Tags

, , ,

BAB I

PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Marpaung (2003) menyatakan bahwa epilepsi adalah suatu gangguan yang berhubungan dengan sistem saraf pusat, yang ditandai dengan adanya kejang yang disebabkan oleh hiperaktifitas muatan listrik dari neuron otak secara spontan. Harsono (2004) dan Mardjono (1979) menjelaskan bahwa epilepsi dikenal sebagai salah satu penyakit tertua di dunia (2000 tahun SM) dan menempati urutan kedua dari penyakit saraf setelah gangguan peredaran darah otak. Penyakit epilepsi telah dikenal lama di masyarakat (terbukti dengan adanya istilah-istilah bahasa daerah untuk penyakit tersebut seperti sawam, ayan, sekalor, dan celengan), tapi pengertian akan penyakit tersebut masih kurang bahkan salah sehingga penderita digolongkan dalam penyakit gila, kutukan dan turunan akibatnya penderita tidak diobati atau bahkan disembunyikan. Harsono (2007) menambahkan bahwa hal tersebut mengakibatnya banyak penderita epilepsi tidak terdiagnosis dan mendapat pengobatan yang tidak tepat sehingga menimbulkan dampak klinik dan psikososial yang merugikan baik bagi penderita maupun keluarganya.

Harsono (2004) memaparkan bahwa masyarakat awam menganggap epilepsi atau ayan merupakan penyakit akibat adanya gangguan di otak atau disebabkan oleh kekuatan supranatural, dan tiap jenis serangan dikaitkan dengan nama roh atau setan sehingga terapinya juga didasarkan atas kekuatan spriritual. Masyarakat juga menganggap epilepsi sebagai penyakit yang memalukan atau menakutkan karena dianggap menular melalui buih yang keluar dari mulut penderita yang terkena serangan.

Wasim, dkk. (Leny, 2009) memaparkan hasil survey terhadap 220 responden mengenai pengetahuan, sikap dan perlakuan tentang epilepsi, hasil survey tersebut menunjukkan bahwa ada 41% menganggap epilepsi sebagai penyakit berbahaya, 20% yang mengganggap epilepsi bukan penyakit, 12% menganggap epilepsi penyakit turunan, 3% menganggap epilepsi penyakit menular, sedangkan masyarakat yang berpersepsi negatif terhadap penderita epilepsi ada 44%. Hasil survey tersebut bisa menjadi penjelasan mengapa penderita epilepsi bisa menderita tekanan, baik internal maupun eksternal (Harry, 2007).

Tekanan internal yang dihadapi oleh penderita epilepsi adalah perasaan yang malu, tertekan dan merasa takut akan kumatnya gejala epilepsi yang diderita di tempat umum. Hal tersebut dipaparkan oleh Harry (2007) bahwa penderita epilepsi biasanya takut tidak bisa sembuh, dan takut kumat di tempat umum lalu menjadi tontonan yang memalukan bagi individu-individu, sedangkan tekanan eksternalnya adalah anggapan masyarakat yang beraneka ragam terhadap penderita epilepsi.

Arifin (2005) menambahkan bahwa penderita epilepsi takut jika sepanjang hidupnya akan menderita epilepsi, penderita juga takut mengemudi, takut untuk berenang, dan mendapat serangan kejang di depan umum. Penderita juga memiliki keyakinan bahwa bahwa kelak penderita akan mati mendadak karena epilepsinya. Hal tersebut senada dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lazuardi tahun 1994 pada 100 penderita di Klinilk Epilepsi RSUPN Cipto Mangunkusumo bahwa 64% penderita epilepsi merasa malu, 45% merasa rendah diri, 42% meresa depresi, 26% tanpa pekerjaan, 19% mengalami isolasi sosial, 12% keluar dari sekolah, 7% cemas dan 6% yang bercerai.

Penelitian yang lain dilakukan oleh Mina N Astejada, Roland Dominic G Jamora, dan Lourdes K Ledesma (Anonim, 2008) di Pilipina dengan menggunakan Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) yang menunjukkan bahwa 645 pasien epilepsi mengalami kecemasan sedangkan 51% dari pasien epilepsi tersebut juga mengalami depresi.

Banyaknya masalah psikologis bagi penderita epilepsi yang disebabkan karena tekanan internal maupun tekanan eksternal akan beresiko mengalami gangguan keberfungsian dalam hidup, baik di sekolah, di tempat kerja maupun di tempat umum lainnya. Hal ini disebabkan karena penderita epilepsi selalu merasa cemas kalau serangan epilepsinya akan kumat ditambah lagi persepsi masyarakat yang negatif terhadap penyakit epilepsi. Pusponegoro (2009) yang merupakan pakar saraf anak FKUI/RSCM Jakarta, pernah memiliki pasien yang berobat padanya sejak kecil, dan sampai pasien tersebut SMA semua berjalan dengan baik karena penyakitnya tidak pernah kambuh di muka umum bahkan sangat jarang walaupun tidak di muka umum. Namun sayangnya ketika pasien tersebut memasuki kelas II SMU, pasien tersebut bunuh diri karena tidak kuat menahan sanksi sosial dari masyarakat yang mengucilkkannya karena menganggap penyakit epilepsi yang diderita pasien tersebut menular dan semacam kutukan.

Harsono (2004) mengemukakan bahwa kecemasan yang diderita oleh wanita penderita epilepsi lebih besar daripada pria, walaupun pada dasarnya tidak ada jenis serangan epilepsi yang khas pada pria atau wanita, hanya saja perempuan yang mengalami penyakit epilepsi harus mendapatkan perhatian khusus. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan faktor psikologis antara pria dan wanita juga termasuk perbedaan biologis yang hanya ada pada wanita, seperti menstruasi, kehamilan, persalinan, laktasi (menyusui) maupun monopouse.

Banyaknya masalah psikologis dan keadaan biologis yang hanya ada pada wanita penderita epilepsi tentunya lebih beresiko mengalami serangan epilepsi (serangan kejang) dampaknya akan memunculkan gangguan keberfungsian dalam hidup, baik di sekolah, di tempat kerja maupun di tempat umum lainnya. Hal ini disebabkan oleh timbulnya perasaan cemas pada  penderita epilepsi jika serangan epilepsinya akan kumat. Harsnono (2001) mengemukakan bahwa kecemasan, ketakutan, depresi, frustasi dan marah dapat mengubah konstelasi hormon (misalnya peningkatan kadar kortisol yang berpengaruh terhadap ambang serangan epilepsi) yang kemudian memicu terjadinya hiperventilasi yang menjadi penyebab terjadinya serangan.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap subjek yang berinisial NM dengan usia 55 tahun diketahui bahwa gejala serangan epilepsi pada subjek terjadi pada saat subjek tertidur. Serangan tersebut biasanya dimulai dengan subjek berkata-kata yang tidak jelas kemudian muncul kejang dan mulut berbusa yang berlangsung 10 menit. Serangan epilepsi yang diderita subjek adalah jenis serangan epilepsi sekunder karena baru muncul sekitar satu tahun dengan frekuensi munculnya serangan epilepsi lebih dari 10 kali. Subjek mengalami serangan epilepsi apabila subjek mengalami tekanan emosional seperti kecemasan, ketakutan, dan emosi negatif lainnya di siang hari.

Berdasarkan pemaparan di atas maka peneliti menganggap bahwa dibutuhkan coping stress sebagai usaha untuk menguasai, mengurangi, ataupun usaha yang memungkinkan individu untuk bertoleransi dan beradaptasi terhadap masalah yang muncul dalam hidupnya, sehingga wanita penderita epilepsi mampu menjalankan aktivitas sesuai dengan fungsinya, dengan kata lain penderita epilepsi mampu menjalani hidup normal. Hal tersebut tidak mustahil sebagaimana yang dipaparkan oleh Pusponegoro (2009) bahwa sekitar 400.000 anak di AS mengidap epilepsi, dan mereka dapat mengendalikan serangan mendadak itu serta mampu hidup normal.

Lazarus & Folkman (Grece dan Triyani, 2006) menyatakan bahwa coping stress dapat dimengerti sebagai segala usaha kognitif, serta behavioral untuk menguasai, mengurangi, ataupun usaha yang memungkinkan individu untuk bertoleransi dan beradaptasi terhadap masalah yang muncul dalam hidupnya. Coping stress tersebut terbagi menjadi dua yaitu coping stress problem focused dan coping stress emotion focused.

Berdasarkan pemaparan di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti coping stress yang digunakan oleh wanita penderita epilepsi dalam usahanya menghadapi atau beradaptasi dengan stimulus stressor baik yang berasal dari internal maupun eksternal.

B. Fokus Kajian Penelitian

Masalah yang dijadikan fokus dalam penelitian tersebut, antara lain:

  1. Bagaimana bentuk-bentuk coping stress pada wanita penderita epilepsi?
  2. Bagaimana proses coping stress yang dilakukan wanita penderita epilepsi untuk mengatasi stimus stressor?
  3. Bagaimana dampak coping stress yang dilakukan wanita penderita epilepsi  untuk mengatasi stimulus stressor sehingga mampu menjalankan fungsinya di masyarakat?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian tersebut, antara lain:

  1. Untuk mengetahui bentuk-bentuk coping stress pada wanita penderita epilepsi.
  2. Untuk mengetahui proses coping stress yang dilakukan wanita penderita epilepsi untuk mengatasi stimus stressor.
  3. Untuk mengetahui dampak coping stress yang dilakukan wanita penderita epilepsi untuk mengatasi stimulus stressor sehingga mampu menjalankan fungsinya di masyarakat.

 

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian tersebut diharapkan kelak dapat memberi manfaat teoritis dan praktis. Adapun manfaat yang dimaksud adalah:

  1. Manfaat teoritis
    1. Mampu menjadi referensi ilmiah mengenai manfaat coping stress pada penderita epilepsi.
    2. Mampu memberikan sumbangan bagi dunia kedokteran agar bisa meningkatkan kualitas hidup penderita epilepsi dalam menjalankan fungsinya.
  2. Manfaat praktis
    1. Bagi psikolog, untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat khususnya wanita yang menderita epilepsi tentang bentuk-bentuk coping stress.
    2. Bagi dunia kedokteran, untuk memberikan pemahaman yang baik kepada pasien penderita epilepsi bahwa coping stress yang tepat akan memberi manfaat untuk meningkatkan kualitas hidup.
    3. Bagi masyarakat, untuk senantiasa terlibat dalam proses penyembuhan epilepsi dengan cara memberikan motivasi, penghargaan dan kata-kata positif agar wanita penderita epilepsi senantiasa mempertahankan coping stress yang tepat.


BAB II

PERSPEKTIF TEORITIK DAN KAJIAN PUSTAKA

A. Coping Stress

1. Stres

Lazarus dan Folkman (1984) menyatakan bahwa stres merupakan hubungan antara individu dengan lingkungan yang oleh individu dinilai membebani atau melebihi kekuatannya dan mengancam kesehatannya.

a. Proses Pengalaman Stres

Stres merupakan persepsi yang dinilai individu dari sebuah situasi atau peristiwa. Sebuah situasi yang sama dapat dinilai positif, netral atau negatif oleh individu yang berbeda. Penilaian tersebut bersifat subjektif pada setiap individu, karena hal tersebut individu dapat merasa lebih stres daripada yang lainnya walaupun mengalami kejadian yang sama. Selain hal tersebut, semakin banyak kejadian yang dinilai sebagai stresor oleh individu, maka semakin besar kemungkinan individu mengalami stres yang lebih berat (Reina Wangsadjaja, 2008).

Lazarus (Wangsadjaja, 2008) menyatakan bahwa dalam melakukan penilaian ada dua tahap yang harus dilalui, yaitu:

1)  Primary appraisal

Primary appraisal merupakan proses penentuan makna dari suatu peristiwa yang dialami individu. Peristiwa tersebut dapat dipersepsikan positif, netral, atau negatif oleh individu. Peristiwa yang dinilai negatif kemudian dicari kemungkinan adanya harm, threat, atau challenge. Harm adalah penilaian mengenai bahaya yang didapat dari peristiwa yang terjadi. Threat adalah penilaian mengenai kemungkinan buruk atau ancaman yang didapat dari peristiwa yang terjadi. Challenge merupakan tantangan akan kesanggupan untuk mengatasi dan mendapatkan keuntungan dari peristiwa yang terjadi.

Primary appraisal memiliki tiga komponen, yaitu:
Goal relevance, yaitu penilaian yang mengacu pada tujuan yang dimiliki individu, yaitu bagaimana hubungan peristiwa yang terjadi dengan tujuan personalnya. Goal congruence or incongruence, yaitu penilaian yang mengacu pada apakah hubungan antara peristiwa di lingkungan dan individu tersebut konsisten dengan keinginan individu atau tidak, dan apakah hal tersebut menghalangi atau memfasilitasi tujuan personalnya. Jika hal tersebut menghalanginya, maka disebut sebagai goal incongruence, dan sebaliknya jika hal tersebut memfasilitasinya, maka disebut sebagai goal congruence. Type of ego involvement, yaitu penilaian yang mengacu pada berbagai macam aspek dari identitas ego atau komitmen individu.

2)  Secondary appraisal

Secondary appraisal merupakan penilaian mengenai kemampuan individu melakukan coping, beserta sumber daya yang dimilikinya, dan apakah individu cukup mampu menghadapi harm, threat, dan challenge dalam peristiwa yang terjadi. Secondary appraisal memiliki tiga komponen, yaitu blame dan credit merupakan penilaian mengenai siapa yang bertanggung jawab atas situasi menekan yang terjadi atas diri individu. Copingpotential merupakan penilaian mengenai bagaimana individu dapat mengatasi situasi menekan atau mengaktualisasi komitmen pribadinya. Future expectancy merupakan penilaian mengenai apakah untuk alasan tertentu individu mungkin berubah secara psikologis untuk menjadi lebih baik atau buruk.

Pengalaman subjektif akan stres merupakan keseimbangan antara primary dan secondary appraisal. Ketika harm dan threat yang ada cukup besar, sedangkan kemampuan untuk melakukan coping tidak memadai, stres yang besar akan dirasakan oleh individu. Sebaliknya, ketika kemampuan coping besar, stres dapat diminimalkan.

b. Faktor-faktor penyebab stres

Sarafino (1998) mengemukakan dua faktor yang dapat menimbulkan stres yaitu faktor yang berhubungan dengan individu dan faktor yang berhubungan dengan situasi. Faktor yang berhubungan dengan pribadi individu, antara lain: pertama intelektualitas. Individu yang memiliki intelektualitas rendah akan lebih rentan terhadap stres dibandingkan individu dengan tingkat intelektualitas yang diatasnya. Kedua adalah motivasi. Individu dengan motivasi rendah cenderung lebih mudah ditimpa stres daripada individu dengan motivasi tinggi. Ketiga adalah karakteristik kepribadian, dimana individu dengan kepribadian tipe B lebih rentan terhadap stres dibandingkan individu dengan kepribadian tipe A.

Maramis (1994) mengemukakan bahwa stres pada umumnya bersumber pada frustasi, konflik, tekanan, dan krisis. Frustasi disebabkan oleh adanya satu hal yang menghalangi pencapaian tujuan individu. Ada frustasi yang datang dari luar, misalnya bencana alam, kecelakaan, kegoncangan ekonomi, dan sebagainya. Namun ada pula frustasi yang datang dari dalam, seperti cacat badaniah, kegegelan dalam usaha, dan sebagainya. Konflik, terjadi bila individu tidak dapat memilih antara dua atau lebih macam kebutuhan atau tujuan. Memilih yang satu akan menyebabkan frustasi disisi lain, pilihan-pilihan tersebut membuat individu berkonflik yang bisa membawanya pada kondisi stres.

Levy, Dignan, dan Shirreffs (1984) menyebutkan situasi-situasi yang dapat menimbulkan stres, yaitu kondisi seperti situasi yang kacau, tempat kerja, tidak mendapatkan pekerjaan, stres dari lingkungan fisik (misalnya cahaya, antrian atau kemacetan), dan stres sosial (misalnya persaingan saudara kandung, persaingan teman sebaya, atau konflik dengan keluarga).

c. Respon terhadap Stres

Taylor (Wangsadjaja, 2008) menyatakan, stres dapat menghasilkan berbagai respon. Berbagai peneliti telah membuktikan bahwa respon-respon tersebut dapat berguna sebagai indikator terjadinya stres pada individu, dan mengukur tingkat stres yang dialami individu. Respon stres dapat terlihat dalam berbagai aspek, yaitu:

1)  Respon fisiologis; dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, detak jantung, detak nadi, dan sistem pernapasan.

2)  Respon kognitif; dapat terlihat lewat terganggunya proses kognitif individu, seperti pikiran menjadi kacau, menurunnya daya konsentrasi, pikiran berulang, dan pikiran tidak wajar.

3)  Respon emosi; dapat muncul sangat luas, menyangkut emosi yang mungkin dialami individu, seperti takut, cemas, malu, marah, dan sebagainya.

4)  Respon tingkah laku; dapat dibedakan menjadi fight, yaitu melawan situasi yang menekan, dan flight, yaitu menghindari situasi yang menekan.

Prokop, dkk (1991) mengemukakan bahwa stres direspon oleh individu secara biologis dan secara psikososial.

1)  Respon secara biologis

Selye (Prokop, 1991) mengemukakan tiga tahap-tahap reaksi sebagai respon individu terhadap stres, antara lain:

a)  Tahap peringatan, merupakan reaksi yang alamiah, fungsi-fungsinya dipicu oleh sumber yang berasal dari dalam tubuh. Tahap tersebut bisa dilihat dari tekanan darah, yang berada di bawah normal. Hal tersebut menunjukkan hubungan antara hormon yang dihasilkan dari sistem endokrin. Setelah melewati tahap tersebut, individu akan resisten terhadap stres. Namun pada beberapa individu, tidak mampu melewati tahap tersebut yang kemudian menyebabkan kematiannya.

b)  Tahap resisten, merupakan tahap dimana individu menghadapi tekanan stresor yang sangat kuat, namun tidak sampai membuatnya meninggal.pada tahap tersebut, individu mampu beradaptasi dengan stresor.

c)  Tahap kelelahan, tahap tersebut dimulai pada saat stres telah mencapai ambang batas maksimal. Jika stres berlanjut, biasanya timbul penyakit dan kerusakan organ internal serta dapat pula menyebabkan kematian.

2)  Respon secara psikososial

a)  Kognisi stres. Stres dapat mempengaruhi fungsi kognitif individu yang biasanya dapat terlihat dari kurangnya konsentrasi. Misalnya, suara bising dapat menjadi sebuah stressor, dimana lingkungan yang bising dapat mempengaruhi perilkau individu. Beberapa indiviu akan memilih untuk mengacuhkan kebisingan tersebut dan berusaha untuk tetap berkonsentrasi.

b)  Emosi dan stres. Emosi cenderung memberi pengaruh terhadap terjadinya stres, dan pada umumnya manusia menggunakan emosi sebagai bentuk respon mereka terhadap stres yang dialami. Takut merupakan reaksi umum yang ditunjukkan oleh individu yang dirasakan ketika merasa ada ancaman. Phobia merupakan bentuk ketakutan tidak rasional yang dihubungkan dengan peristiwa atau situasi khusus. Cemas merupakan perasaan yang sulit digambarkan berupa perasaan terancam karena sesuatu yang belum jelas. Stres bisa disebabkan oleh perasaan sedih dan depresi. Perasaan sedih dan depresi merupakan hal yang normal, namun akan menjadi sesuatu yang abnormal jika terjadi dalam waktu yang relatif lama. Individu cenderung mengalami suasana hati yang tidak gembira, merasa sangat membutuhkan pertolongan, terlihat pasif, kesulitan makan dan tidur, memiliki konsep diri yang rendah, dan senantiasa membawa dirinya dalam masalah. Bentuk perilaku lainnya yang merupakan respon terhadap frustasi akibat stres, biasanya muncul dalam bentuk perilaku agresi.

c)  Perilaku sosial dan stres. Masalah-masalah dari lingkungan sosial bisa menjadi penyebab stres seperti kecelakaan lalu lintas, bencana alam, pengangguran, merupakan masalah-masalah sosial yang direspon oleh individu sebagai sesuatu yang menimbulkan ancaman. Sebagian individu saling bekerja sama menyelesaikan masalah lingkungan mereka yang menimbulkan stres. Namun ada individu yang memiliki keterampilan sosial yang rendah dengan relasi terbatas dengan individu lain. Mereka merupakan individu yang rentan terhadap stres.

2. Coping Stress

a. Proses coping stress

Mu’tadin (Wangsadjaja, 2008) menyatakan bahwa stres yang muncul pada individu akan membuat individu melakukan suatu coping. Lazarus dan Folkman (Wangsadjaja, 2008) menjelaskan bahwa coping adalah suatu tindakan merubah kognitif secara konstan dan merupakan suatu usaha tingkah laku untuk mengatasi tuntutan internal atau eksternal yang dinilai membebani atau melebihi sumber daya yang dimiliki individu. Coping yang dilakukan berbeda dengan perilaku adaptif otomatis, karena coping membutuhkan suatu usaha, yang mana hal tersebut akan menjadi perilaku otomatis lewat proses belajar. Coping dipandang sebagai suatu usaha untuk menguasai situasi tertekan, tanpa memperhatikan akibat dari tekanan tersebut. Namun coping bukan merupakan suatu usaha untuk menguasai seluruh situasi menekan, karena tidak semua situasi tersebut dapat benar-benar dikuasai. Maka, coping yang efektif untuk dilakukan adalah coping yang membantu individu untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan dan tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya (Lazarus dan Folkman dalam Wangsadjaja, 2008).

b. Strategi Coping Stres

Setiap manusia mengembangkan strategi coping sebagai pola perilaku yang akan diterapkan jika berada dalam kondisi penuh tekanan. Parek (Patnani, Ekowarni, dan Esem, 2002) menyatakan delapan strategi coping yang biasa digunakan, antara lain:

  1. Impunitive, strategi coping dimana individu menganggap bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan dalam menghadapi kondisi yang penuh tekanan dari luar.
  2. Intropunitive, yaitu tindakan menyalahkan diri sendiri untuk masalah yang dihadapi.
  3. Ekstrpunitive, individu melakukan tindakan agresi untuk mengatasi masalahnya.
  4. Defensiveness, individu melakukan pengingkaran atau rasionalisasi dalam mengatasi masalahnya.
  5. Impersistive, individu merasa optimis bahwa waktu akan menyelesaikan masalah dan keadaan membaik kembali.
  6. Intropersistive, individu percaya bahwa dia harus bertindak sendiri untuk mengatasi masalahnya.
  7. Intrapersistive, individu megharapkan individu lain untuk menyelesaikan masalahnya.
  8. Interpersistive, individu merasa bahwa kerja sama antara dirinya dengan individu lain dapat mengatasi masalah yang dihadapnya.

Strategi coping yang telah disebutkan dapat dibedakan menjadi dua sifat, yaitu strategi coping yang bersifat avoidance dan yang bersifat approach. Strategi coping yang bersifat avoidance merupakan strategi yang negatif, meliputi impunitive, intropunitive, dan defensive. Strategi coping yang bersifat approach merupakan strategi coping yang positif, meliputi impersistive, intropersistive, intrapersistive dan interpersistive.

Lazarus dan Folkman (Wangsadjaja, 2008) menyatakan bahwa dalam melakukan coping, ada dua strategi yang dibedakan menjadi:

1)  Problemfocused coping

Problem-focused coping, yaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dari lingkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan.

a)  Confrontative coping, yaitu usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang agresif, tingkat kemarahan yang cukup tinggi, dan pengambilan resiko.

b)  Seeking social support; yaitu usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan bantuan informasi dari individu lain.

c) Planful problem solving, yaitu usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang hati-hati, bertahap, dan analitis.

2)  Emotion-focused coping.

Emotion-focused coping, yaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang dianggap penuh tekanan.

a)  Selfcontrol, yaitu usaha untuk mengatur perasaan ketika menghadapi situasi yang menekan.

b)  Distancing, yaitu usaha untuk tidak terlibat dalam permasalahan, seperti menghindar dari permasalahan seakan tidak terjadi apa-apa atau menciptakan pandangan-pandangan yang positif, seperti menganggap masalah sebagai lelucon.

c)  Positive reappraisal, yaitu usaha mencari makna positif dari permasalahan dengan terfokus pada pengembangan diri, biasanya juga melibatkan hal-hal yang bersifat religius.

d)  Accepting responsibility, yaitu usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam permasalahan yang dihadapinya, dan mencoba menerimanya untuk membuat semuanya menjadi lebih baik. Strategi tersebut baik, terlebih bila masalah terjadi karena pikiran dan tindakannya sendiri. Namun strategi tersebut menjadi tidak baik bila individu tidak seharusnya bertanggung jawab atas masalah tersebut.

e)  Escape/avoidance, yaitu usaha untuk mengatasi situasi menekan dengan lari dari situasi tersebut atau menghindarinya dengan beralih pada hal lain seperti makan, minum, merokok, atau menggunakan obat-obatan.

Individu cenderung untuk menggunakan problem-focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurut individu tersebut dapat dikontrolnya. Sebaliknya, individu cenderung menggunakan emotion focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurutnya sulit untuk dikontrol (Lazarus dan Folkman dalam Wangsadjaja, 2008). Terkadang individu dapat menggunakan kedua strategi tersebut secara bersamaan, namun tidak semua strategi coping pasti digunakan oleh individu  (Taylor dalam Wangsadjaja, 2008).

c. Coping out come

Lazarus dan Folkman (Wangsadjaja, 2008) menyatakan bahwa coping yang efektif adalah coping yang membantu individu untuk menoleransi dan menerima situasi menekan, serta tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya. Sesuai dengan pernyataan tersebut, Cohen dan Lazarus (Taylor dalam Wangsadjaja, 2008) mengemukakan, agar coping dilakukan dengan efektif, maka strategi coping perlu mengacu pada lima fungsi tugas coping yang dikenal dengan istilah coping task, yaitu:

1)  Mengurangi kondisi lingkungan yang berbahaya dan meningkatkan prospek untuk memperbaikinya.

2)  Menoleransi atau menyesuaikan diri dengan kenyataan yang negatif.

3)  Mempertahankan gambaran diri yang positif.

4)  Mempertahankan keseimbangan emosional.

5)  Melanjutkan kepuasan terhadap hubungannya dengan individu lain.

Taylor (Wangsadjaja, 2008) menjelaskan bahwa efektivitas coping tergantung dari keberhasilan pemenuhan coping task. Individu tidak harus memenuhi semua coping task untuk dinyatakan berhasil melakukan coping dengan baik. Setelah coping dapat memenuhi sebagian atau semua fungsi tugas tersebut, maka dapat terlihat bagaimana coping outcome yang dialami tiap individu.

Coping outcome adalah kriteria hasil coping untuk menentukan keberhasilan coping. Coping outcome ada dua, yaitu ukuran fungsi fisiologis dan efektivitas dalam mengurangi psychological distress. Ukuran fungsi fisiologis yaitu coping dinyatakan berhasil bila coping yang dilakukan dapat mengurangi indikator dan arousal stress seperti menurunnya tekanan darah, detak jantung, detak nadi, dan sistem pernapasan. Apakah individu dapat kembali pada keadaan seperti sebelum individu tersebut mengalami stres, dan seberapa cepat individu tersebut dapat kembali. Coping dinyatakan berhasil bila coping yang dilakukan dapat membawa individu kembali pada keadaan seperti sebelum individu mengalami stres, dan jika dilihat dari efektivitas dalam mengurangi psychological distress maka coping dinyatakan berhasil jika coping tersebut dapat mengurangi rasa cemas dan depresi pada individu.

B. Wanita Penderita Epilepsi

1. Epilepsi

a. Pengertian Epilepsi

Price dan Wilson (1995) menjelaskan bahwa epilepsi merupakan suatu gangguan neurologik relatif yang sering terjadi. Epilepsi merupakan suatu gangguan fungsional kronik dan banyak jenisnya dan ditandai oleh aktivitas serangan yang berulang. Serangan kejang yang merupakan gejala atau manifestasi utama epilepsi dapat diakibatkan kelainan fungsional (motorik, sensorik, dan psikis). Price dan Wilson (1995) menambahkan bahwa serangan tersebut tidak lama, tidak terkontrol serta timbul secara episodik dan serangan tersebut mengganggu kelangsungan kegiatan yang sedang dikerjakan penderita pada saat tertentu. Serangan epilepsi berkaitan dengan pengeluaran impuls oleh neuron serebral yang berlebihan dan berlangsung lokal.

Hippocrates (Price dan Wilson, 1995) mengidentifikasi epilepsi sebagai masalah yang ada kaitannya dengan otak. Epilepsi dapat menyerang segala kelompok usia, juga segala jenis bangsa dan keturunan di seluruh dunia, meskipun demikian ada individu tertentu yang lebih mudah mengalami serangan epilepsi dari yang lain. Hal yang senada juga dipaparkan oleh Harsono (2004) bahwa epilepsi dapat mengenai siapa saja, segala umur, jenis kelamin, serta kelompok ras atau etnis.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa epilepsi terjadi karena interaksi antara predisposisi pembawaan dan faktor-faktor lingkungan, epilepsi juga dapat terjadi pada semua umur, namun yang paling sering adalah pada masa kanak-kanak. 75% kasus tersebut terjadi sebelum usia 20 tahun. Kalau ada serangan yang dialami pertama kali sesudah umur 25 tahun maka epilepsi biasanya merupakan penyakit sekunder (Price dan Wilson, 1995). Harsono (2007) menambahkan bahwa epilepsi terjadi karena adanya gangguan otak dengan berbagai gejala klinis, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik dari neuron-neuron otak secara berlebihan dan berkala.

b. Prevalensi penderita epilepsi

Hasil dari berbagai penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa diantara 1000 individu penduduk lima sampai 20 individu menderita epilepsi, sedangkan di Indonesia belum ada hasil penelitian yang menunjukkan  prevalensi epilepsi (Lunbantobing, 2006).

Lunbantobing (2006) memaparkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa di Rochester, Minnesota, Amerika Serikat pada tahun 1965 prevalensi epilepsi adalah 5,7 per 1000 penduduk, di Dakar, Senegal, prevalensi epilepsi adalah 8 per 1000 penduduk, di Etiopia 8 per 1000, di Lagos, Nigeria 13 per 1000, di Tialpan, Mexico 18,2 per 1000, di Santiago, Chili 19,0 per 1000, di Bogota, Columbia 19,5 per 1000, Merida, Venezuela 19,5 per 1000, di antara suku Wapogoro, Tanzania 20,0 per 1000 penduduk. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa prevalensi epilepsi lebih tinggi di negara sedang berkembang dibanding negara industri, hal tersebut diduga karena beberapa faktor ikut berperan seperti perawatan ibu hamil, keadaan waktu melahirkan, trauma lahir, kekurangan gizi dan penyakit infeksi.

c. Jenis-jenis serangan epilepsi

Price dan Wilson (1995) menguraikan dua golongan utama epilepsi, antara lain:

1)  Serangan parsial

Harsono (2001) menyatakan bahwa serangan epilepsi parsial disebabkan oleh kelainan lokal pada otak misalnya tumor, malformasi faskular, stroke, trauma, penyakit neurodegeneratif. Serangan parsial dibagi menjadi serangan parsial dengan kesadaran yang tetap baik (parsial sederhana) dan serangan dengan gangguan kesadaran (parsial kompleks).

Adapun ciri-ciri klinis dari serangan parsial sederhana, antara lain (Harsono, 2001):

a)  Tidak disertai gangguan atau penurunan kesadaran. Selama serangan berlangsung maka penderita tetap sadar dan mampu untuk menjawab pertanyaan ataupun melaksanakan perintah dan kemudian penderita ingat akan apa yang terjadi selama serangan berlangsung. Serangan parsial sederhana dapat sebagai pendahulu serangan parsial kompleks, dalam hal tersebut serangan parsial sederhana dianggap sebagai aura (penanda akan adanya serangan epilepsi).

b)  Manifestasi klinis serangan parsial sederhana biasanya berhubungan dengan area otak tertentu yang terlibat, dengan demikian manifestasi klinisnya dapat sangat bervariasi, termasuk manifestasi motorik, sensorik, otonomik, dan psikis.

c)  Serangan motorik pada umumnya merupakan refleksi terlibatnya korteks motorik atau supplementary motor cortex dan menyebabkan terjadinya perubahan aktivitas otot. Gerakan tonik (kaku leher, mata melirik ke satu arah) atau gerakan klonik (menyentak)  merupakan gambaran klinis yang biasa terjadi. Gerakan abnormal dapat terbatas pada salah satu bagian tubuh atau menyebar ke otot-otot pada sisi yang sama ataupun pada kedua sisi (secondary generalization).

d)  Serangan sensorik sering kali muncul sebagai halusinasi atau ilusi yang melibatkan rasa sentuh (parestesi atau baal), penghiduan (menangkap bau yang aneh), pengecapan lidah ( rasa yang aneh atau abnormal), penglihatan (halusinasi visual berbentuk atau tidak berbentuk), dan pendengaran (suara gemuruh, mendering, musik, atau aneka suara).

e)  Serangan otonomik dapat menyebabkan perubahan pada kecepatan denyut jantung atau pernapasan, berkeringat, bulu roma berdiri, atau rasa aneh di dalam perut (misalnya ada kupu-kupu di dalam perut), dada atau kepala.

f)   Serangan psikis muncul dari sistem limbik dan area neokorteks pada lobus frontalis dan temporalis. Serangan psikis tersebut berdampak pada cara berpikir, berperasaan, dan menerima pengalaman. Manifestasi klinisnya dapat berupa rasa takut, cemas, depresi, déjà vu, jamais vu, dan fenomena disosiasi misalnya aotoscopy (out of body experience).

g)  Serangan epilepsi berlangsung hingga 30 detik atau kurang. Tidak ada gejala pascaserangan walaupun penderita serangan parsial motorik mengalami kelemahan pada bagian tubuh tertentu.

Adapun ciri-ciri klinis dari serangan parsial kompleks, antara lain (Harsono, 2001):

a)  Terjadi penurunan kesadaran. Penderita mengalami gangguan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Penderita dapat tampak sadar, namun apabila diperiksa lebih dekat maka penderita tidak sadar akan lingkungannya, tidak dapat menjawab pertanyaan secara tepat, dan kemudian tidak dapat mengingat kembali tentang apa yang baru saja dialaminya. Serangan parsial kompleks melibatkan bagian-bagian otak yang bertanggung jawab atas berlangsungnya kesadaran dan memori, dan pada umumnya melibatkan kedua belah lobus temporalis atau frontalis dan sistem limbik.

b)  Sekitar 50% penderita terlebih dahulu mengalami aura (serangan parsial sederhana). Aura yang paling sering muncul adalah rasa takut, perasaan mual, perasaan aneh, gangguan visual unilateral, dan kedutan (twitching) fokal pada wajah atau jari-jari.

c)  Selama serangan parsial kompleks sering tampak adanya otomatisme sederhana atau kompleks (aktivitas motorik yang berulang-ulang, tanpa tujuan, tanpa arah, dan aneh). Sebagai contoh, gerakan mengunyah atau menelan berulang kali, berkecap-kecap, menarik-narik baju, berkomat-kamit. Ada juga serangan parsial kompleks yang tidak disertai otomatisme.

d)  Rata-rata serangan berlangsung selama satu sampai tiga menit. Sesudah serangan penderita tampak bingung, mengantuk, mengalami perubahan perilaku, dan lupa akan apa yang terjadi.

2)  Serangan epilepsi umum

Harsono (2001) menjelaskan bahwa serangan dimulai dengan serangan berupa hilangnya kesadaran, kemudian diikuti gejala lainnya yang bervariasi. Jenis-jenis serangan epilepsi umum dibedakan oleh ada atau tidak adanya aktivitas motorik yang khas.

a)  Serangan tonik-klonik umum

Pada beberapa penderita serangan didahului oleh aura (tanda sensorik) yang berbentuk halusinasi visual, penciuman, pendengaran, dan sensorik lainnya. Hilangnya kesadaran segera diikuti oleh jatuhnya ke tanah atau ke lantai. Pada tahap tonik, otot menjadi kaku dan kontraksi diafragma serta otot-otot dada dapat menimbulkan timbulnya epileptic cry.bola mata terputar ke atas atau melirik ke satu sisi dan lidah dapat tergigit. Rigiditas segera berganti menjadi gerakan klonik secara sinkron yang melibatkan kepala, wajah, lengan dan tungkai. Dapat pula terjadi perubahan otonomik berupa kenaikan tekanan darah, denyut jantung dan tekanan vesika urinaria, pupil menjadi midriasis, kulit sionatik dan berkeringat serta terjadi hipersalivasi (Harsono, 2001).

Serangan tonik-klonik umum dapat terjadi pada segala usia, namun paling sering terjadi pada umur 0-20 tahun. Serangan berlangsung selama 2-5 menit. Pascaserangan, penderita tampak mengantuk sekali selama beberapa menit sampai beberapa jam. Setelah sadar pernapasan kembali normal secara berangsur-angsur, penderita mengalami amnesia parsial dan kadang-kadang ada keluhan nyeri kepala. Penderita serangan tonik-klonik umum primer maka serangan epilepsi biasanya muncul pada saat tidak tidur (Harsono, 2001).

b)  Absence (petit mal)

Serangan terjadi pada anak usia 4-14 tahun dan sering kali menghilang pada umur 18 tahun. Serangan berupa mata terbelalak dalam waktu singkat disertai gangguan kesadaran, mulai tanpa tanda peringatan dan berhenti secara mendadak dan kemudian penderita sadar kembali seperti sediakala dengan perhatian yang penuh. Pada jenis absence sederhana penderita hanya tampak seperti melamun sejenak. Pada serangan absence kompleks maka mata menatap jauh dan kosong disertai gerakan otomatik sederhana misalnya mata berkedip-kedip, kepala tertunduk atau gerakan mengunyah (Harsono, 2001).

Sejumlah penderita menunjukkan gejala-gejala yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Ada penderita yang mengalami serangan klonik ringan pada sudut mulut, mata anggota gerak. Apabila penderita sedang memegang gelas berisi air maka air akan tumpah secara mendadak (Harsono, 2001). Serangan berlangsung 10-45 detik dan penderita tidak menyadari apa yang sedang terjadi (Harsono, 2001).

Epiepsi absence atau petit mal ditandai dengan hilangnya kesadaran yang berlangsung singkat, jarang melampaui beberapa detik. Misalnya, penderita dapat berhenti bicara sejenak, pandangan kosong atau mata berkedip-kedip dengan cepat. Penderita mungkin mendapat satu atau dua kali serangan dalam sebulan, atau mungkin selama  beberapa kali sehari. Serangan absence hampir selalu terjadi pada ana-anak, awitan sangat jarang pada usia diatas 20 tahun. Dapat hilang sesudah anak mencapai usia remaja, atau mungkin dapat pula diganti oleh epilepsi jenis lainnya, terutama jenis tonik-klonik (Price dan Wilson, 1995).

c)  Absence tidak khas

Awitan pada usia 1-7 tahun. Gejala hampir sama dengan absence yang khas hanya saja penurunan kesadaran tidak dalam, serangan muncul dan menghilang secara bertahap. Sementara itu komponen tonik, klonik, dan atonik nampak lebih jelas. Epilepsi jenis ebsence tidak khas sering kali berhubungan dengan retardasi mental atau kerusakan susunan saraf pusat (Harsono, 2001).

d)  Serangan atonik

Serangan biasanya muncul oada usia 2-5 tahun dan berlangsung 10-60 detik dan ditandai dengan hilangnya kontrol postur tubuh sehingga kepala menunduk dan penderita jatuh ke lantai, tidak kehilangan kesadaran (Harsono, 2001).

e)  Serangan mioklonik

Serangan bersifat mendadak, singkat, berupa kedutan otot. Serangan sering muncul pada saat penderita jatuh tertidur. Mioklonus epileptik menyebabkan sentakan sinkron dan bilateral pada leher, bahu, lengan atas, tubuh dan tungkai atas (Harsono, 2001).

f)   Serangan tonik

Dicirikan oleh pengakuan bilateral secara mendadak pada tubuh, lengan atau tungkai. Serangan berlangsung kurang dari 20 detik dan muncul lebih sering pada saat penderita tidur. Dijumpai terutama ada anak berusia muda, biasanya berhubungan dengan gangguan metabolik atau defisit neurologis. Sering kali muncul bersama-sama dengan serangan lainnya maupun berbagai sindrom epilepsi. serangan berlangsung selama 10-60 detik, singkat dan dapat diikuti oleh gejala pascaserangan (Harsono, 2001).

d. Penyebab epilepsi

Harsono (2001) menjelaskan bahwa apabila ditrelusuri lebih dalam maka faktor penyebab epilepsi sangat banyak, dapat bersifat tunggal maupun dalam bentuk kombinasi. Upaya untuk mencari faktor penyebab antara lain dengan pemeriksaan darah, pemeriksaan cairan serebrospinal, CT Scan, dan MRI. Berikut adalah daftar penyebab epilepsi (Harsono, 2001):

1)  Idiopatik (penyebab tidak diketahui). Terjadi pada usia 5-20 tahun, tidak ada kelainan neurologis serta ada riwayat epilepsi pada keluarga.

2)  Efek kongenital dan cedera perinatal. Munculnya serangan pada usia bayi.

3)  Kelainan metabolik. Terjadi pada usia berapa saja, komplikasi dari diabetes melitus, ketidakseimbangan elektrolit, gagal ginjal, uremia, defisiensi nutrisi, intoksikasi alkohol atau obat-obatan.

4)  Trauma kepala. Terjadi pada usia berapa saja, terutama pada dewasa muda.

5)  Tumor dan proses desak ruang lainnya. Terjadi pada usia berapa saja terutama usia 30 tahun, pada awalnya berupa serangan parsial kemudian berkembang menjadi serangan umum tonik-klonik.

6)  Gangguan kardiovaskular. Penyebab terjadinya gangguan kardiovaskulkar adalah stroke dan pada lanjut usia.

7)  Infeksi. Terjadi pada usia berapa saja dan bersifat reversible serta dalam bentuk ensefalitis, meningitis dan abses. Selain hal tersebut, juga merupakan akibat dari infeksi berat di bagian lain, infeksi kronis, dan komplikasi dari AIDS.

8)  Penyakit degeneratif. Terjadi pada lanjut usia, atau pada penderita demensia alzheimer.

e. Pemicu serangan epilepsi

Lumbantobing (2006) menguraikan beberapa keadaan yang dapat mencetuskan serangan epilepsi, antara lain:

1)  Gangguan emosional

Telah lama diketahui bahwa gangguan emosional dapat memperbanyak atau meningkatkan jumlah serangan epilepsi. keadaan frustasi, tegang, cemas, takut, eksitasi yang hebat dapat mencetuskan serangan epilepsi. keadaan demikian sering dijumpai pada penderita epilepsi yang remaja atau dewasa muda. Gangguan emosional dapat meningkatkan frekuensi semua jenis epilepsi.

2)  Tidur

Tidur merupakan faktor pencetus pada banyak penderita epilepsi. ada penderita yang serangannya lebih sering terjadi sewaktu  tertidur. Ada pula penderita yang serangannya terjadi hanya sewaktu tidur, dan tidak pernah bila penderita sedang bangun. Pada penderita yang serangannya dicetuskan oleh tidur, sering terjadi pada saat baru tertidur, sewaktu mulai tertidur atau sewaktu akan terbangun.

3)  Haid

Telah lama diketahui bahwa masa haid dapat mencetuskan serangan epilepsi pada banyak penderita wanita. Ada ilmuwan yang menduga bahwa tertahannya cairan tubuh sewaktu haid memegang peranan dalam memicu serangan epilepsi. penelitian lain menduga bahwa perubahan keseimbangan hormon semasa haid ikut berperan dalam mencetuskan serangan.

Serangan epilepsi dapat meningkat pada saat dari siklus haid namun tercetusnya serangan lebih sering terjadi beberapa hari sebelum mulainya haid. Banyak penderita wanita yang pertama kali mendapat serangan epilepsi pada usia 11-13 tahun waktu pertama kali mendapat haid. Ada penderita wanita yang hanya mendapat serangan sehubungan dengan waktu haid dan tidak pernah terjadi serangan di luar waktu tersebut.

4)  Demam

Pengaruh demam pada penderita epilepsi berbeda-beda. Ada penderita yang serangannya meningkat waktu demam, ada penderita yang serangannya malah berkurang, dan ada pula penderita yang serangan epilepsinya tidak dipengaruhi oleh keadaan demam.

5)  Hiperventilasi dan stimuli cahaya

Cahaya yang berkedap-kedip dapat mencetuskan serangan epilepsi pada penderita tertentu. Penderita demikian dapat mengalami serangan bila menyetel televisi yang memberikan sinar yang berkedap-kedip, dan bila menonton televisi hendaknya ruangan cukup terang agar kontras cahaya tidak terllalu kuat. Penderita juga harus memandang televisi dari jarak yang cukup jauh.

2. Wanita penderita epilepsi

Lumbantobing (2006) menjelaskan bahwa individu dianggap menderita epilepsi bila telah mengalami lebih dari satu kali bangkitan epilepsi (serangan kejang atau serangan epilepsi) secara spontan atau oleh gangguan yang ringan, sehingga yang dimaksud dengan wanita penderita epilepsi dalam penelitian adalah wanita yang telah mengalami lebih dari satu kali bangkitan epilepsi atau serangan epilepsi baik epilepsi primer (karena keturunan dan terjadi sejak bayi) maupun epilepsi sekunder (bukan turunan) dan epilepsi parsial maupun epilepsi fokal.

C. Coping Stress pada Wanita Penderita Epilepsi

Penderita epilepsi mengalami tekanan eksternal dan tekanan internal yang kemungkinan akan memicu munculnya kecemasan dalam diri penderita epilepsi tersebut. Tekanan eksternalnya disebabkan oleh adanya pandangan masyarakat awam yang keliru tentang penyakit epilepsi, dimana masyarakat menganggap bahwa penyakit epilepsi merupakan penyakit akibat adanya gangguan di otak atau disebabkan oleh kekuatan supranatural, dan tiap jenis serangan dikaitkan dengan nama roh atau setan sehingga terapinya juga didasarkan atas kekuatan spriritual. Masyarakat juga menganggap epilepsi sebagai penyakit yang memalukan atau menakutkan karena dianggap menular melalui buih yang keluar dari mulut penderita yang terkena serangan (Harsono, 2004).

Tekanan internal yang dihadapi oleh penderita epilepsi adalah perasaan yang malu, tertekan dan merasa takut akan kumatnya gejala epilepsi yang diderita di tempat umum seperti yang dipaparkan oleh Harry (2007) bahwa penderita epilepsi biasanya takut tidak bisa sembuh, dan takut kumat di tempat umum lalu menjadi tontonan yang memalukan bagi orang-orang, sedangkan tekanan eksternalnya adalah anggapan masyarakat yang beraneka ragam terhadap penderita epilepsi.

Arifin (2005) menambahkan bahwa penderita epilepsi takut jika sepanjang hidupnya akan menderita epilepsi, penderita juga takut mengemudi, takut untuk berenang, dan mendapat serangan kejang di depan umum serta adanya keyakinan penderita bahwa kelak penderita akan mati mendadak karena epilepsinya. Hal tersebut senada dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lazuardi tahun 1994 pada 100 penderita di Klinik Epilepsi RSUPN Cipto Mangunkusumo bahwa 64% penderita epilepsi merasa malu, 45% merasa rendah diri, 42% meresa depresi, 26% tanpa pekerjaan, 19% mengalami isolasi sosial, 12% keluar dari sekolah, 7% cemas dan 6% yang bercerai.

Penelitian yang lain dilakukan oleh Mina N Astejada, Roland Dominic G Jamora, dan Lourdes K Ledesma (Anonim, 2008) di Pilipina dengan menggunakan Hospital Anxiety and Depression Scele (HADS) yang menunjukkan bahwa 645 pasien epilepsi mengalami kecemasan sedangkan 51% dari pasien epilepsi tersebut juga mengalami depresi.

Berdasarkan pemaparan di atas maka peneliti menganggap bahwa dibutuhkan strategi coping stress pada penderita epilepsi sebagai usaha untuk menguasai, mengurangi, ataupun usaha yang memungkinkan penderita epilepsi untuk bertoleransi dan beradaptasi terhadap masalah yang muncul dalam hidupnya, sehingga penderita epilepsi mampu menjalani hidup normal.

Coping stress bukan merupakan suatu usaha untuk menguasai seluruh situasi menekan, karena tidak semua situasi tersebut dapat benar-benar dikuasai. Maka, coping yang efektif adalah coping yang membantu seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan dan tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya (Lazarus dan Folkman, 1984).

Coping stress tersebut terbagi menjadi dua yaitu coping stress problem focused dan coping stress emotion focused. Individu cenderung untuk menggunakan problem-focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurut individu tersebut dapat dikontrolnya. Sebaliknya, individu cenderung menggunakan emotion focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurutnya sulit untuk dikontrol (Lazarus dan Folkman, 1984). Terkadang individu dapat menggunakan kedua strategi tersebut secara bersamaan, namun tidak semua strategi coping pasti digunakan oleh individu (Taylor, 1991).

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan

Penelitian yang akan dilaksanakan menggunakan penelitian kualitatif karena penelitian bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang fenomena kecemasan pada wanita penderita epilepsi yang disebabkan oleh tekanan internal dan tekanan eksternal yang kemudian penderita mengatasi tekanan tersebut dengan menggunakan strategi coping stress. Sarwono (2005) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan  kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif, lebih lanjut, mementingkan pada proses dibandingkan dengan hasil akhir; oleh karena itu urut-urutan kegiatan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Fenomenologi. Creswell (1998) menyatakan bahwa pendekatan fenomenologi berusaha mendeskripsikan tentang pengalaman hidup dari beberapa individu mengenai suatu fenomena atau kejadian. Fenomena yang dimaksud dalam penelitian tersebut adalah kecemasan yang dialami wanita penderita epilepsi yang disebabkan oleh tekanan eksternal dan tekanan internal. Tekanan tersebut bisa menjadi pemicu munculnya kecemasan kemudian berdampak pada munculnya serangan epilepsi atau serangan kejang, oleh karena itu penderita epilepsi membutuhkan strategi coping stress dalam mengatasi tekanan-tekanan yang ada untuk mencegah timbulnya kecemasan.

B. Batasan Istilah

  1. Coping stress adalah suatu keterampilan menghadapi masalah berupa tekanan yang disebabkan oleh lingkungan internal (pada diri individu itu sendiri) dan eksternal (masyarakat, keluarga, dan lain-lain) sebagai cara individu mengolah atau beradaptasi terhadap stimulus stressor sehingga apakah  individu merasa cemas atau tidak.
  2. Wanita penderita epilepsi adalah wanita yang menderita epilepsi baik itu epilepsi primer maupun sekunder dan epilepsi parsial atau fokal.

C. Unit Analisis

Unit analisis dalam penelitian tersebut adalah wanita yang menderita epilepsi baik epilepsi primer maupun sekunder dan epilepsi parsial atau fokal.

Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dan untuk menambah subjek penelitian dapat menggunakan teknik snow ball sampling, yaitu memperoleh responden melalui referensi dari responden sebelumnya. Menurut Sugiyono (2005), snow ball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data yang pada awalnya jumlahnya sedikit dan lama-lama menjadi besar. Ahmadi (2005) juga menjelaskan bahwa snow ball sampling merupakan teknik multitahap yang dimulai dengan satu atau sedikit orang kemudian menyebar pada basis-basis hubungan dari pihak pertama. Adapun karakteristik subjek yaitu:

  1. Penderita epilepsi berjenis kelamin perempuan.
  2. Penderita epilepsi yang berusia 12-50 tahun dengan pertimbangan bahwa penderita epilepsi usia tersebut sudah mampu memberikan informasi dengan baik (mampu diwawancarai).
  3. Bersedia untuk berpartisipasi dalam proses wawancara dan bersedia menandatangani pernyataan kesediaan menjadi responden penelitian.
  4. Membolehkan peneliti untuk merekam data dan mempresentasikan data yang diperoleh dalam laporan penelitian.

D. Deskripsi Setting Penelitian

Lokasi Penelitian dilakukan di tempat-tempat yang memungkinkan untuk dilakukan penelitian seperti rumah, kantor, kampus, atau tempat lainnya. Penelitian dilakukan dalam natural setting karena Creswell (1998) menyatakan bahwa dalam studi fenomenologi, seorang individu tidak terpisahkan dalam lingkungan sekitarnya, sehingga tidak ada batasan dalam memahami fenomena yang dikaji.

E. Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah:

  1. Wawancara mendalam. Wawancara mendalam dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dari subjek penelitian.
  2. Observasi, adalah teknik yang paling lazim digunakan dalam penelitian kualitatif, dimana teknik tersebut memerlukan pengamatan secara cermat terhadap perilaku subjek baik dalam suasana formal maupun informal  (Danim, 2002). Observasi juga merupakan teknik pengumpulan data yang menekankan pada pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap fenomena yang diteliti (Hadi, 2004). Adapun hal yang ingin diteliti oleh peneliti dengan observasi adalah bagaimana subjek memandang konsep hidupnya dan menjalankan organisasi.
  3. Analisis dokumentasi, adalah teknik pengumpulan data melalui dokumen-dokumen yang ada.

F. Analisis Data

Analisis data secara umum dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan (Sugiono, 2005). Adapun proses analisis data yang dilakukan dalam penelitian tersebut, adalah sebagai berikut:

  1. Analisis sebelum di lapangan, yakni peneliti melakukan analisis terhadap data hasil studi pendahuluan atau data sekunder yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian, dalam hal tersebut fokus penelitiannya masih bersifat sementara dan akan berkembang selama peneliti berada di lapangan.
  2. Analisis selama di lapangan, terdiri atas 3 langkah meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
    1. Reduksi data, yang berarti merangkum data, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, kemudian menentukan tema  dan polanya agar  diperoleh  gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.
    2. Penyajian data, yakni menyajikan data yang telah tersedia dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, dan sejenisnya, sehingga memudahkan peneliti untuk memahami apa yang terjadi dan merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.
    3. Penarikan kesimpulan, yakni langkah terakhir berupaya penarikan kesimpulan terhadap data-data yang telah dikumpulkan yang dapat menjawab rumusan masalah penelitian.

Creswell (1998) mengemukakan beberapa tahapan analisis data dalam sebuah penelitian yang menggunakan pendekatan fenomenologi sebagai berikut:

  1. Membaca seluruh data yang berhasil didapatkan selama di lapangan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai makna responden dari fenomena yang diteliti.
  2. Peneliti kemudian berusaha menemukan “pernyataan-pernyataan” mengenai bagaimana responden memaknai pengalaman terhadap sebuah fenomena. Pernyataan-pernyataan responden yang dinilai penting karena berkaitan dengan fenomena yang diteliti kemudian dikelompokkan secara tersendiri dan diurai secara mendetail sehingga peneliti mendapatkan pemahaman mengenai makna pernyataan responden terkait dengan fenomena yang diteliti. Proses tersebut disebut sebagai horizonalisation of the data.
  3. Pernyataan-pernyataan yang telah di horisonalisasikan kemudian dikelompokkan ke dalam satuan-satuan makna (meaning units) dan peneliti kemudian mencatat satuan-satuan makna yang terbentuk dari pernyataan responden, kemudian peneliti berusaha menjelaskan mengneai fenomena yang diteliti secara tekstural (textural description) dan menyusun makna pengalaman mengenai fenomena tersebut.
  4. Peneliti kemudian menyajikan penjelasan yang dirumuskan dari unit-unit makna yang dibentuk dan menggunakan imaginative variation atau structural description untuk melihat segala makna-makna yang mungkin belum terklasifikasikan dalam tema yang ditemukan peneliti, kemudian mengembangkan penjelasan secara menyeluruh mengenai bagaimana fenomena yang diteliti telah dialami dan dimaknai oleh responden.
  5. Peneliti kemudian merumuskan sebuah gambaran yang tuntas mengenai fenomena yang diteliti, yang menjelaskan secara terperinci esensi atau struktur fenomena yang diteliti.

Dalam proses validasi, peneliti bertanya kembali kepada responden mengenai gambaran makna yang telah ditemukan peneliti apakah sesuai dengan yang dirasakan atau dipahami oleh responden.

Langkah analisis data dalam pendekatan fenomenologi bisa dirumuskan sebagai berikut:

Tabel 2: Tahapan Analisis Data

No Analisis Data dan Representasi Pendekatan Fenomenologi
1 Data Managing Mengumpulkan dan mengorganisasikan semua data yang dikumpulkan
2 Reading, Memoing Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean pola data
3 Describing Menjelaskan makna dari pengalaman mengenai fenomena yang diteliti bagi peneliti
4 Classifying Menemukan dan mengelompokkan makna yang dirasakan oleh responden, menyusun makna-makna tersebut dalam kelompok unit makna
5 Interpreting Peneliti mengembangkan penjelasan tekstural mengenai fenomena yang terjadi pada responden, kemudian peneliti mengembangkan penjelasan struktural yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi pada responden, setelah itu peneliti menjelaskan secara keseluruhan mengenai fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut.
6 Representing, Visualizing Memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut

G. Keabsahan Data

Penelitian kualitatif menggunakan keabsahan data sebagai standar untuk melihat derajat kepercayaan dan kebenaran hasil penelitian. Beberapa kriteria keabsahan data menurut Moleong (2007) adalah:

  1. Kepercayaan (credibility)

Untuk mendapatkan derajat kepercayaan, dapat dilakukan dengan cara triangulasi (tiga aspek triangulasi: waktu, individu dan tempat) yaitu dengan mengecek kebenaran data dan mencari informasi tambahan dari sumber-sumber lain, serta melakukan diskusi dengan individu lain yang tidak ikut serta dalam penelitian untuk mendapatkan hasil yang lebih objektif.

  1. Keteralihan (transferability)

Keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesamaan antara konteks pengirim dan penerima. Untuk itu peneliti akan mencari dan mengumpulkan kejadian empiris tentang kesamaan konteks. Peneliti menyajikan data dengan lebih rinci dan deskriptif untuk melakukan pengalihan.

  1. Kebergantungan (dependability)

Kriterium kebergantungan merupakan subtitusi istilah reliabilitas dalam penelitian yang nonkualitatif. Teknik tersebut dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat, yaitu rekan yang memiliki pengetahuan umum yang sama tentang penelitian sehingga dapat me-review persepsi, pandangan dan analisis yang sedang dilakukan.

  1. Kepastian (confirmability)

Kriterium kepastian berasal dari konsep objektivitas menurut teknik  nonkualitatif. Objektif berarti dapat dipercaya, factual, dan dapat dipastikan. Untuk mencapai objektivitas, peneliti akan membicarakan hasil penelitian dengan individu yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam penelitian (Dewi, 2005).


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, R. 2005. Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif. Malang: UM Press.

Anonim. 2008. Abtraksi Epilepsi 02. (online). (http://manadocity.blogspot.com/2008/03/abstraksi-epilepsi-02.html, diakses 17 Januari 2009).

Arifin, MT. 2005. Epilepsi; Bagaimana Jalan Keluarnya (Online). (http://www.cmha.ca/english/epilepsi/ diakses 10 Oktober 2009).

Chaplin, J.P. 2002. Kamus Lengkap Psiklogi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Creswell, J.W . 1998. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing among Five Traditions. California: Sage Publications, Inc.

Dewi, E.M.P. 2005. Diktat Penelitian Kualitatif. Universitas Negeri Makassar: Tidak Diterbitkan

Departemen Pendidikan & Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Grace, M., & Triyani, J.R. 2006. Hubungan antara Strategi Coping stress Problem Focused dengan Produktivitas Medical Representative pada Perusahaan Farmasi XY, (online). (http://lib.atmajaya.ac.id/default.asp?tabID, diakses 17 Januari 2009).

Hadi, S. 2004. Metodologi Research Jilid 2. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Harry, M. 2007. Anakku Menderita Epilepsi, (online). (http://keluargabahagia.epajak.org/maya-harry-psi/anakku-menderita-epilepsi-65, diakses 17 Januari 2009).

Harsono. 2001. Epilepsi. Edisi Pertama. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

_________. 2004. Penyakit Epilepsi Bukan Pengaruh Setan, (online). (http://www.freelists.org/post/ppi/ppindia-Penyakit-Epilepsi-bukan-Pengaruh-Setan, diakses 17 Januari 2009).

_________. 2007. Kapita Selekta Neurologi. Edisi kedua. Yokyakarta: Gadjah Mada University Press.

Kartono, K. 2003. Patologi Sosial. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.

lazarus, R. & Folkman, S. 1984. Stress, Appraisal, and Coping. New York: Springer.

Leny. 2009. Obat untuk Epilepsi pada Bayi Umur 3,5 Bulan. Yang Terbaik Apa Ya? Alternatif Apa Medis? (Online). (http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid, diakses 17 Januari 2009).

Levy, MR., Dignan, M., & Janet, H.S.1984. Life and Health. New York: Random House New York.

Lumbantobing, S.M. Epilepsi (Ayan). Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Maramis. 1994. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.

Mardjono, M. 1979. Beberapa Faktor yang Mendasari Serangan Epilepsi (Online). (http://www.scribd.com/doc/7493157/Cdk-016-Penyakit-Syaraf, diakses 16 Oktober 2009.

Marpaung, V. 2003. Depresi pada Penderita Epilepsi Umum dengan Kejang Tonik Klonik dan Epilepsi Parsial Sederhana (Online). (http://www.scribd.com/doc/1533825/Psikiatri-Vera, diakses 16 Oktober 2009.

Moleong, L. J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Patnani, M., Ekowarni, E., & Etsem , MB. 2002. Kekerasan Fisik terhadap Anak dan Strategi Coping yang Dikembangkan Anak. Indegenous. VI (1):39-50.

Pitaloka R. R. A. 2003. Stres Belailah Kucing, (online). (http:// www.e-psikologi.com/masalah/190105.htm, diakses tanggal 26 September 2006).

Price, S.A., & Wilson L.M. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta: EGC.

Prokop. CK, dkk.1991. health Psychology, Clinical Methods and Research. New York: Mac Milan Publishing Company.

Pusponegoro, H.S. 2009. Anak Menderita Epilepsi (Online). (http://bima.ipb.ac.id/~anita/anak_kena_epilepsi.htm, diaskes 16 Oktober 2009).

Sarafino, EP. 1998. Health Psychology, Biopsychososial Interaction. New York: John Willey and Son Inc.

Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

________. 2005. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Taylor, S.E. 1995. Health Psychology. New York: McGraw-Hill.

Wangsadjaja, R. 2008. Stres (Online). (http://rumahbelajarpsikologi.com/indeks.php/stres.html. diakses 8 Desember 2009).