannya. Demikian pula anak tunarungu, untuk mengetahui kepribadiannya, perlu kita mengetahui bagaimana penyesuaian diri mereka (Hallahan & Kauffman, 1980).
Perkembangan kepribadian banyak dipengaruhi oleh interaksi kita dengan individu lainnya. Pertemuan antar faktor-faktor dalam diri anak tunarungu yaitu ketidakmampuan menerima rangsangan pendengaran, kemiskinan berbahasa, ketidaktepatan emosi, dan keterbatasan intelegensi dihubungkan dengan sikap lingkungan terhadapnya menghambat perkembangan kepribadiannya (Hallahan & Kauffman, 1980).
J. Sumber
Hallahan, D.P., & Kauffman, J.M. 1988. Exceptional Children: Introduction to Special Education. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.
Somantri, T. Sutjihati. 2006. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT Refika Aditama.