Pengertian Kebermaknaan Hidup

Kebermaknaan hidup adalah seberapa tinggi individu menilai hidupnya bermaksud atau berarti (Crumbaugh dalam Aisyah, 2007). Tasmara (1999) mengemukakan bahwa kebermaknaan hidup merupakan seluruh keyakinan serta cita-cita yang paling mulia yang dimiliki seseorang.

Nasr (2002), “makna” berasal dari kata Persia yakni ma’nawiyah, yang mengandung konotasi kebatinan atau sesuatu “yang hakiki” lawan dari “kasat mata”. Jadi makna hidup merupakan sesuatu yang bersifat subjektif antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Frankl (2004) bahwa makna hidup bisa berbeda antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Tasmara(1999) mengemukakan bahwa untuk mencapai kebermaknaan hidup, manusia tidak harus terperangkap dalam situasi melankolis atau terpuruk dalam kesedihan, karena sebenarnya beragam aspek kehidupan senantiasa menawarkan makna yang harus dipenuhi.

Ancok (Aisyah, 2007) menyatakan bahwa Kebermaknaan hidup adalah merupakan sebuah motivasi yang kuat dan mendorong orang untuk melakukan sesuatu kegiatan yang berguna. Hidup yang berguna adalah hidup yang terus memberi makna pada diri sendiri dan orang lain.

Makna hidup bersifat personal, spesifik, absolute, dan universal. Bagi kalangan yang kurang menghargai nilai-nilai keagamaan, alam, semesta, pandangan filsafat dan ideologi  tertentu dianggap memiliki nilai universal dan dijadikan sumber makna hidupnya. Bagi kalangan yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan agama merupakan sumber makna hidupnya (Bastaman, 1996).

Makna hidup adalah sesuatu yang oleh seseorang dirasakan penting, berharga dan diyakini sebagai sesuatu yang benar serta dapat menjadi tujuan hidupnya. Makna hidup dapat berupa cita-cita untuk kelak menjadi orang yang sukes dan adanya keinginan untuk membuat seseorang dapat bertahan hidup (frank dalam Aisyah, 2007). Kebermaknaan hidup akan dimiliki seseorang jika dia dapat mengetahui apa makna dan tujuan hidupnya. Frankl (2003) juga menyebutkan bahwa makna hidup muncul ketika individu melalui pematangan spiritual, yaitu pada masa pubertas.

Frankl (Aisyah, 2007) mengemukakan bahwa keberadaan manusia pada hakikatnya adalah transedensi diri dan bukan merupakan perwujudan aktualisasi diri semata. Perhatian dan kepentingan utama manusia terletak pada aktualisasi diri, tetapi justru pada realisasi nilai-nilai dan pemenuhan makna dalam kehidupannya, dan secara hakiki manusia mampu menemukan makna hidup melalui penghayatan agama.

 

Aspek kebermaknaan hidup

Frankl (Bastaman, 1996) menyebutkan tiga aspek dari kebermaknaan hidup yang saling terkait satu sama lainnya, yaitu:

  • Kebebasan berkehendak

Kebebasan yang dimaksud tidak bersifat mutlak dan tidak terbatas. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan untuk menentukan sikap terhadap kondisi biologis, psikologis, sosiokultural dan kesejarahannya, namun harus diimbangi dengan tanggung jawab agar tidak berkembang menjadi kesewenangan. Kualitas diatas menunjukkan bahwa manusia adalah individu yang dapat mengambil jarak dari kondisi dari luar dirinya (sosiokultural dan kesejarahannya) dan kondisi yang dating dari dalam dirinya (biologis dan psikologis).

  • Kehendak hidup bermakna

Kehendak untuk hidup bermakna merupakan keinginan manusia untuk menjadi orang yang berguna dan berharga bagi dirinya, keluarga, dan lingkungan sekitarnya yang mampu memotivasi manusia untuk bekerja, berkarya dan melakukan kegiatan-kegiatan penting lainnya agar hidupnya berharga dan dihayati secara bermakna, hingga akhirnya akan menimbulkan kebahagiaan dan kepuasan dalam menjalani kehidupan

  • Makna hidup

Makna hidup merupakan sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Makna hidup tidak dapat diberikan oleh siapapun, melainkan harus dicari dan ditemukan sendiri. Dalam makna hidup terkandung pula tujuan hidup, yaitu hal-hal yang ingin dicapai dan dipenuhi dalam hidup.

 

Ciri-ciri kebermaknaan hidup

Frankl (Bastaman, 2005) mengemukakan bahwa orang yang menghayati hidupnya bermakna menunjukkan kehidupan yang mereka jalani penuh dengan semangat, optimis, tujuan hidup jelas, kegiatan yang mereka lakukan lebih terarah dan lebih disadari, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, luwes dalam bergaul tetapi tidak terbawa atau kehilangan identitas diri, tabah apabila dihadapkan pada suatu penderitaan dan menyadari bahwa ada hikmah di balik penderitaan serta mencintai dan menerima cinta.

Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh Frankl di atas, maka dapat disimpulkan ciri-ciri orang yang menemukan kebermaknaan hidupnya sebagai berikut:

  1. Kehidupannya penuh semangat atau optimis
  2. Memiliki tujuan hidup jelas yang berorientasi pada masa depan
  3. Memiliki kebebasan memilih tindakan mereka
  4. Bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya dan control diri yang sadar
  5. Kegiatan yang mereka lakukan lebih terarah
  6. Tidak ditentukan oleh kekuatan-kekuatan di luar dirinya
  7. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan
  8. Luwes dalam bergaul tetapi tidak sampai terbawa-bawa atau kehilangan identitas diri
  9. Dapat menemukan arti kehidupan yang cocok
  10. Tabah apabila dihadapkan pada suatu penderitaan dan menyadari bahwa ada hikmah dibalik penderitaan
  11. Komitmen terhadap pekerjaan
  12. Mampu memberi dan menerima cinta
  13. Mampu mengungkapkan nilai-nilai daya cipta, nilai-nilai pengalaman atau nilai-nilai sikap

Frankl (Bastaman, 2005) menjelaskan bahwa hidup tidak bermakna bukanlah suatu penyakit, melainkan semacam kondisi kehidupan manusia yang dapat menjelmakan gangguan, antara lain:

  1. Neurosis, ditandai dengan gejala bosan, hampa, putus asa, kehilangan minat dan inisiatif, kehilangan arti dan tujuan hidup, gairah kerja menurun.
  2. Sikap Totaliter ditandai dengan senantiasa berbuat sesuatukarena orang-orang lain mengharapkannya berbuat seperti itu dan mereka bersedia menaatinya.
  3. Gaya hidup konformitas, ditandai oleh perbuatan yang semata-mata karena orang lain melakukannya, mudah sekali terbawaarus situasi.

 

Faktor yang mempengaruhi makna hidup

Bastaman (2005) memodifikasi metode untuk menemukan makna hidup yang dikembangkan oleh Crumbaugh menjadi “Panca Cara Temukan Makna” yang digunakan dalam menyusun program pelatihan melatih diri mengembangkan pribadi, yaitu:

  1. Pemahaman pribadi, dengan mengenali kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan diri secara objektif, baik yang potensial maupun yang sudah teraktualisasi. Dengan demikian akan memperjelas gambaran mengenai diri sendiri yang diistilahkan dengan konsep diri.  Sebagaimana yang dikemukakan Calhoun & Acocella (1990) bahwa konsep diri merupakan gambaran mengenai diri sendiri yang terdiri dari pengetahuan tentang diri, pengharapan bagi diri dan penilaian terhadap diri sendiri.
  2. Bertindak positif, dengan cara membiasakan diri melakukan tindakan-tindakan yang baik dan bermanfaat sehingga akan member dampak positif pula terhadap perkembangan pribadi dan kehidupan social.
  3. Pengakraban hubungan, dengan membina hubungan yang akrab dengan orang lain sehingga dihayati sebagai hubungan yang dekat, mendalam, saling percaya dan saling memahami.
  4. Pendalaman tri nilai, dengan berusaha memahami dan memenuhi tiga macam nilai hidup, yaitu:
    • Nilai-nilai Kreatif (creative Value)

Bekerja dan berkarya serta melaksanakan tugas dengan keterlibatan dan tanggung jawab penuh pada pekerjaan. Sebenarnya pekerjaan hanya merupakan sarana yang dapat memberikan kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan makna hidup. Makna hidup bukan terletak pada pekerjaan, melainkan sikap dan cara kerja yang mencerminkan keterlibatan pribadi pada pekerjaan. Frankl (2004) mengatakan bahwa yang terpenting dalam aktivitas kerja bukan lingkup atau luasnya pekerjaan, melainkan bagaimana seseorang bekerja sehingga orang tersebut mampu mengisi penuh lingkaran aktivitasnya. Berbuat kebajikan dan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi lingkungan termasuk usaha merealisasi nilai-nilai kreatif.

    • Nilai-nilai penghayatan (Experiental Value)

Nilai-nilai penghayatan mencoba memahami, meyakini dan menghayati berbagai nilai yang ada dalam kehidupan, seperti kebenaran, keindahan, kasih saying, kebajikan dan keimanan. Frankl (2004) juga mengemukakan kegiatan yang berkaitan dengan nilai penghayatan, yakni meyakini kebenaran dalam kitab suci, merasakan keakraban dalam keluarga, menjalankan ritual keagamaan. Nilai-nilai penghayatan ini akan menimbulkan rasa bahagia, kepuasan, ketentraman dan perasaan diri bermakna.

    • Nilai-nilai Bersikap (Attitudinal Value)

Setiap perjalanan hidup individu, pasti mendapat keadaan yang menyedihkan, kondisi-kondisi tragis atau peristiwa mengenaskan. Esensi nilai bersikap terletak pada cara seseorang yang dengan ikhlas dan tawakkal menyerahkan diri pada keadaan yang tidak dapat dihindari. Dalam keadaan ini hanya sikap yang dapat diubah dan bukan peristiwa itu sendir. Dengan mengambil sikap yang tepat, maka beban pengalaman-pengalaman tragis yang dialami berkurang, bahkan mungkin peristiwa tersebut memberikan pelajaran berharga dan menimbulkan makna yang berarti bagi individu yang bersangkutan.

5. Ibadah

dengan melaksanakan perintah Tuhan dan mencegah diri dari melakukan hal-hal yang dilarang-Nya menurut ketentuan agama. Ibadah yang dilaksanakan dengan khusyu’ dapat menimbulkan perasaan tentram, mantap dan tabah. Manusia secara hakiki mampu menemukan makna hidupnya dengan mendekatkan diri pada agama serta mendapakan ketenangan menghadapi persoalan-persoalan hidup dengan lebih bijaksana.

 

Sumber:

Aisyah. 2007. Hubungan antara religiusitas dengan kebermaknaan hidup pada mahasiswa teknik Universitas Negeri Makassar. Skripsi (Tidak diterbitkan). Makassar: Fakultas Psikologi UNM.

Bastaman, H.D. 1996. Meraih hidup bermakna: Kisah pribadi dengan pengalaman tragis. Jakarta: Paramadina.

——————–,2005. Integrasi  Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Yayasan Insan Kamil.

Frankl, V.E. 2003. Logoterapi: Terapi Psikologi Melalui Pemaknaan Eksistensial. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

————-2004. Man’s Search For Meaning. Mencari Makna Hidup: Hakikat Kehidupan, makna cinta, makna penderitaan. Bandung: Nuansa.

Tasmara, T. 1999. Dimensi Doa dan Dzikir. Menyelami Samudra Qalbu Mengisi Makna Hidup. Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa.